WHO Sebut Jabar Provinsi Terendah Vaksinasi Lansia, Ini Kata Syahrir

WHO Sebut Jabar Provinsi Terendah Vaksinasi Lansia, Ini Kata Syahrir
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, S.E.,M.Ipol

WJtoday, Bandung - Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Jawa Barat menjadi provinsi dengan tingkat vaksinasi terendah terhadap  kelompok lanjut usia atau lansia (60 tahun atas).

Angka itu tercatat per 5 Juli dalam laporan WHO mengenai situasi pandemi Covid-19 yang dirilis pada Rabu (7/7).

"Provinsi dengan jumlah tertinggi yang tidak divaksinasi lansia adalah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang merupakan provinsi dengan jumlah lansia terbanyak," demikian dikutip dari laporan tersebut, Minggu (11/7).

Dalam laporan itu disebut, lebih dari empat juta warga kelompok lansia di Jabar belum menerima vaksin Covid-19. 

Menanggapi hal tersebut Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, S.E.,M.Ipol menyatakan
masih rendahnya capaian vaksinasi COVID-19 untuk lansia di Jabar terjadi salah satunya karena jumlah penduduk di wilayah ini paling banyak dibandingkan provinsi lainnya.

"Dan daerah Jabar bukan yang gampang, harus ada kerjasama dan dukungan dari seluruh masyarakat untuk menyukseskan pencegahan Covid-19 terutama untuk Lansia, Kita juga  harus terus memberi motivasi dan meyakinkan masyarakat khususnya kalangan lansia agar jangan takut divaksinasi Covid-19," kata Syahrir kepada WJtoday, minggu (11/7/21)

Lebih lanjut Syahrir mengatakan vaksinasi untuk lansia memiliki tantangan tersendiri dibandingkan vaksinasi untuk usia lainnya sehingga pemerintah harus menjalankan strategi "jemput bola".

"Karena lansia itu kan ada kesulitan juga, harus didatengin. Jadi jarang dari mereka bisa dateng sendiri (untuk divaksinasi). Tapi dengan antar jemput mudah-mudahan bisa percepat. Harus puskesmas datangin, ngajak-ngajakin," katanya.

Untuk sasaran lansia yang bermukim di pusat kota menurut syahrir antusias mengikuti vaksinasi. Sedangkan lansia yang ada di wilayah  perbatasan  banyak yang menolak vaksin karena takut divaksin, merasa tidak kemana-mana dan jauh dari fasilitas kesehatan (faskes).

Kata Syahrir berdasarkan temuan di lapangan lansia yang berada di wilayah pinggiran Jawa Barat  belum antusias dengan berbagai alasan, tidak ada yang mengantar, terlalu jauh dari fasyankes, tidak diberi izin oleh anak, takut akibat vaksin, merasa tidak perlu vaksin karena tidak kemana-mana.

Untuk memperoleh target yang telah ditetapkan, terutama sasaran lansia yang masih rendah politisi Gerindra ini mengatakan perlu sosialisasi yang masif tentang vaksinasi, keamanan dan manfaatnya.

Tak hanya itu kata Syahrir, perlunya penggerakan sasaran oleh tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemimpin wilayah, mulai camat, lurah, RW dan RT, termasuk juga aparat wilayah, babinsa dan bhabinkamtibmas serta RW Siaga mendata dan menggerakkan sasaran.***