Adi Irwana Truna

"Ultimatum dan Petisi Seniman Buat Gubernur Ridwan Kamil Bukan Urusan Bansos"

"Ultimatum dan Petisi Seniman Buat Gubernur Ridwan Kamil Bukan Urusan Bansos"
Seniman Adi Irwana Truna. (dok pribadi)

WJtoday, Bandung - Sebuah petisi bertajuk PETISI C-19 Akar Seni Jabar, menyebar secara masif di media sosial dan media massa, Jumat (23/7/2021) lalu. 

Berikut isi lengkap petisi tersebut :

Kepada Yth Gubernur Jawa Barat dan Jajarannya.

Dua tahun cukup sudah dari kami toleran terhadap pemerintah. Kami selalu turut anjuran dan taat peraturan walaupun nasib kami tak terpikirkan.

Pikirkan kami dan segera temui kami secara virtual! Bapak kerap menggelar "zoom meeting" bersama para elit. Sesekali coba bapak temui wajah kami! Luangkan waktu dan tunjukkan keberpihakan! Kami tunggu bapak, minimal 4 hari dari sekarang! 

Jika tak berkenan, jangan salahkan jika kami terpaksa turun ke jalan! Kami Pejuang Seni dan Budaya dari 27 Kota dan Kabupaten di Jawa Barat mempetisikan dalam satu suara.

PETISI C-19
AKAR SENI JABAR

Isi redaksional Petisi C - 19 yang disebar secara massif oleh para seniman itu memang  menarik untuk disimak. Selain karena sifatnya ultimatum, juga terkandung beragam makna dan pesan.

Jelas dan gamblang, ultimatum itu sendiri ditujukan bagi pemegang pucuk pemerintahan tertinggi di Jawa Barat : Gubernur Ridwan Kamil.

Penggagas dari lahirnya Petisi C-19 Akar Seni Jabar ini adalah para seniman yang tergabung dalam kelompok Akar Seni Jabar. Sebuah kelompok berisi para seniman dari 27 Kabupaten/Kota Se-Jawa Barat yang totalitas dalam berkesenian. Mereka memiliki jargon " Sora Sajabar Seniman Pasisian"

Gagasan dan ide lahirnya petisi ini sendiri muncul dari kegelisahan panjang yang dialami para seniman akan bobroknya perangkat dan sistem kebudayaan yang diaplikasikan pemerintah di Jawa Barat.

Dari tahun ke tahun kondisi seni budaya di Jabar tidak pernah berubah. Kondisi ini makin parah ketika kehidupan para seniman di akar rumput ikut terpapar  dampak pandemi covid-19.

" Tak ada ruang dialog apalagi ikatan yang dibangun oleh pemerintah kepada para seniman yang totalitas hidup dari berkesenian," ungkap Adi Irwana Truna, Ketua Kelompok Seniman Akar Seni Jabar dan inisiator lahirnya Petisi C-19. 

Namun yang perlu ditegaskan, menurut Adi, Petisi C-19 bukan mempersoalkan Bantuan Sosial atau mempersoalkan perut lapar. Karena hal itu sudah tidak perlu diterjemahkan, semua orang sudah pada tahu.

 "Intinya perombakan sistem birokrasi yang selama ini merusak tatanan nilai kebudayaan yang sejatinya harus benar benar dibangun " jelasnya.

Untuk mengetahui apa yang menjadi kegelisahan para seniman, latar belakang lahirnya Petisi C-19 dan hasil dialog dengan Gubernur Jawa Barat, kami mewawacarai Adi Irwana Truna, melalui sambungan telepon, Selasa (28/7/2021).

Baca juga: Ridwan Kamil Penuhi Ultimatum Para Seniman Jabar untuk Berdialog

Adi sendiri adalah penggiat pedalangan. Lahir dari keluarga seniman, dia menjadi dalang sejak tahun 2009. Adi juga merupakan penggagas dari lahirnya Hari Wayang Nasional.

Berikut petikan wawancara westjavatoday.com dengan Adi Irwana Truna :

Apa yang melatarbelakangi lahirnya Petisi C-19 Akar Seni Jabar ?

Selama dua tahun pandemi berjalan, komunikasi kawargian seniman dari 27 Kota / Kabupaten se-Jawa Barat  tetap berjalan. Kita sering diskusi, saling menyampaikan pikiran dan aspirasi juga unek unek.

Dari obrolan dan aspirasi yang disampaikan, kemudian terangkum sebuah kesimpulan yang sama akan nasib rekan rekan sesama seniman yang bermuara pada bobroknya perangkat kebudayaan, perangkat seni dan budaya yang diaplikasikan oleh pemerintah di Jawa Barat.

Dari tahun ke tahun, permasalahan dan persoalan itu sama saja. Dari situ akhirnya saya menginisiasi ini semua menjadi sebuah petisi . 

Dari siapa ide dan gagasan lahirnya Petisi C-19 tersebut ?

Ide, gagasan dan inisiasi  lahirnya Petisi C-19 ini digelontorkan dari kita kita. Semuanya berjalan spontan dan tanpa persiapan.

Kita bukan lembaga formal berbadan hukum, tak ada pimpinan. Kekuatan hukum kita adalah spirit komunal dari kelompok ini. Spirit komunal ini menjadi hukum buat kami.

Kami menyebut kelompok ini Akar Seni Jabar. Kami merasa Akar Seni Jabar mewakili keadaan seni budaya yang sesungguhnya dari akar rumput. Bukan keadaan seni budaya yang para senimannya berada disekeliling birokrat. Bukan pula keadaan seni budaya yang senimannya berada dalam lingkaran oligarki kekuasaan politik.

Keberadaan para seniman yang selama ini akrab atau berada di lingkaran pejabat politik atau pejabat birokrasi ini tanpa terasa malah turut andil dalam merusak tatanan kebudayaan.

Dari ide, gagasan dan inisiasi seperti itu kemudian kami "Petisikan"

Di mana dan kapan obrolan obrolan dan diskusi itu berlansung hingga melahirkan petisi ?

Awalnya obrolan sebatas silaturahmi biasa saja di kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Barat, kantornya Kang Oni Suwarman, anggota DPD Jabar.

Karena Oni berangkat dari kesenimanan, dia tahu persoalan dan keadaan yang dirasakan dan dialami para seniman.

Keluh kesah para seniman ini kemudian kita tangkap. Yang tak hadir di tempat kita lakukan zoom meeting.

Dan semua sepakat spontan hari itu juga dibuat petisi, tidak ada perencanaan jauh jauh hari.

Karena suaranya sama, ya sudah kita masalahkan menjadi satu tatanan kolektif untuk kita bersuara bersama sama. 

Kemudian karena saya yang dipandang bisa memimpin, ya sudah saya yang menyuarakan itu menjadi nama PETISI C- 19. Dengan jargon " Sora Sajabar Seniman Pasisian".

Yang kita sentuh dan kita bidik itu para seniman seniman yang nyarareker istilah sundana mah.  Para seniman yang tidak pernah bersetuhan dengan keoligarkian dimanapun pemerintahan berada,  baik kota maupun kabupaten. Seniman yang basajan, estuning apa adanya saja. Semua yang totalitas dalam berkesenian.

Apa batasan dari seniman nyeker itu ?

Saya sebut seniman nyeker itu adalah seniman yang murni berdiri di atas kaki sendiri.

Kebanyakan mereka seniman apa ?

Kebanyakan mereka dari kesenian wayang golek, kesenian upacara adat, kesenian seperti Mang Ayi Pantun. Semua rumpun kesenian ada, di dalamnya ada seniman yang biasa tampil dari panggung ke panggung. Para pemain electone (organ tunggal) dll. 

Kebiasaan kita hajatan, di mana ada kenduri disitu ada hajatan, ini sudah ada dalam tatanan sirkulasi kebudayaan dalam kesehariannya.

Ini yang penting, sejauhmana hasil pertemuan dengan Gubernur Ridwan Kamil ?

Redaksional isi Petisi C 19 yang disebar secara massif oleh kawan kawan seniman se-Jawa Barat di 27 kota dan kabupaten itu sifatnya ultimatum. Jika saja gubernur tidak berkenan melakukan pateuteup deudeuh tatap muka secara virtual. Maka jangan salahkan kami jika kami harus turun ke jalan.

Tapi ada yang harus digaris bawahi, jangan lupa kalau aksi Seniman itu tidak akan "teriak teriak" menggunakan corong pengeras. Kita sudah kemas kalau kita turun ke jalan kita akan lakukan dengan "aksi nyeni".

Yang juga perlu dicatat, kalau Petisi C-19 itu bukan mempersoalkan Bansos atau mempersoalkan perut lapar. Karena hal itu sudah tidak perlu diterjemahkan, semua orang sudah pada tahu.

Inti dari Petisi C-19 itu mengajak berpikir mumpung di masa pandemi ini kita tarik garis hikmah. Musibah tapi kita syukuri. Untuk apa ? Untuk merenung,berkontemplasi menuju ke arah yang lebih baik. 

Arah baiknya itu, mumpung ada waktu, teknologi ada, kenapa tidak kita manfaatkan untuk pertemuan secara virtual. Toh tidak akan ada sentuhan secara fisik.

Selama ini, kalau tidak ada pandemi ini, birokrat dan pejabat itu kan paling susah ditemui. 

Meski  memenuhi ultimatum para seniman untuk bertemu secara virtual, namun kabarnya Gubernur Ridwan Kamil memberikan waktu yang  sangat terbatas ?

Penjadwalan pukul 5 sore itu sangat kurang ajar, jadi tolonglah kepada pembisik gubernur berilah masukan yang bersifat adil. 

Pertanyaannya, apakah cukup membicarakan penyakit akut dalam sistem birokrasi kebudayaan hanya dibicarakan dalam waktu dimulai pukul 5 yang notabene akan terpotong oleh adzan maghrib. Jam 5.40 itu sudah adzan maghrib, jadi cuma ada waktu 40 menit, belum persiapan.

Dan 40 menit itu pun habis oleh gubernur bicara sendiri. Hanya menerangkan data dan menjelaskan apa apa yang sudah dilakukan sendiri oleh seorang gubernur. Akhirnya kan berisik. Padahal kita tidak berpolitik, tapi nuansa counter politiknya kental sekali.

Terasa sekali adanya counter politik yang disampaikan Pak Gubernur.

Jadi dalam pertemuan itu, gubernur hanya menyampaikan capaian capaian yang dia  yang dia raih saja tanpa mendengarkan apa maksud dari Petisi C-19 itu ? 

Ya, dengan narsismenya, dengan " pelapis bibirnya" menampilkan seolah olah presentasi itu sudah benar benar secara faktual dilakukan. Dan menurut saya yang kurang ajar itu tim dalam lingkarannya .

Yang dimaksud kurang ajar itu begini, kenapa tidak mengapresiasi kami secara totalitas. Terima kami, tapi jangan sodorkan hal hal yang nanti bisa mencelakai gubernur dan blunder dari pandangan kami. Itu akan menimbulkan stigma miring bagi gubernur. Sekali lagi ini ketololan dari lingkarannya Kang Emil.

Jadi dalam pertemuan itu kami tetap fokus, konsisten tidak akan membahas masalah bantuan sosial.Karena bidikan kami bukan disitu.

Soal bidikan Petisi C-19 bukan Bansos sempat tersampaikan ?

Ya sudah, saya sudah sampaikan. Tetapi kami juga tidak akan menepis kalau Bansos itu memang sangat dibutuhkan. Jadi Petisi C-19 pada saat pertemuan dengan gubernur itu, tidak membahas masalah Bansos tapi tidak menepis kalau fakta di lapangan  Bansos itu sangat dibutuhkan.

Jadi apa intinya yang ingin disampaikan ?

Intinya perombakan sistem birokrasi kebudayaan yang selama ini merusak tatanan nilai kebudayaan yang harus sebenar benarnya dibangun. Kami minta ruang, tapi gubernur sepertinya mengelak dengan mengatakan tidak semua bisa dilakukan oleh gubernur. Kita juga sudah tahu itu, karena ada otonomi daerah dan otoritasnya masing masing. Gubernur itu hanya kordinasi. Tapi yang kita butuhkan adalah tangan besinya untuk kordinasi dengan setiap dinas terkait seluruh Jawa Barat . Supaya paralel, sistemis semua. Akhirnya, siapa pun kita akan mewariskan sistem itu untuk regenerasi. 

Jadi ini yang disampaikan Anda mewakili rekan rekan ?

Ini yang saya sampaikan hingga saya agak emosional tapi bukan berarti marah. Marah,dalam artian bukan ngamuk teu puguh.Sampai saya hampir menitikan air mata ketika menyampaikan aspirasi ini.

Nepi ka hese didangu ku kamu, cing dengekeun da urang teh lain rek nyilakakeun silaing. Simpanlah kami untuk membantu Pak Gubernur mendapatkan sumber pengetahuan kebudayaan.

Apa jawaban dari Gubernur setelah itu ?

Nah, setelah saya desak seperti itu jawaban Pak Gubernur akan memberikan waktu untuk melanjutkan pertemuan virtual kedua. Kita lakukan zoom meeting kedua, karena diluar perkiraan beliau.

Tapi bagi kami ini tetap anugerah buat keseluruhan perbaikan birokrasi kebudayaan di Jawa Barat.Kita ditunggu konsep untuk disertakan dalam ranah perbaikan birokrasi kebudayaan. Hal ini kita sambut baik.

Meski tawaran itu pun dilemparkan secara nyungkun lah istilah sundanya. Bener nih, sok atuh kalau kamu memang bisa.  

Tapi kita tetap sambut baik dan kita sudah siapkan semua amunisinya. Okelah der, kalau nantang seperti itu mah, tapi dengan catatan kalau konsep itu dilakukan jangan ingkar dari janji dan harus dijalankan. 

Kembali ke nasib para seniman, bisa digambarkan kondisi kehidupan mereka kini seperti apa ?

Waduh repot, sangat repot. Penabuh kendang sudah jual kendang.Yang punya sound system sudah jual sound systemnya. Yang punya perangkat gamelan sudah jual gamelan. 

Yang kadang saya bikin terharu, para pembeli membeli itu tidak butuh butuh amat dengan barangnya tapi karena ada rasa empati saja. Yang beli wayang misalnya, mereka bukan insan atau praktisi pewayangan tapi karena dia penggemar atau sahabatnya dalang. Ketika dalangnya lagi kesusahan. Peupeurihan mantuan mah teu bisa ada barang yang mereka jual, ya mereka kemudian beli. 

Selain tadi menjual barang. Fakta apalagi yang terjadi dengan para seniman untuk bisa sekedar mempertahankan hidup dalam kondisi pandemi ini ? 

Kondisi kesulitan ini juga menimbulkan kekhawatiran karena adanya pergeseran nilai nilai yang harus kita jaga.Tidak sedikit para praktisi seni yang akhirnya menjalankan usaha sampingan dengan pasang togel. Awalnya heuheureyan, babaledogan, ngadu miliklah. 

Ini kondisi faktual dan aparat pemerintahan harus tahu. Ini alternatif pelarian saja karena perut lapar. Meskipun ini langkah spekulatif, belum tentu menang.

Sejauh itu yah, fakta dan kondisi yang dialami para seniman kini ?

Ya, karena pemerintah terlalu fokus dalam penanganan medical care.  Anggaran semua tumplek kesana. Meskipun dalam pelaksanaannya kental tercium aroma konspirasi antara kepentingan kelompok pengusaha dan penguasa. 

Liat saja, barang susah dicari, sampai Presiden harus turun langsung melakukan sidak ke apotek untuk mengetahui stok obat.

Bagaimana mensiati kondisi selama 2 tahun ini tidak ada panggung, tidak ada pertujukan ?

Ya kondisinya seperti itu, meskipun ada yang masih dengan dengan secara sembunyi sembunyi. Ucing ucinganlah, papinter pinter saling pengertian dengan aparat yang bisa mengerti dan memahami karena ini urusannya perut. 

Mereka bisa paham, jika ada pertunjukan yang mendapatkan efek ekonomi bukan hanya praktisi seni, tapi pedagang, tukang panggung, tenda, tukang sound, banyak multiplier effect dari kegiatan berkesenian ini. 
Aparat mengalah, pura pura tidak melihat, pura pura tidak mendengar. Ya sudah karena ini urusanya perut. Tapi kondisi ini akhirnya terjadi benturan ketika pemerintah pusat turun membuat aturan. Ini ada apa kok didiamkan ?

Ada tidak ada pertunjukan pertunjukan yang digagas para pemangku kebijakan dalam hal ini bupati/walikota sebagai bentuk perhatian kepada para seniman akar rumput di kabupaten/kota  ?

Saya harus sebut, secara keseluruhan di Jawa Barat tidak ada sama sekali bentuk perhatian tersebut.

Di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo kerap menggelar kesenian di rumah dinasnya. Upaya itu selain sedikit membantu juga simbol kalau pemerintah punya kepedulian terhadap nasib seniman. Di Jawa Barat bagaimana  ?

Saya ambil contoh. Justru, mohon maaf yah Kang Emil itu terlalu "kasar" ketika menyalahkan mudik lebaran .Dalam salah satu postingannya di instagram Kang Emil tega mengatakan lonjakan pasien covid terjadi akibat warga memaksakan mudik lebaran.

Padahal penyebabnya banyak variabel, jangan hanya menyalahkan mudik. Ini ada sirkulasi budaya yang harus diperhatikan, tidak asal nyablak untuk seorang pemimpin.

Kalau pun ada fakta tersebut, pemimpin harus bijak. Mencari kalimat bahasa yang lebih bijak. Jajauheun ada upaya urun rembug untuk mengatasi nasib seniman.

Soal adanya pemberian bansos baru belakangan, bagi saya Pemerintah Provinsi kebakaran jenggot saja setelah Intruksi Mendagri turun. Itu dilakukan, karena  jika serapannya rendah atau tidak mengalokasikan bansos maka gubernurnya akan kena sangsi.

Kemudian dalam pelaksanaan pemberian bansos itu banyak masalah, apilaksi disebar ke pelaku seni yang selama ini memang seniman seniman yang dekat dengan Disparbud. Aplikasi tidak menyentuh seniman seniman di daerah yang selama ini memang  tidak pernah bersetuhan dengan kedinasan dan lembaga pemerintahan.

Jadi sebelum Bansos yang disampaikan secara simbolik ke Kang Tisna Senjaya, tidak ada sentuhan sama sekali ?

Belum, sekali lagi justru setelah ada intruksi Mendagri baru ada sentuhan yang judulnya Bansos.

Saya tidak ada masalah dengan Kang Tisna Senjaya, hubungan terjalin baik. Saya hormat dengan beliau. Tetapi kegiatan bantuan seniman kemarin tidak ada kaitannya sama sekali dengan Petisi C-19. 

Kalau pun terjadi acara simbolik dan seremonial melalui Kang Tisna Senjaya. Itu pinter pinternya Gubernur untuk mengambil angle dan frame. Nih, lihat warga Jabar kita care, perhatian.

Yang jadi pertanyaan apakah Kang Tisna Senjaya itu menyentuh secara menyeluruh seniman yang ada di 27 Kab/Kota ? Saya yakin tidak kok. 

Ada berapa orang seniman yang mendapat bantuan ?

Saya dapat kabar 20 orang pun gak nyampai..Cuma yang jadi persoalan ketika media memberitakan : Gubernur memberikan bantuan kepada seniman terdampak covid melalui Kang Tisna Senjaya.
Nanti masyarakat dan pemerintah pusat tahunya, Gubernur Jabar sudah melakukan itu. Padahal kan belum. Itu kan pecitraan yang dibangun oleh tim media dan buzzer-nya gubernur saja. ***