Tiap Hari Indonesia Catat Kasus Baru Covid Terbanyak di Dunia, Ini Belum Puncaknya

Tiap Hari Indonesia Catat Kasus Baru Covid Terbanyak di Dunia, Ini Belum Puncaknya
Salah seorang warga Jakarta menangisi kepergian keluarganya di TPU Rorotan, Jakarta, 8 Juli 2021. (Foto: Getty Images)

WJToday,Bandung,- Indonesia terus mencatat kenaikan infeksi Covid-19 hingga terus mencetak rekor kasus tertinggi dalam beberapa hari berturut-turut.

Lonjakan kasus Covid ini membuat Indonesia mendapat julukan episentrum baru Covid-19 di Asia.

Associated Press dalam artikelnya "Indonesia reports 54,000 virus cases, becomes Asian hotspot" Rabu (14/7) melaporkan infeksi harian Indonesia melampaui India, yang kini penularannya mulai reda.

Satgas Covid-19 mengatakan varian Delta yang lebih mudah menular jadi penyebab lonjakan kasus terjadi di Indonesia.

Gelombang baru corona ini pun memicu tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) mencapai lebih dari 90 persen di sejumlah daerah dan menambah beban tenaga kesehatan yang kian terbatas.

Akibat lonjakan kasus Covid-19 dan varian Delta corona yang lebih menular terus menyebar, sejumlah negara pun membatasi hingga menutup perbatasan mereka bagi warga Indonesia.

Negara-negara tersebut yakni Singapura, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Oman, Negara Eropa, Hong Kong, Jepang, Bahrain dan Filipina juga Inggris.

Bahkan warga asing yang berada di Indonesia memutuskan pulang kembali ke negaranya. Tercatat warga Jepang dan Taiwan mulai pulang kembali ke negaranya menyusul lonjakan kasus corona di sini.

Sekitar hampir 100 pengusaha dan ekspatriat Taiwan di Indonesia dilaporkan telah memesan penerbangan pulang dengan pesawat carter atau sewaan akibat situasi Covid-19 yang memburuk di nusantara.

KAPAN AKAN MENCAPAI PUNCAKNYA?

Hasil kajian Dicky Budiman, MD, epidemiolog dan kandidat PhD pada Keamanan Kesehatan Global, Universitas Griffith, jika PPKM dan wajib masker dipatuhi, kasus COVID-19 di Indonesia akan mencapai puncaknya pada akhir Juli atau awal Agustus, dengan jumlah kasus baru meningkat menjadi 200.000 sehari.

"Tetapi jika pembatasan tidak efektif, puncak kasus harian baru bisa mencapai 400.000," ungkap Dicky, dikutip dari Asia Pasific Report.

Perkiraan kenaikan ini, lanjut Dicky, didasari beberapa faktor. Pertama jumlah kasus yang dilaporkan sangat kecil. Kedua, perkiraan tingkat penyebaran dengan efektif atau tidaknya PPKM Darurat yang tengah dijalankan.

Untuk jumlah kematian, Dicky memperkirakan tingkat kematian kasus sekitar 2 persen. ***