Tak Langsung Diperiksa, Bareskrim Beri Hak Maria untuk Istirahat

Tak Langsung Diperiksa, Bareskrim Beri Hak Maria untuk Istirahat
Tak Langsung Diperiksa, Bareskim Beri Hak Maria untuk Istirahat

WJtoday, Jakarta - Buronan kasus pembobolan Bank BNI senilai Rp1,7 triliun, Maria Pauline Lumowa pagi tadi telah tiba di Bareskrim Polri untuk diproses hukum setelah diekstradisi dari Serbia oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

Sesaat setelah mendarat, Maria sempat menjalani pemeriksaan cepat atau rapid test terkait Covid-19. Ini sesuai protokol kesehatan bagi mereka yang bepergian dari luar negeri.

Bareskrim Polri tak langsung memeriksa buronan pembobol kredit Bank Negara Indonesia (BNI) sebesar Rp1,7 triliun, Maria Pauline Lumowa.

Kepala Divis Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono mengatakan pihaknya memberikan waktu bagi Maria untuk istirahat terlebih dulu. Maria baru saja melakukan perjalan jauh dari Serbia.

"Untuk saat ini yang bersangkutan istirahat, kita berikan hak tersangka untuk istirahat," kata Argo di Bareskrim Polri, Kamis (9/7).


Argo menyebut pihaknya juga akan kembali memeriksa kesehatan Maria. Namun, Argo tak mengungkapkan kapan penyidik bakal mulai menggali keterangan perempuan yang tinggal dalam pelarian selama 17 tahun.

"Nanti tunggu saja, besok akan dijelaskan Kabareskim," ujarnya.

Sebelumnya, Maria tiba di Bareskrim Polri untuk menjalani proses hukum atas kasus yang menjeratnya itu. Maria dibawa ke Bareskrim setelah diekstradisi dari Serbia.

Maria menjadi buronan setelah terlibat kasus pembobolan bank BNI. Kasus itu terjadi saat dia mengajukan pinjaman ke BNI untuk PT Gramarindo Group pada 2002 silam.

Bank pelat merah ini mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro—atau setara Rp 1,7 triliun dengan kurs saat itu—kepada mereka. Aksi PT Gramarindo Group bisa mulus karena dibantu orang dalam bank. Pada 2003 BNI pusat mengendus sesuatu yang tidak beres dalam transaksi keuangan PT Gramarindo Group. Mereka menggunakan L/C fiktif untuk mendapatkan kredit.

BNI kemudian melakukan investigasi di tahun 2003 karena curiga dengan pinjaman itu lantaran melibatkan beberapa bank yang bukan rekanan mereka.

Kasus L/C fiktif inilah yang kemudian dilaporkan ke Mabes Polri. Adrian, oknum polisi, dan oknum internal BNI pun ditangkap dan telah di vonis, sementara Maria kabur tak lama saat kasus ini disidik.

Sejak September 2003 ternyata Maria sudah pergi ke Singapura. Ia sempat pergi di Belanda. Pemerintah Indonesia pernah mengajukan permohonan ekstradisi ke Belanda pada 2010 dan 2014, namun ditolak karena Maria adalah warga negara mereka.

Hingga akhirnya pada akhir 2019, Maria ditangkap oleh otoritas Serbia dan berujung pada proses ekstradisi.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly mengatakan pihaknya menyerahkan proses hukum Maria kepada Polri dan Kejaksaan Agung (Kejagung). Selain itu, ia mengaku tetap akan mengusut aset Maria di Belanda dan Amerika Serikat.***