Survei Elektabilitas Parpol: PDIP Tertinggi, Disusul Gerindra

Survei Elektabilitas Parpol: PDIP Tertinggi, Disusul Gerindra
Ilustrasi (youtube)

WJtoday, Jakarta - Survei Y-Publica menunjukkan elektabilitas PDI Perjuangan masih kokoh di puncak dari peta elektoral menuju gelaran Pemilu 2024, yaitu sebesar 17,8 persen.

Direktur Eksekutif Y-Publica, Rudi Hartono, mengatakan PDI Perjuangan masih kokoh di puncak meski terjadi tren penurunan elektabilitas dan elektabilitasnya berada di bawah 20 persen.

“Meskipun turun, PDI Perjuangan masih kokoh di puncak elektabilitas partai politik, sedangkan PSI terus mengalami kenaikan,” ujar Rudi dalam rilisnya di Jakarta, Sabtu (13/11/2021).

Turunnya elektabilitas PDI Perjuangan perlu menjadi perhatian serius bagi jajaran elite partai berkuasa tersebut. Menurut dia kritik terhadap kinerja pemerintahan turut berdampak pada dukungan publik terhadap PDI Perjuangan.

Menurut dia, berbagai pernyataan yang bernada kritis dari elite PDI Perjuangan terhadap pemerintah tampaknya merupakan upaya untuk mencegah penurunan elektabilitas yang makin dalam. 

"Agak mengherankan, mengingat PDI Perjuangan sebagai partai pemerintah malah melontarkan sejumlah kritik," sebutnya.

Tren penurunan elektabilitas sebenarnya juga dialami sejumlah parpol lain, di antaranya Partai Gerindra, Partai Golkar, dan PKS.

Hasil survei menunjukkan, elektabilitas terbaru, Partai Gerindra masih berada pada posisi kedua dengan elektabilitas 13,0 persen, disusul Partai Demokrat 10,4 persen, dan Partai Golkar 8,3 persen.

Di papan tengah lainnya terdapat PKB 6,0 persen, PKS 5,0 persen, dan Partai NasDem 4,0 persen. Berikutnya ada PPP 2,2 persen, Partai Ummat 1,5 persen, PAN 1,2 persen, dan Partai Gelora 1,0 persen. Partai Ummat dan Partai Gelora menjadi dua partai baru yang paling moncer saat ini.

Partai-partai lainnya di papan bawah, yaitu Perindo 0,9 persen, Partai Hanura 0,8 persen, Partai Berkarya 0,6 persen, PBB 0,5 persen, PKPI 0,3 persen, dan Partai Garuda 0,1 persen. Partai Masyumi tidak mendapat dukungan, sedangkan partai baru lainnya 0,8 persen, sisanya tidak tahu/tidak menjawab 20,2 persen.

Lebih lanjut Partai Solidaritas Indonesia (PSI) makin memantapkan posisi di papan tengah. Elektabilitas PSI cenderung naik dari survei selama hampir dua tahun terakhir, dengan elektabilitas kini mencapai 5,4 persen.

Survei Y-Publica dilakukan pada 1-7 November 2021 terhadap 1.200 orang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Data diambil melalui wawancara tatap muka terhadap responden yang dipilih secara multistage random sampling. Margin of error plus minus 2,89 persen, tingkat kepercayaan 95 persen. 

Tingkat Kepuasan Terhadap Pemerintahan Jokowi 70 Persen

Survei Y-Publica juga mengungkapkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Jokowi berada pada kisaran 70 persen seiring dengan kepercayaan dunia terhadap Indonesia.

Rudi mengatakan Presiden Jokowi awalnya kerap dipandang remeh oleh sejumlah pihak terkait dengan kiprah di forum internasional.

Sebelumnya, Presiden Jokowi sering absen dan hanya diwakili oleh pejabat tinggi lainnya. Padahal, Indonesia merupakan negara yang cukup diperhitungkan oleh dunia.

Presiden Jokowi hadir dalam KTT G20 di Roma, Italia, dalam rangkaian lawatan ke konferensi perubahan iklim (COP26) di Glasgow, Inggris. Presiden Jokowi menerima serah terima presidensi G20 yang akan dijabat oleh Indonesia setahun ke depan.

"Dipercayai oleh dunia sebagai presidensi G20 dan isu perubahan iklim, tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi mencapai 70,3 persen," kata Rudi.

Jabatan yang prestisius tersebut memberikan pengaruh penting bagi Indonesia secara internasional. Demikian pula, dengan isu perubahan iklim, Indonesia memiliki hutan tropis terbesar, serta berbagai isu menyangkut deforestasi, minyak sawit, hingga nikel dan batu bara.

Di tengah situasi pascagelombang kedua pandemi Covid-19 yang meremukkan berbagai sektor perekonomian, kata dia, tingginya kepuasan tersebut menunjukkan indikator kepercayaan terhadap Presiden Jokowi tidak hanya datang dari dunia, tetapi juga dari dalam negeri.

Menurut Rudi, pemerintah harus bisa memanfaatkan momentum kepercayaan dunia pada Indonesia, khususnya untuk mengakselerasi perekonomian pascapandemi. Di sisi lain, ancaman gelombang ketiga masih menghantui, lebih-lebih menjelang liburan Natal dan tahun baru.

"Selama ini terbukti Jokowi berhasil menyeimbangkan antara masalah kesehatan dan perekonomian, Indonesia mengalami pemulihan yang lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara tetangga," sebutnya.  ***