Soal Masalah Kemacetan, Manusia Harus Belajar dari Semut

Soal Masalah Kemacetan, Manusia Harus Belajar dari Semut
ilustrasi Kemacetan di Indonesia

WJtoday, Jakarta - Di jalan tol milik semut, tidak pernah ada macet. Sebaliknya, di jalan tol manusia, kemacetan bukan saja normalitas. Kita bahkan mencetak rekor demi rekor dalam hal kemacetan.

Ketika 21 September 2005, angin topan Rita bergerak menuju Huston, AS, dua setengah juta orang berusaha mengungsi. Akibatnya, di jalan tol 45 menuju Dallas, terbentuk kemacetan sepanjang 160 km, dan lalu lintas tak bergerak selama 48 jam.

Lebih parah lagi ketika pertandian final Piala Dunia 2014 di Brasil. Kemacetan berawal di Sao Paulo, dan panjangnya 344 km. Jadi hampir antara Sao Paulo dan Rio.

Contoh lain bisa dilihat di Moskow, November 2012. Musim dingin mencengkeram Rusia yang jadi negara berlahan terbesar di dunia, dan menyebabkan kemacetan. Badai salju menerjang kawasan jalan tol antara St. Petersburg dan Moskow!

Apa penyebab utama kemacetan?
Menurut Prof. Peter Wagner, dari Institut DLR untuk Sistem Transportasi, “Masalah utamanya, kurangnya kapasitas.“ Tentu ada masalah lain, tapi itu tidak sering muncul. Tentu ada saja orang yang membuat kesalahan saat menyetir. Misalnya, kurang memperhatikan lalu lintas, sehingga tiba-tiba mengerem keras.

Peneliti kemacetan Michael Schreckenberg, dari Uni Duisburg pendapatnya tidak jauh berbeda. “Konstruksi jalanan, kecelakaan, kondisi cuaca,“ katanya sambil menambahkan, “Tapi semua itu cuma 60 atau 70% penyebab kemacetan.“ Tergantung letaknya, kerap karena jalanan terlalu penuh. Terlalu banyak kendaraan di waktu sama, ke arah yang sama. Ini yang bisa dilihat di berbagai tempat, hampir di seluruh dunia.“

Apa yang dilakukan semut dengan lebih baik
Martin Sebesta, memiliki toko yang menjual semut di Berlin. Nama tokonya Antstore. Ia mengungkap, pada semut, prinsip yang berlaku: satu untuk semua, semua untuk satu. Sedangkan pengemudi mobil kerap tidak demikian, melainkan berpikir: 'Bagaimana cara tercepat sampai ke tujuan?' Jadi setiap orang berusaha mencapai tujuan, tanpa memikirkan orang lain. “Dan setiap orang berusaha mendapat keuntungan,“ tandas Martin Sebesta.

Ditambah lagi, “Pengemudi mobil di jalanan, tidak kooperatif. Mereka egois. Itu yang mencegah sistem berfungsi efektif,” kata Michael Schreckenberg. Dari sudut matematika, ini disebut maksimal. Itu situasi, di mana situasi maksimal tercapai bagi pengguna, dan bagi sistem. Pengemudi biasanya ingin mendapat situasi optimal bagi dirinya. “Tapi itu tidak optimal bagi sistem,” katanya. Sistem tidak berfungsi efektif, jika semua pengemudi saling bersaing.

Jadi semut kooperatif, dan punya tujuan bersama. Kita semua, manusia, juga berusaha mencapai tujuan. Tapi kita hanya memikirkan diri sendiri, dan kehilangan banyak waktu di kemacetan.

Waktu terbuang akibat kemacetan
Berapakah waktu yang tersia-sia, jika terjebak kemacetan? Prof. Peter Wagner dari Institut DLR untuk Sistem Transportasi mengambil contoh misalnya di Berlin, kota terbesar di Jerman.

“Kalau tidak salah Tom-Tom pernah membuat statistik seperti ini, katanya. Juga untuk menjawab pertanyaan, berapa lama tambahan waktu yang diinvestasikan dalam perjalanan setiap hari. Untuk Berlin tambahannya 30%.

Itu sepertinya tidak banyak. Dalam perbandingan di seluruh dunia, juga tidak demikian. Banyak kota lain, yang jauh lebih menderita. Pada posisi ke tiga: Bogota. Per tahunnya, warga Kolumbia berada dalam kemacetan selama 230 jam. Jadi sekitar 10 hari! Dan itu membuat orang hilang kesabaran.

Posisi ke dua: kota metropolitan India, Bengaluru. Tahun 2019, pengemudi mobil berada dalam macet selama 243 jam. Di seluruh dunia, ibukota Filipina, Manila berada di posisi teratas dalam hal kemacetan. Pengemudi mobil menghabiskan waktu selama 257 jam dalam kemacetan.

Semut saling membantu
Begitu banyak pengemudi mobil yang egois, yang merasa tidak punya cukup tempat di jalanan. Di jalan tol milik semut, jalanan juga tampak sangat sempit. Bagaimana hewan enam kaki itu berhasil membuat lalu lintas lancar?

“Semut berkomunikasi lewat bebauan yang dilepas dari kelenjar di bagian punggung,” jelas Martin Sebesta. Bebauan itu juga bisa dicampur, jadi informasi bisa berbagai macam. Misalnya: awas, bahaya! Atau: ada makanan. Lewat sini yang benar!

Peneliti kemacetan Michael Schreckenberg mengungkap, semut bekerja bagi komunitas. Mereka ingin mencapai sistem optimal. Mereka ingin kelancaran, dan tidak dihentikan individu. “Jadi kita bisa belajar dari semut. Tapi saya rasa, manusia tidak bisa diajar untuk berkelakuan seperti semut.“

Bagi semut, ini kebersamaan. Mereka menyesuaikan diri dengan keadaan. Kita, manusia, tidak saling berkomunikasi, bahkan berlawanan satu sama lain. Dan itu, akhirnya bukan hanya menyebabkan kerugian waktu, melainkan juga dana.

Kerugian finansial akibat macet
Michael Schreckenberg memperhitungkan, jika kecepatan laju mobil saat macet hanya 10 km per jam, panjang macet 4 km, dan sudah berlangsung 3 jam di jalan tol yang punya dua ruas. Di jalan tol sebetulnya kecepatan mobil bisa 80 km per jam.

Kalau dihitung akhirnya akan mencapai jumlah antara 50.000 dan 100.000 euro. Itu cuma satu kemacetan saja. Kalau untuk seluruh Jerman misalnya, maka antara 60 dan 100 miliar per tahun. Itu rata-rata 80 miliar euro yang hilang karena terkena macet. Jadi bukan waktu saja yang hilang.

Apa yang bisa kita pelajari dari semut?
"Di masa depan, kita akan punya sistem otomatis yang meniru tingkah laku semut. Dan itulah harapannya: Bahwa di akhirnya nanti, kita akan punya sistem lalu lintas yang jauh lebih besar daripada sekarang.“

Berkat semut, di masa depan mungkin akan ada sokongan teknis, yang membantu kita berlalu lintas, dan mengatur sikap kita. Tapi nantinya, juga tergantung kita. Kita tidak boleh egois, dan harus bekerjasama lebih baik. Dan kita harus menyesuaikan kecepatan, agar misalnya, bisa menghindari rem secara mendadak. Hanya dengan cara itu, di masa depan uang dan waktu bisa dihemat Dan agar gambar seperti ini bisa dihindari.***