Skenario Terburuk Bank Dunia, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprediksi Minus 2%

Skenario Terburuk Bank Dunia, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprediksi Minus 2%
Bank Dunia
WJtoday.com - World Bank atau Bank Dunia merilis laporan ekonomi untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik edisi Oktober, ''From Containment to Recovery''. Dalam laporannya, Bank Dunia menyebut bahwa ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh negatif 1,6% tahun ini.

Sementara, dalam skenario terburuk (low case), pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa minus hingga 2%. Prediksi tersebut tercantum dalam tabel yang disajikan Bank Dunia dalam laporannya.

Bank Dunia juga telah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 4,4% tahun 2021 mendatang (baseline). Namun dalam skenario terburuk, pertumbuhannya mungkin hanya 3% saja (low case).

Menurut Bank Dunia, Covid-19 telah mengakibatkan triple shock bagi Kawasan Asia Timur dan Pasifik yang sedang berkembang. Guncangan tersebut berasal dari pandemi Covid-19 itu sendiri, dampak upaya pembatasan terhadap perekonomian dan gaung resesi global yang diakibatkan oleh krisis.

"Pengambilan tindakan secara cepat akan diperlukan untuk memastikan bahwa pandemi ini tidak menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kemiskinan di tahun-tahun mendatang," demikian dikutip dalam laporan Bank Dunia, Jakarta, Selasa (29/9/2020).

Adapun, kegiatan ekonomi domestik sudah mulai bangkit di beberapa negara yang melakukan pembatasan penyebaran virus. Kendati, Kawasan Asia Timur dan Pasifik masih bergantung pada kondisi global.

"Kawasan ini secara keseluruhan diharapkan untuk mengalami pertumbuhan sebesar hanya 0,9% pada tahun 2020, terendah sejak tahun 1967," tulis Bank Dunia.

Dengan alasan Bank Dunia, kontraksi ekonomi Indonesia terjadi karena penanganan pandemi dari sisi kesehatan belum maksimal. 

Chief Economist for East Asia and Pasific World Bank Aaditya Mattoo menjelaskan, pemerintah Indonesia belum sukses mengatasi pandemi virus corona. 

Menurut dia, Indonesia adalah salah satu negara di kawasan Asia Pasifik yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi dalam waktu dekat. 

Mattoo bahkan menyebut kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah setempat, kurang efektif. Sehingga justru memperburuk outlook pemulihan ekonomi Indonesia.

“Indonesia belum menerapkan isolasi secara ketat, dan nampaknya lebih mengandalkan kebijakan-kebijakan yang lebih ringan,” kata Matto dalam Konferesi Pers via daring, Selasa (29/9).

Alhasil, Bank Dunia memprediksi pemulihan ekonomi Indonesia akan lebih lambat dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Pasifik. Mattoo menambahkan, ekonomi di negara Asia Pasifik seperti Filipina sudah mulai berjalan, meski tekanan sentimen demand global masih menghantui di sepanjang tahun ini.

Lebih lanjut dia bilang, untuk menjaga ekonomi Indonesia di tahun ini, pemerintah perlu melakukan reformasi fiskal, dengan memperbesar belanja. Utamanya, digunakan untuk stimulus perlindungan sosial. 

Dalam situasi pandemi seperti ini, perlindungan sosial memberikan dampak nyata terhadap ekonomi dalam negeri. Dus, memitigasi dampak langsung dari krisis serta membantu para pekerja yang terdampak pandemi, terutama kepada masyarakat miskin dan menengah.

Adapun Bank Dunia memprediksi ekonomi negara-negara di kawasan Asia Pasifik secara rata-rata kontraksi 0,9% hingga 3,5% di akhir tahun ini. 

“Negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik perlu memperkuat reformasi di bidang perdanganan, terutama sektor layanan yang masih diberikan perlindungan, sektor keuangan, transportasi, dan komunikasi,” ujar Mattoo.


Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, proyeksi pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 bakal minus 0,6% yoy bahkan bisa kontraksi hingga 1,7% yoy.

Proyeksi pemerintah di akhir tahun ini sejalan dengan beberapa lembaga internasional yang meramal ekonomi Indonesia berada di zona negatif antara lain The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) -3,3%, Asian Develompment Bank (ADB) -1%, Bloomberg -1%, International Monetay Fund (IMF) kontraksi 0,3%.

“Negative teritory akan terjadi di kuartal III dan mungkin masih berlangsung di kuartal IV yang kita upayakan akan tetap dekat dengan 0% di level positif. Semua forecast ini bagaimana perkembangan kasus Covid-19 dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,” kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN, Selasa (22/9).***