Sidang Lanjutan Kasus Unlawful Killing Laskar FPI, Berikut Kesaksian dari Beberapa Saksi

Sidang Lanjutan Kasus Unlawful Killing Laskar FPI, Berikut Kesaksian dari Beberapa Saksi

WJtoday, Jakarta - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) kembali menggelar sidang lanjutan kasus unlawfull killling atau pembunuhan Laskar Front Pembela Islam (FPI) pada hari ini, Selasa (26/10).

Diketahui dalam sidang lanjutan hari ini, jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan tujuh orang saksi yang hadir dan bersaksi melalui sambungan virtual.

Keseluruhan saksi tersebut di antaranya Enggar Jati Nugroho, Toni Suhendar yang merupakan anggota kepolisian RI (Polri); Karman Lesmana bin Odik; Hotib alias Badeng; Esa Aditama dan Ratih binti Harun serta Eis Asmawati yang keduanya merupakan penjaga rumah makan di Rest Area KM50 Cikampek.

Anggota Brimob Polda Jabar Lihat Ada Senjata Api Revolver di Mobil Laskar FPI

Satu dari tujuh saksi yang dihadirkan yakni Enggar Jati Nugroho yang merupakan anggota Brimob Polda Jawa Barat.

Dia dihadirkan secara virtual bersama tujuh saksi lainnya.

Dalam kesaksiannya, Enggar yang saat kejadian sedang melaksanakan pemantauan jalur pengiriman vaksin dari Jakarta ke Bandung mengatakan terdapat beberapa senjata di dalam mobil Chevrolet Spin berwarna abu-abu milik anggota Laskar FPI.

"Intinya kami selaku Brimob (Jawa Barat) berdasarkan sprindik, kami diperintahkan pengamanan jalur vaksin datang dari Bandara Soekarno-Hatta ke Biofarma Bandung. Pengamanan jalur tugas rest area km 50. Kami berempat dari Brimob," kata Enggar dalam persidangan, Selasa (26/10/2021).

Saat polisi melakukan penggeladahan atas mobil Chevrolet Spin milik anggota FPI, dirinya melihat ada beberapa senjata di dalamnya.

Penggeledahan itu dilakukan setelah seluruh anggota eks FPI diminta keluar oleh petugas yang mengikutinya, dimana petugas itu mengaku kepada Enggar dari kesatuan Polda Metro Jaya.

"Ada yang mendekati mobil, nggak lama 4 orang keluar dari mobil dan dikeluarkan ditiarapkan di sebelah kiri, nggak jauh 2-3 meter dari mobil di area terbuka. Memang di depan warung ada space untuk parkir," jelas Enggar.

Adapun jenis senjata yang dilihat Enggar berada dalam mobil ersebut yakni senjata tajam samurai maupun senjata api jenis revolver sebanyak dua pucuk.

"Bawa senjata, ada saya lihat bawa senjata jenis pistol, setelah saya mengatur anggota untuk pengamanan area, ada yang membawa dari Chevrolet dibawa keluar, senjata api Revolver 2 berwarna abu-abu silver, ada semacam samurai, golok," tuturnya.

Setelah kejadian tersebut, Enggar mengatakan datanglah satu unit mobil derek dan langsung membawa mobil Chevrolet Spin milik anggota FPI tersebut.

Namun dirinya tidak mengetahui secara pasti  dibawa kemana mobil yang sudah mengalami pecah ban itu.

"Saya nggak tahu berapa lama tapi ada mobil derek datang dan meninggalkan rest area, saya nggak tahu dibawa kemana," tukasnya.

Jaksa Cecar Alasan Polisi Tak Bawa Borgol Lalu Bunuh 6 Laskar FPI

Anggota Subdit Resmob Polda Metro Jaya, Toni Suhendar, mengungkapkan pihaknya sengaja tak membawa borgol ketika membuntuti rombongan Rizieq Shihab dan laskar Front Pembela Islam (FPI) hingga ke Tol Jakarta-Cikampek pada 7 Desember 2020 lalu.

Hal itu ia sampaikan saat dihadirkan sebagai saksi dalam kasus unlawfull killling atau pembunuhan Laskar FPI di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan melalui virtual, Selasa (26/10).

"Kenapa tak membawa borgol?" tanya Jaksa.

"Untuk mengamati, kami tidak membawa borgol," timpal Toni.

Dalam dakwaan dijelaskan bahwa empat anggota FPI yang masih hidup sempat menyerang, mencekik dan berupaya merebut senjata milik polisi di dalam sebuah mobil yang hendak membawanya ke Polda Metro Jaya.

Hal itu dikarenakan empat Laskar FPI itu tak diborgol. Empat anggota Laskar FPI itu adalah Lutfi Hakim, Akhmad Sofiyan, M Reza, dan Muhammad Suci Khadavi Poetra.

Imbas hal itu, salah seorang polisi yang berada di mobil lantas melepaskan tembakan mematikan kepada empat Laskar FPI hingga meninggal dunia.

Lebih lanjut, Toni menceritakan ada 7 orang anggota mengikuti rombongan Rizieq dengan menggunakan 3 mobil pada malam pembunuhan tersebut.

Tugas pembuntutan itu, kata dia, berdasarkan surat perintah penyelidikan yang dikeluarkan Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat.

Diketahui, surat perintah yang dikeluarkan tanggal 5 Desember 2020 itu dalam rangka penyelidikan lantaran Polda Metro Jaya mendapatkan informasi patroli siber tentang rencana penggerudukan massa PA 212 ke Polda Metro Jaya.

Potensi penggerudukan itu untuk menanggapi surat panggilan kedua dari penyidik Polda Metro kepada Rizieq Shihab.

"Berdasarkan surat penyelidikan [yang memerintahkan] dari Dirkrimum, Tubagus Ade Hidayat," ujar Toni.

Jaksa lantas menanyakan Toni terkait kesiapan yang dilakukan tujuh orang tim dari Polda Metro Jaya tersebut. Toni mengaku sehari sebelum melakukan pembuntutan pihaknya sudah melakukan koordinasi.

"Briefing-nya tanggal 5 tersebut. Berangkat bersamaan dari kantor, jam 9 malam," kata Toni.

Toni menjelaskan dalam operasi pembuntutan itu, masing-masing polisi yang bertugas membawa ponsel dan senjata api yang dimilikinya.

Singkat cerita, Toni diminta membawa dua anggota laskar FPI yang telah meninggal dunia di dalam Mobil Chevrolet ke rumah sakit saat tiba di rest area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek.

Mobil Chevrolet itu sebelumnya sempat menyerempet mobil polisi hingga akhirnya kejar-kejaran sampai ke rest area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek.

Kesaksian penjaga rumah makan, Ratih binti Harun dan Euis Asmawati

Euis Asmawati dan Ratih seorang karyawan warung Megarasa di rest area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan Unlawful Killing Laskar Front Pembela Islam (FPI) terdakwa Briptu Fikri Ramadhan.

Dalam persidangan, mereka mengaku pada saat kejadian di rest area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek, terlihat beberapa senjata tajam yang dikeluarkan dari mobil Chevrolet Spin, mobil terdapat enam orang Laskar FPI di dalamnya.

"Kalau saya lihat ada 4 samurainya, enggak lihat lagi ada apa," kata Euis saat sidang yang dihadirkan melalui daring di PN Jakarta Selatan, Selasa (26/10).

Senada dengan Euis, Ratih juga membenarkan jika dirinya yang kala itu sedang menjaga warungnya sempat mendengar suara decitan mobil ngerem mendadak, lantas menghampiri lokasi.

"Ada seorang memakai celana pendek bawa pistol, pistolnya mengetuk pintu (mobil Chevrolet Spin) suruh keluar. 'Keluar keluar'. Terus keluar sendiri pintu sebelah kiri yang keluar 4 orang, satu satu keluar terus disuruh tiarap," kata Ratih.

Ketika melihat lokasi, Ratih melihat ada empat orang dari mobil Chevrolet Spin yang keluar. Disusul seorang rekan pria pemegang senjata api ikut menggeledah isi mobil. Dari hasil geledah itu Ratih melihat ada gawai dan senjata tajam yang diamankan.

"4 Orang yang ditiarap. HP yang diambil, ada 4 HP yang diambil, yang memeriksa saya lupa berapa orang soalnya sudah lama. Yang di dalam mobil di periksa, ada dua orang, berpakaian biasa tidak membawa pistol," ujarnya.

"Cuma satu yang bawa pistol yang celana pendek, yang diambil samurai, yang saya lihat 1. Tidak memperhatikan lagi barang apa," lanjutnya.

Sementara usai mengambil gawai dan senjata tajam, kata Ratih, orang yang menggeledah mobil tersebut langsung menaruh barang-barang itu di meja warung, untuk kemudian meminta beberapa kantong plastik.

"Di meja tempat makan, ke warung minta plastik di taruh di depan meja warung. Samurai ditaruh di meja depan warung," sebutnya.

Saksi tak Lihat Bercak Darah di Dalam Mobil Eks Anggota FPI

Salah satu saksi, Khotib alias Badeng, supir truk towing yang biasa mangkal di Rest Area Kilometer (KM) 50 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, mengatakan, pada 7 Desember dini hari 2020, tengah berada di Warung Megarasa menunggu adanya orderan jasa derek mobil mogok yang mengarah dari Karawang ke Jakarta. Khotib menjadi saksi yang melihat saat polisi menangkap anggota laskar FPI. Bahkan, ia diminta oleh salah seorang untuk menderek mobil Chevrolet Spin yang digunakan anggota laskar FPI.

"Saya diminta bawa ke daerah Semanggi (Jakarta)," ucap Khotib. 

Ia pun tak sendiri membawa mobil pembawa itu. Setelah dalam perjalanan, ia baru tahu Chevrolet Spin tersebut, akan dibawa ke Polda Metro Jaya.

"Saya dikawal satu Grand Max putih di depan," ujar Khotib.

Kata Khotib, saat ia membawa Spin abu-abu itu dengan towing, ia melihat kondisi kaca mobil bagian atas posisi setir, sudah pecah, dan bolong. Kondisi ban, juga pecah. Termasuk kaca pinggir sebelah kiri, yang sudah berantakan. Tetapi, Khotib mengaku, tak ada melihat ada bercak-bercak kekerasan di dalam mobil. 

"Di dalam mobil, tidak ada darah, Tidak ada apa-apa. Saya bawa sampai Polda (Metro Jaya)," jelas Khotib.

Dakwaan Jaksa

Sebelumnya, dalam berkas dakwaan, terungkap bahwa enam anggota Front Pembela Islam (FPI). Adapun, dua diantaranya Faiz Ahmad Syukur dan Andi Oktiawan tewas seketika usai baku tembak di Jalan Interchange atau Jalan International Kabupaten Karawang.

Sementara, empat lainnya yakni Lutfi Hakim, Muhamad Suci Khadavi Poetra, Akhmad Sofiyan san M. Reza meninggal di dalam mobil pada saat perjalanan menuju ke Polda Metro Jaya. Jaksa menerangkan, keenam anggota FPI diamankan di Rest Area Km 50. Ketika itu sedang berada di mobil Chevrolet Spin abu-abu.

Jaksa mengungkapkan, Briptu Fikri Ramadhan mendapati dua anggota FPI yakni Faiz Ahmad Syukur dan Andi Oktiawan sudah tak bernyawa. Sementara untuk keempat anggota laskar lainnya telah dipindahkan ke mobil lain.

Sedangkan karena ketika dalam perjalan keempat laskar tersebut diduga melawan, akhirnya Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda Mohammad Yusmin Ohorella mengambil tindakan menembak keempat laskar, yang berbuntut perkara Unlawful Killing.

Atas perbuatannya, Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda Mohammad Yusmin Ohorella didakwa dengan dakwaan primer Pasal 338 dan dakwaan Subsidair Pasal 351 ayat 3 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.***