Selama Pandemi 37.706 Anak Terkonfirmasi Covid-19, IDAI: Kasus Terbanyak di Jabar

Selama Pandemi 37.706 Anak Terkonfirmasi Covid-19, IDAI: Kasus Terbanyak di Jabar
ilustrasi./twitter

WJtoday, Jakarta - Indonesia sampai saat ini masih dilanda pandemi Covid-19. Tak hanya menyerang usia lajut usia (lansia) dan dewasa saja, melainkan juga menyasar pada anak-anak yang sudah banyak menjadi korban.

Berdasarkan studi retrospektif dari data laporan kasus Covid-19 pada anak yang dirawat oleh dokter anak yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) selama Maret-Desember 2020 atau gelombang pertama Covid-19 didapatkan 37.706 kasus anak terkonfirmasi virus asal Wuhan, China, tersebut.

"Hasil penelitian IDAI tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in pediatrics yang terbit 23 September 2021 lalu," kata Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Aman B. Pulungan dalam keterangannya, Minggu (26/9/2021).

"Penelitian ini adalah gambaran data terbesar pertama kasus Covid anak di Indonesia pada gelombang pertama Covid. Angka kematian yang cukup tinggi adalah hal yang harus dicegah dengan deteksi dini dan tata laksana yang cepat dan tepat," sambungnya.

Angka Kematian Tertinggi Anak Usia 10-18 Tahun

Berdasarkan data tersebut, di antara anak-anak terkonfirmasi Covid yang ditangani oleh dokter anak, angka kematian tertinggi pada anak usia 10-18 tahun (26 persen), diikuti 1-5 tahun (23 persen), 29 hari-kurang dari 12 bulan (23 persen), 0-28 hari (15 persen) dan 6- kurang dari 10 tahun (13 persen).

Sementara itu, Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, Hikari Ambara Sjakti menyebut, berdasarkan laporan tersebut, diperoleh Case Fatality Rate (CFR) Covid pada anak di Indonesia.

"522 kematian dari 35.506 kasus Suspek (CFR 1.4 persen) dan 177 kematian dari 37.706 kasus Terkonfirmasi (CFR 0.46 persen)," ujar dia.

Laporan tersebut, kata Hikari, juga menyebutkan penyebab kematian anak akibat Covid terbanyak dikarenakan faktor gagal napas, Sepsis/Syok Sepsis, serta penyakit bawaan (komorbid).

Sementara, komorbid terbanyak pada anak Covid yang meninggal adalah Malnutrisi dan Keganasan, disusul penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, Tuberkulosis (TBC), penyakit ginjal kronik, celebral palsy, dan autoimun. Sementara 62 anak meninggal tanpa komorbid.

Selain itu, Ketua Satuan Tugas Covid-19 IDAI Yogi Prawira menyebut, penyebab gagal napas dan Sepsis/Syok Sepsis terjadi pada kondisi Covid yang berat. Sehingga pemantauan kondisi, serta tatalaksana secara dini dan tepat sangat penting untuk mencegah terjadinya dua kondisi tersebut.

Daftar Daerah Kasus Anak Positif Covid-19

Lebih lanjut, laporan riset IDAI tersebut juga memaparkan distribusi regional kasus Covid pada anak, di mana terdapat 10 daerah di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi Covid terbanyak yakni Jawa Barat, Riau, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, DIY, dan Papua.

Juga ada 7 daerah dengan kasus kematian anak terkonfirmasi Covid terbanyak, yaitu: Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.

Lalu, Ketua Bidang Ilmiah Pengurus Pusat IDAI Antonius H.Pudjiadi menjelaskan, tidak meratanya deteksi kasus ini terjadi karena fasilitas tes PCR dan fasilitas kesehatan yang berbeda, kapasitas testing PCR saat itu di Indonesia masih rendah dan anak bukan populasi prioritas untuk tes.

"Laporan hasil riset IDAI tersebut juga menyebutkan CFR Covid anak di Indonesia ini jauh lebih tinggi dibanding di negara lain seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa, kemungkinan karena kapasitas pemeriksaan (testing) yang rendah sehingga banyak kasus yang tidak terdeteksi," jelasnya.

Dalam keterangan ini adanya catatan bahwa data Kemenkes pada waktu yang sama mendapatkan 77.254 kasus anak terkonfirmasi Covid dari total kasus 671.778, yaitu sekitar 11.5 persen. Perbedaan jumlah ini terjadi karena di penelitian ini yang terdata hanyalah kasus yang ditangani oleh dokter anak, sedangkan Kemenkes juga masukkan data dari anak yang tidak bergejala dan hasil telusur kontak.***