Ridwan Kamil Tanggapi Temuan Vaksin Covid-19 di Jabar Telah Kedaluwarsa

Ridwan Kamil Tanggapi Temuan Vaksin Covid-19 di Jabar Telah Kedaluwarsa
ilustrasi Vaksin Covid-19

WJtoday, Bandung - Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil atau Ridwan Kamil menganggapi terkait kekhawatiran masyarakat soal ditemukannya vaksin buatan Sinovac yang kedaluwarsa di bulan Maret ini.

Pihaknya sudah memperhitungkan terkait jangka penggunaan vaksin yang diketahui merupakan jatah untuk vaksinasi gelombang pertama tersebut.

Mantan Wali Kota Bandung tersebut mengungkapkan jika vaksin tersebut akan segera habis sebelum masa kedaluwarsa tiba.

"Jadi vaksin itu produksinya beda-beda tanggalnya. Nah yang kemarin ramai di media itu di Jawa Barat yang tanggal 25 Maret kedaluwarsa, tanggal 18 itu sudah akan habis. Jadi jangan khawatir tidak ada di Jawa Barat memakai vaksin kedaluwarsa," kata gubernur yang kerasan disapa Kang Emil itu.

Menaati Prosedur

Pihaknya pun akan melaksanakan vaksinasi sesuai dengan prosedur, sehingga tidak akan mungkin menggunakan vaksin yang telah habis masa pakainya. Ia pun menyebut jika vaksin yang akan kedaluwarsa pada 25 Maret itu akan disuntikkan pada 18 Maret lusa.

"Karena di tanggal 18 yang kedaluwarsa pertama itu sudah selesai dan tidak akan pernah kita melanggar prosedur itu," terangnya.

Hal tersebut turut diaminkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Jabar Dewi Sartika. Ia mengatakan jika vaksin yang masuk kategori gelombang pertama akan segera habis pada 18 Maret 2021.

Vaksin Tersebut Datang di Bulan Desember 2020

Vaksin yang akan segera habis masa pakainya itu diketahui merupakan vaksin dari gelombang pertama yang datang pada Desember 2020 lalu.

Menurut pelaksana tugas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu dalam keterangan tertulisnya mengatakan jika vaksin tersebut merupakan merupakan vaksin CoronaVac batch 1, yaitu sejumlah 1,2 juta dosis dan 1,8 juta dosis untuk tenaga kesehatan.

Ia menambahkan untuk saat ini vaksin telah diberikan kepada seluruh penerima vaksin, hal tersebut akan menghindarkan tercampurnya vaksin kedaluwarsa yang telah habis masa pakainya.

Kejar Herd-Immunity di Jabar

Sementara itu pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini terus berupaya mengejar ketertinggalan proses vaksinasi Covid-19  untuk herd-imunity. Untuk mencapai target itu, setidaknya dibutuhkan 150 ribu suntikan per harinya.

Emil merincikan jika target tersebut bisa terpenuhi dengan menyiapkan minimal 40 gedung besar agar bisa memvaksin sekitar 2.000 orang per hari.

Pihaknya pun membuka kerja sama dengan EO-EO yang ingin bermitra dengan Pemprov untuk mendukung pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

"Kolaborasi ini kalau berhasil akan membuat Jawa Barat sukses dalam menjalankan vaksinasi. Tapi tanpa ada dukungan vaksinasi massal dengan jumlah yang banyak kami khawatir target tidak tercapai vaksin keburu kedaluwarsa," ujar Emil. 

Memaksimalkan Vaksinasi

Emil menambahkan, saat ini berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, angka penerima vaksin Covid-19 di Jabar berada di peringkat pertama dibandingkan provinsi lain.

Namun untuk kalangan lansia, proses vaksinasi masih belum maksimal dan berada di urutan ke tiga. Dengan demikian Pemprov pun akan memaksimalkan penyuntikan untuk para lansia.

"Tadi pagi saya rapat dengan Kementerian Kesehatan kalau untuk vaksinasi profesi publik, kita Jabar peringkat satu paling banyak," ujarnya.***