Ramadan Sebagai Bulan Literasi Bagi Umat Muslim

Ramadan Sebagai Bulan Literasi Bagi Umat Muslim
H. SYAHRIR , S.E, M.I.POL , Anggota Komisi I DPRD Jabar (istimewa)

WJtoday, Bandung - Bulan Ramadan adalah bulan istimewa dan kesempatan yang sangat baik bagi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Bulan Suci Ramadan juga menjadi momentum bagi umat Islam sedunia untuk meningkatkan berbagai ilmu pengetahuannya melalui berbagai kajian dan upaya menuntut ilmu.

Tidak berlebihan jika bulan Ramadhan disebut sebagai bulan literasi bagi umat Islam, karena ada sedikitnya dua momentum yang mendasari mengapa bulan Ramadhan disebut sebagai bulan literasi.

Pertama, pada bulan Ramadan umat muslim memperingati peristiwa turunnya Al-Qur’an
(Nuzulul Qur’an) di mana wahyu pertama kali yang diterima oleh Nabi Muhammad saat
itu adalah surat Al-‘Alaq 1-5. Dalam surat tersebut terdapat pesan untuk membaca (iqra’) dan menulis yang dilambangkan dengan pena (qalam).

Setiap bulan Ramadan umat
muslim lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca (tadarus) /mengaji Al- Qur’an
bersama-sama dengan lebih intens dibandingkan bulan yang lain.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran maka ia akan mendapat satu kebaikan dan dari satu kebaikan itu berlipat menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Bukhari).

Membaca  Alquran dapat menenangkan hati dan pikiran. Semakin rajin membaca Alquran, maka semakin dekat dengan Allah SWT, semakin jiwa tersadarkan dengan keajaiban Al-Quran,
dengan keindahan bahasa dan muatannya, hal ini dapat menambah keimanan kepada Allah SWT.

Membaca Alquran dapat mendatangkan kebaikan dan kemuliaan pada hari kiamat serta Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang mengamalkannya.

Kedua, pada bulan Ramadan, setelah umat muslim mengalami kemenangan dalam perang Bad’r, Nabi Muhammad SAW membuat sebuah kebijakan dengan memerintahkan tawanan  perang untuk mengajari anak-anak membaca dan menulis sebagai syarat kebebasan.

Kebijakan Rasulullah SAW itu kemudian melahirkan para penulis wahyu, pada awalnya hanya Alquran yang boleh ditulis, kemudian pada langkah selanjutnya
haditshadits Nabi Muhammad SAW juga mulai ditulis, sehingga lahirlah sebuah shahifah atau lembaran-lembaran tulisan yang berisi hadits yang ditulis pada zaman Rasulullah SAW.

Shahifah dikenal dengan As-Sahifah As Shadiqah. Dalam Islam, kedua sumber pokok ajaran ini tidak hanya diyakini sebagai panduan atau petunjuk dalam kehidupan beragama tetapi juga sebuah landasan inspirasi dalam membangun kemampuan literasi
umat muslim.

Wallahu ‘Alam Bishoab

Penulis : H. SYAHRIR , S.E, M.I.POL
Anggota Komisi I DPRD Jabar,  - Ketua Dewan Pembina GLN (Gerakan Literasi Nasional) Gareulis Jawa Barat