Rais Syuriah PWNU Jabar Tanggapi Wacana Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama Diundur

Rais Syuriah PWNU Jabar Tanggapi Wacana Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama Diundur
Muktamar ke 34 Nahdlatul Ulama di Lampung diwacanakan bakal diundur atau ditunda hingga akhir Januari 2022. (youtube)

WJtoday, Bandung  - Muktamar ke 34 Nahdlatul Ulama di Lampung diwacanakan bakal diundur atau ditunda hingga akhir Januari 2022. Sedianya, muktamar ini bakal digelar pada 23-25 Desember 2021. 

Rais Syuriah PWNU Jabar, KH Dr Abun Bunyamin mendukung terkait wacana penundaan atau pemunduran jadwal muktamar ini sampai akhir Januari 2022 sekaligus bertepatan pada hari lahirnya ke 96 NU. 

"Covid ini memang harus diperhatikan. Kalau tidak menjaga protokol kesehatan apalagi di masa PPKM level 3, kami ingin muktamar nanti sukses tanpa ekses. Dan benar-benar penyelenggara di Lampung sudah siap tak sedang dalam kondisi asal-asalan," ujar Abun di Bandung, Kamis (25/11/2021).

Berdasarkan informasi dari penyelenggara di Lampung, lanjutnya jika muktamar dilaksanakan pada 23-25 Desember 2021 masih banyak kendala. Apalagi jika sampai mempercepat waktu muktamarnya, sehingga penundaan ini baik demi kemaslahatan bersama.

"Ya akan lebih baik muktamar ini ditunda sambil melihat aspek kesehatan, kesiapan, kenyamanan, ketenangan, dan kesejukan," sebutnya.

Adapun terkait calon yang diusung nanti dalam muktamar, Abun mengaku PWNU Jabar belum melakukan rembugan terkait hal itu.

"Tapi, yang jelas dukungan sudah ada di hati kami. Nanti pada waktunya akan disampaikan," tandasnya.

Untuk diketahui, sejumlah Kiai sepuh Nahdatul Ulama (NU) dari berbagai daerah telah mengadakan pertemuan di Jakarta.

Dalam keterangan resmi pada Rabu (24/11), sebenyak sembilan  Kiai sepuh Nahdatul Ulama mengadakan pertemuan untuk membuat keputusan khususnya meminta Muktamar ke-34 PBNU diundur hingga Januari 2022.

Adapun para kia sepuh Nahdatul Ulama yang melakukan pertemuan tersebut diantaranya, H Anwar Mansyur dari Jawa Timur, KH Abuya Muhtadi Dimyati dari Banten, Tuanku Bagindo H Muhammad Letter dari Sumatera Barat, dan KH Manarul Hidayat dari Jakarta.

Kemudian, Dr. KH Abun Bunyamin dari Jawa Barat, KH Ahmad Haris Shodaqoh dari Jawa Tengah, KH Abdul Kadir Makarim dari NTT, KH Muhsin Abdillah dari Lampung, dan Dr KH Farid Wajdy dari Kalimantan Timur.  ***