Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bermasalah, Ini Kata Ekonom Senior Faisal Basri

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bermasalah, Ini Kata Ekonom Senior Faisal Basri
Ekonom Senior, Faisal Basri./twitter

WJtoday, Jakarta - Ekonom senior, Faisal Basri turut memberikan pendapatnya terkait dengan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang biayanya membengkak.

Perlu diketahui, biaya proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung membengkak atau mengalami cost overrun menjadi 8 miliar dolar AS atau setara Rp 114,24 triliun.

Dengan estimasi tersebut, terdapat kenaikan sebesar 1,9 miliar dolar AS atau setara Rp 27,09 triliun dari rencana awal pembangunan KCJB sebesar Rp 6,07 miliar dolar AS ekuivalen Rp 86,5 triliun.

Dalam cuitannya di akun twitter @FaisalBasri, dia mengatakan bahwa proyek kereta cepat Jakarta-Bandung mengalami cost overrrun miliaran dolar.

“Proyek mubadzir ini sudah ditengarai bermasalah sejak awal,” ujarnya sebagaimana dikutip, Sabtu (4/9/2021).

Pada kesempatan itu, dia juga menyematkan tautan tulisannya 6 tahun silam tentang proyek tersebut yang dimuat di laman Faisal Basri: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tidak Mendesak.

Baca Juga : Masalah Bengkaknya Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Ini Instruksi dari Menko Marves Luhut

Faisal menganalisis bahwa kalau lancar, Jakarta-Bandung bisa ditempuh paling lama 2 jam lewat jalan tol Cipularang. Pilihannya pun banyak, bisa dengan kendaraan pribadi, travel seperti Cititrans atau Baraya atau Cipaganti dan banyak lagi, dan bus.

Titik awal dan titik akhir sangat banyak. Mau dari Bandara Soekarno-Hatta, Hotel Kartika Chandra, SCBD, Bintaro, BSB, Kampung Rambutan, Lebak Bulus, dan banyak lagi.

Di Bandung bisa turun dimana saja sejak keluar dari pintu tol Pasteur hingga tujuan akhir yang beragam pula. Jadi sangat fleksibel, dari titik awal terdekat dengan rumah atau kantor ke tujuan akhir yang paling dekat.

Pilihan lain adalah kereta api Parahyangan dari Gambir atau Jatinegara. Waktu tempuh lebih pasti, sekitar 3 jam. Bisa juga naik pesawat, sekitar 20-25 menit.

Kereta cepat (bullet train) ditargetkan sekitar 45 menit. Jadi mengirit waktu 2 jam 15 menit dibandingkan dengan kereta api Parahyangan atau 1-1,5 jam lebih cepat dibandingkan dengan kendaraan pribadi atau travel tanpa macet.

Menurutnya, kehadiran kereta cepat sangat tidak mendesak. Apalagi mengingat kereta cepat sejenis Shinkansen pada galibnya hadir untuk jarak jauh seperti Tokyo-Osaka yang jaraknya hampir sama dengan Jakarta-Surabaya.

Hingga Sabtu siang, cuitan Faisal itu disukai oleh 2.800 pengguna twitter dan di-tweet kembali oleh 1000 pengguna serta dikomentari oleh 110 pengguna.***