Perang Baliho Politikus Bikin Masyarakat Muak, Pengamat: Tiket Menang Pilpres 2024 adalah Sukses Atasi Covid

Perang Baliho Politikus Bikin Masyarakat Muak, Pengamat: Tiket Menang Pilpres 2024 adalah Sukses Atasi Covid

WJtoday, Jakarta - Belakangan sejumlah partai politik seperti PDIP, Golkar, PKB hingga Partai Demokrat mulai berbondong-bondong memasang baliho Ketum hingga kadernya untuk proyeksi Pilpres 2024. 

Baliho masih menjadi pilihan partai politik di Indonesia untuk memperkenalkan para elite hingga kader partai.

Lantas masih efektifkah baliho yang dipasang tersebut di tengah kondisi Indonesia yang sudah mulai masuk era digital?

Hal tersebut dijelaskan oleh Pakar politik dari CSIS, Arya Fernandes. Awalnya Arya menjelaskan terkait penetrasi digital secara nasional di Indonesia yang masih berada pada kisaran 35-40 persen.

"Penetrasi digital itu secara nasional itu masih di kisaran 35-40% orang yang punya akases ke digital, itu maksudnya terkoneksi dengan internet. Di tingkat populasi akses publik terhadap digital atau terhadap internet belum tinggi, masih di kisaran 35-40%," kata Arya melalui keterangannya,  dikutip Jumat (6/8/2021).

Arya menjelaskan 35-40 persen pengguna digital atau internet itu juga hanya pada masyarakat yang berada di kota-kota urban. Selain itu, kata dia, yang mendominasi populasi 35-40 persen itu juga merupakan kaum milenial atau generasi Z.

"35-40% itu umumnya terkonsentrasi di kota-kota urban ya, kota-kota ya, di daerah daerah lural atau pedesaan yang karakter pedesaaan itu sebagian besar orang belum terkoneksi internet dan digital. Selanjutnya populasi sekitar 30-40% populasi yang tekroneksi interet umumnya juga didominasi dengan kalangan muda, anak anak milenial atau generasi Z," ucapnya.

Atas dasar kondisi itulah, Arya menyebut partai politik akhirnya masih mengandalkan baliho sebagai alat peraga kampanye. Dia menyebut baliho mampu menjangkau hingga ke daerah-derah yang masyarakatnya belum terjamah oleh internet.

"Nah situasi digital seperti itu yang mebuat akhirnya partai masih memilih cara tradisional, cara lama, yaitu mempopulerkan diri atau memperkenalkan diri ke masyarakat lewat baliho. Kenapa baliho? Karena dapat menjangkau daerah-daerah lural dan populasi yang orangnya nggak punya akses internet gitu," ujarnya.

Namun yang menjadi pertanyaan efektifkah baliho? Arya menjelaskan efektiftas baliho bergantung pada pihak yang memasang. Dia menyebut memang tidak cukup hanya dengan memasang baliho lalu masyarakat akan memilih.

"Nah sekarang pertanyaannya tadi, apakah masih efektif? Nah orang ketika lihat baliho itu mereka belum tentu akan memilih, jadi ada beberapa yang harus disiapkan oleh partai, kader partai, atau capres untuk dapatkan mafnaat supaya baihonya efektif gitu ya," jelasnya.

Dia menyebut efektif baliho bergantung pada pesan yang berada pada baliho. Selain itu, target baliho hingga cara mengemas sampai penempatan baliho juga akan memengaruhi efektivitas baliho.

"Efektivitas baliho dalam hal mempengaruhi pemilih ditentukan oleh apa pesan yang ingin disampaikan, apakah pesan menarik bagi publik? jadi isu di publik apa enggak? Apa jadi concern publik atau nggak? Jadi kebutuhan publik atau nggak? Itu narasinya pesannya. Kedua siapa segmennnya yang igin disasar, apa anak muda? Petani? Nelayan? Buruh? Pedagang? Ketiga gimana mengemasnya? Packaging juga penting, design mungkin, penempatan mungkin," sebutnya.

Namun demikian, Arya menyebut kampanye dengan menggunakan media sosial juga tetap penting dilakukan. Selain berbiaya murah, menurutnya, kampanye di media sosial mampu menjangkau masyarakat hingga ke seluruh Indonesia.

"Dalam kompetisi yang ketat, misal kandidat A dan kandidat B ketat nih, itu sosial media, internet jadi penting. Dan kampanye digital itu berbiaya murah juga dibandingkan baliho, kalau baliho orang harus biaya cetak, biaya pasangnya, biaya jaganya supaya nggak diturunin orang. Kalau internet orang anytime, kapanpun dimanapun dia mau beriklan atau berkampanye di medsos gratis gitu dan coveragenya juga lebih luas Se-Indonesia, makanya kampanye di masa depan kalau koneksi sudah meningkat, kampanye masa depan itu ya kampanye digital," ungkapnya.

Tiket Menang Pilpres 2024 adalah Sukses Atasi Covid, Bukan Pasang Baliho

Berbagai baliho berukuran besar yang dipasang sejumlah elite politik di berbagai daerah dinilai sebagai ancang-ancang untuk Pilpres 2024.

Namun, publik menanggapi sinis maraknya baliho elite politik tersebut. Selain karena Pilpres 2024 masih lama, pemasangan baliho juga dinilai tidak berempati dengan kondisi bangsa yang berjuang melawan pandemi Covid-19.

Pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas), Andi Yusran mengatakan, seharusnya para elite itu tidak genit di tengah penderitaan rakyat.

Bahkan menurut Andi, elite politik akan mudah melenggang jika berhasil menunjukkan kerja nyata dalam membantu mengatasi pandemi Covid-19.

"Keberhasilan dalam menyelesaikan pandemi ini bisa menjadi tiket ke kursi Presiden di 2024," kata Andi, Kamis (5/8).

Namun sebaliknya, imbuh Andi, gagal mengatasi pendemi juga berdampak buruk. Hal itu diperparah dengan pemasangan baliho sehingga menciptakan citra kontraproduktif di masyarakat.
Pas
Akibatnya, publik akan melabeli para politisi ini sebagai elite gagal. Dam tentu saja bisa jadi faktor resistensi dalam politik elektoral Pilpres mendatang.

Perang Baliho Para Politikus Dinilai Justru Bikin Masyarakat Muak

Pakar Komunikasi UI Firman Kurniawan Sujono mengatakan memang baliho memiliki keunggulan tersendiri. Apalagi di tempat strategis yang banyak orang berlalu lalang, baliho akan menjadi pusat perhatian publik.

"Secara umum billboard/baliho/media luar ruang memiliki keunggulan: mudah dilihat, karena diletakkan di jalan-jalan yang terbukti banyak dilalui kendaraan. Ukurannya yang besar, secara struktural 'memaksa' orang untuk melihatnya. Apalagi kalau diletakkan di kawasan yang strategis pasti tak terhindarkan orang lewat tak bisa mengelak," kata Firman kepada wartawan, Rabu (04/08) malam.

"Selain itu, pada ukurannya yang ekstra besar, biasanya pesan yang dimuat tak banyak. Karena waktu yang singkat, orang untuk melalui jalanan. Sehingga pesan akan sistematis dan fokus. Dalam keadaan jumlahnya tak berlebihan, di jalan tempat memasang baliho, alat komunikasi ini akan menarik perhatian dan mampu mengantarkan pesan," lanjutnya.

Masyarakat bisa jenuh

Menurut Firman di musim kampanye perang baliho antarpolitikus akan menjadi kejenuhan bagi masyarakat. Sehingga menurutnya, pesan yang ada di baliho tidak sampai di masyarakat, tapi malah sebaliknya.

"Namun, dalam musim kampanye atau event lain, di mana terjadi kompetisi baliho, justru kejenuhan yang terjadi. Pesan memang memaksa masuk, tapi persepsi yang terbentuk bisa negatif. Masyarakat muak, dan secara sadar memilih bersikap sebaliknya dari tujuan pesan. Masyarakat menolak pesan," ujarnya.

Lebih baik dilakukan di media sosial

Firman menilai seiring perkembangan teknologi aspek kreativitas dibutuhkan agar pemasangan baliho menjadi efektif. Lebih baik lagi menurutnya jika baliho itu membuat masyarakat bergerak untuk membagikan ke media sosial.

"Aspek kreativitas misalnya, berupa tampilan unik baliho, yang membuat orang memperhatikan, memotretnya, dan memuatnya di media sosial. Di sini, baliho yang kreatif mengalami alih wahana ke media lain. Lebih banyak orang yang menyimak ketika tampil di media sosial, karena ada orang ingin menceritakan keunikannya," ucapnya.

Hal kreatif lain, menurut Firman, adalah pemasangan sensor di baliho, sehingga pesan yang ada di baliho dapat terdeteksi langsung di alat komunikasi yang dimiliki para pemakai jalan yang melewati baliho tersebut.

"Selain itu, dengan memanfaatkan teknologi, baliho bisa dipasangi sensor yang mampu merekam kartu seluler apa saja yang dipakai pengendara kendaraan, dan melewati baliho. Hasil perekaman ini bisa dianalisis: yang banyak lewat, pemakai kartu prabayar atau pascabayar? Dari operator mana? Jam berapa baliho dilewati? Berapa lama melintas di depan baliho? Sehingga, dengan data yang dipanen, dapat disusun pesan yang lebih tepat, sesuai karakter orang yang melintasinya," lanjut Firman.

Bukan sekadar jumlah dan posisi pemasangan

Menurut Firman, penggunaan baliho bukan lagi terkait jumlah atau di mana baliho itu terpasang. Firman mengatakan hal itu akan sia-sia.

"Jadi baliho hari ini bukan sekadar urusan kuantitas: besar, banyak, ada di mana-mana, memampangkan foto politikus atau pejabat publik. Bahkan ada baliho yang berisi imbauan dari lembaga tertentu yang panjang dan rinci. Ini pasti tak digubris pemakai jalan, karena waktu mereka yang pendek dan pesan yang membosankan," ujarnya.

"Dengan memanfaatkan teknologi, bisa disusun pesan yang tepat, sesuai perilaku pengguna jalan. Terlebih jika baliho dapat hadir sebagai properti keindahan sebuah kota. Bukan malah merusaknya," tuturnya.***