Pemerintah Harus Ambil Langkah Kongkrit Cegah Merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku dari Jatim

Pemerintah Harus Ambil Langkah Kongkrit Cegah Merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku dari Jatim
Gubernur Khofifah saat meninjau pengobatan Hewan Ternak Sapi milik H. Bakri di Dusun Wates, Desa Kedungpring, Kec. Balongpanggang, Sabtu (7/5/22)

WJtoday, Bandung  - Munculnya kembali Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK (Foot and Mouth Disease) di Jawa Timur pada hewan ternak diyakini akan berdampak serius bagi industri peternakan nasional

Sebagai Negara yang sudah dinyatakan bebas dari penyakit mulut dan kuku, outbreak yang terjadi di Jawa Timur ini merupakan musibah dan pukulan berat bagi industri peternakan dan berpotensi merugikan kegiatan ekonomi.

Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP) meminta pemerintah  fokus terhadap munculnya virus PMK yang disebut sangat mudah menyebar dan melalui udara mampu menempuh jarak sekitar 200 kilometer.

Ketua Umum KKP Teguh Boediyana mengatakan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian serta instansi terkait perlu segera mengambil langkah konkrit untuk menghambat laju proses penularan PMK dari Jawa Timur ke Propinsi lain.

Kemudian meminta Presiden Joko Widodo untuk mengambil langkah cepat membentuk Satuan Tugas untuk mengatasi masalah tersebut .

"Apabila diperlukan dilakukan pemusnahan hewan tertular serta ketersediaan dana tanggap darurat  untuk penanganan penyebaran PMK termasuk ketersediaan vaksin yang dibutuhkan serta pemberian kompensasi bagi peternak rakyat yang ternaknya tertular PMK," ujar dia lewat keterangan tertulis, dikutip Senin ( 9/5/22).

Selain itu Teguh juga meminta agar pemerintah segera mengantisipasi implikasi merebaknya PMK terhadap hambatan ekspor yang akan dihadapi Indonesia. Karena dipastikan negara yang statusnya bebas PMK akan melarang masuknya berbagai produk dari Indonesia.

Serta diminta agar meninjau kembali berbagai peraturan dan kebijakan yang berpotensi membuat PMK masuk. Juga perlu dipertimbangkan kembali menerapkan kebijakan maximum security atas masuknya produk hewan atau hewan ke wilayah Indonesia.

"Dan presiden perlu segera memerintahkan untuk melakukan tracing atau penelusuran asal terjadi dan masuknya PMK ke wilayah Negara kita dan memberikan sanksi bagi yang bertanggung jawab  atas masuknya PMK," tutur Teguh.

Sebagai Informasi Tanda klinis penyakit PMK pada hewan ternak meliputi, demam tinggi (39-41 derajat celcius), keluar lendir berlebihan dari mulut dan berbusa, Luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah, tidak mau makan, kaki pincang, luka pada kaki dan diakhiri lepasnya kuku. Hewan akan sulit berdiri, gemetar, napas cepat, produksi susu turun drastis, dan menjadi kurus. 

Sebelumnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengumuman bahwa di Jawa Timur telah terjadi outbreak  Penyakit Mulut dan Kuku  di mana penyakit tersebut oleh Badan  Kesehatan Hewan Dunia (OIE) dimasukkan sebagai penyakit hewan yang paling berbahaya dan masuk daftar A.

Khofifah menegaskan bahwa untuk daging dari hewan yang terkonfirmasi PMK masih bisa dikonsumsi. Akan tetapi, pihaknya ingin agar masyarakat bisa mendapatkan daging yang segar dari sapi sapi atau hewan ternak yang sehat. 

"Kalau dagingnya tidak berbahaya dan aman dikonsumsi dengan cara memasak yang benar tetapi kan kita ingin masyarakat mendapatkan daging yang sehat. Terlebih sebentar lagi akan memasuki Idul Adha dan suasana ini akan kita bangun setenang mungkin terutama bagi peternak kita," ujar Khofifah dikutip dari keterangan resmi Dinas Kominfo Jatim, Sabtu (7/5/22). ***