Pemberitaan Dugaan Pemerkosaan di Luwu: Solidaritas Media Melawan Blokade Informasi

Pemberitaan Dugaan Pemerkosaan di Luwu: Solidaritas Media Melawan Blokade Informasi
Ilustrasi (antara)

WJtoday, Bandung - Belum lama ini situs pemberitaan Project Multatuli mengangkat liputan “Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor Polisi, Polisi Menghentikan Penyelidikan” (Rabu, 6 Juli 2021) terkait kasus di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. 

Namun dalam waktu singkat pihak humas kepolisian Luwu Timur membantah pemberitaan tersebut dan memberi cap HOAX terhadap berita tersebut. 

Tak hanya itu, situs Project Multatuli pun mendapat serangan digital bertubi-tubi, DDoS (Distributed Denial of Service) yang membuat situs media ini pun jadi tak dapat diakses oleh publik.

Sementara dukungan simpati dari kalangan pembaca dan netizen melimpah kepada pihak Project Multatuli, yang juga menarik adalah dukungan dari sejumlah media terhadap Project Multatuli itu pun tak kalah melimpah. 

Yang menarik dukungan dari pihak media dilakukan dengan acara menerbitkan kembali berita yang ditahan penyebaran tersebut. Sejumlah media online yang sudah menerbitkan ulang berita perkosaan tersebut antara lain: tirto.id, kompas.com, suara.com, asumsi.co, Jaringan GusDurian, catchmeupid, tempo.co, wjtoday.com, indoprogress, hakasasi.id, dan banyak lagi. Belum lagi dengan sejumlah pribadi yang juga memublikasi ulang berita yang disensor tersebut. 

Baca juga: Kisah Miris Ibu di Luwu, Tiga Anak Diperkosa, Polisi Malah Hentikan Penyelidikan

Rasanya belum pernah dalam sejarah republik ini, kalau boleh saya katakan bahwa ada bentuk solidaritas media yang demikian luas terhadap blokade pemberitaan yang dilakukan oleh suatu pihak.

 Solidaritas wartawan pernah ditunjukkan Mochtar Lubis dan kawan-kawan ketika wartawan Asa Bafagih pada tahun 1950an divonis hakim karena dianggap membocorkan rahasia negara atas liputannya. 

Ada juga solidaritas lain ditampilkan tak lama setelah pembredelan tiga mingguan pada bulan Juni 1994 (Tempo, Detik dan Editor) yang kemudian melahirkan Aliansi Jurnalis Independen. 

Tetapi solidaritas dalam bentuk mempublikasikan kembali pemberitaan yang diblokade ataupun disensor, rasanya ini baru pertama kali terjadi. Dan ini luar biasa. 

Salut bagi rekan-rekan jurnalis dari berbagai pihak yang saling menggandengkan tangan untuk melawan kekuasaan semena-mena yang hendak menutup arus informasi yang ada. Inilah juga berkat dari kehadiran digitalisasi dan fenomena media digital saat ini.

Mengangkat masalah yang ada dalam masyarakat adalah tugas pers, tugas media, agar ia tetap relevan bagi kepentingan masyarakat. Ia pun menyuguhkan informasi yang dibutuhkan untuk masyarakat dan membaca kisah tragis dari keluarga di Luwu Timur itu, masyarakat pun ingin melihat adanya keadilan ditegakkan. Bukan malah sumber informasinya dihalangi ataupun ditutupi. 

“Jangan salahkan lantai jika tidak pandai menari”...  “Jangan bunuh pembawa berita” (Don’t Shoot / Kill the Messenger).... Itu ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar terkait dengan masalah penutupan informasi dari kalangan penguasa kepada media atau jurnalis.

Kesadaran solidaritas ini perlu terus dipupuk karena ekosistem media saat ini banyak dipengaruhi kekuatan oligarki memungkinkan bisa terjadi blokade informasi. 

Solidaritas semacam ini perlu terus dipupuk untuk memberikan perlawanan terhadap upaya-upaya untuk menutupi atau mengaburkan informasi yang diperlukan oleh masyarakat.

Pengalaman yang terjadi di Amerika mungkin bisa jadi rujukan juga. Ketika CBS 60 minutes mendapatkan tekanan dari pemiliknya untuk tidak menyiarkan wawancara dengan mantan peneliti di salah satu perusahaan rokok di Amerika, produser CBS pun mengontak rekan jurnalis di New York Times dan berbagi cerita soal pengalaman blokade informasi ini. 

Akibatnya informasi pun tetap tersebar ke publik dan publik mengetahui ada yang tidak beres dalam urusan segitiga ini: perusahaan rokok-perusahaan media-pemilik media. Pengalaman ini bisa dilihat dalam film produksi tahun 1999: The Insider yang dibintangi oleh Al Pacino dan Russel Crowe. 

Solidaritas menjadi penanda media-media yang turut di dalamnya merasakan betapa sakitnya ketika berita yang telah dihasilkannya lalu dicap sebagai hoax dan kemudian situs pemberitaannya pun mendapatkan serangan digital yang bertubi-tubi. 

Walaupun Project Multatuli adalah media pemberitaan baru, namun ia telah menunjukkan hasil karyanya yang patut dipuji karena menghasilkan karya jurnalistik sejujur-jujurnya dan juga mau membela mereka-mereka yang telah lama tak didengarkan. Dan solidaritas semacam ini perlu terus dilakukan ke depannya.  ***

*Ignatius Haryanto (Anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, dan kandidat doktor komunikasi)