Pemberian Stimulus bagi UMKM tak Bisa Disamaratakan

Pemberian Stimulus bagi UMKM tak Bisa Disamaratakan
Toriqoh Nasrullah Fitriyah: Pemberian Stimulus bagi UMKM tak Bisa Disamaratakan
WJtoday, Bandung - Pandemi virus corona penyebab Covid-19 membuat sektor ekonomi dan dunia usaha di Indonesia menerima pukulan berat. Sebagian besar pukulan itu harus dirasakan pelaku usaha kecil dan menengah ( UMKM). 

Kelompok ini harus berjuang keras untuk tetap bisa bertahan meskipun bisnisnya terhambat atau justru mengalami kerugian. Pemerintah mencoba hadir dan membantu memberi stimulus bagi masyarakat dan UMKM melalui kebijakan relaksasi kredit, bantuan langsung tunai (BLT), atau modal investasi.

Anggota Komisi III DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) Thoriqoh Nasrullah Fitriyah menilai pemerintah tidak bisa memberikan stimulus bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) secara sama rata. 

Dia mengatakan hal tersebut karena menurutnya kondisi dan kebutuhan dari UMKM untuk menghadapi pandemi Covid-19 berbeda-beda.

"Menurut saya ada UMKM yang memiliki risiko keuangan tinggi, rendah, serta UMKM dengan dampak Covid-19 yang ringan dan berat." kata Thoeiqoh di Bandung, Selasa (7/7/2020).

"Jangan disamaratakan, jadi dipilah dulu UMKM, setelah itu baru diberikan stimulus yang sesuai dengan urgensi kebutuhannya," ambahnya.

Dia mengutarakan, untuk UMKM yang dampaknya ringan dan risiko keuangannya rendah, maka stimulus yang diperlukan adalah berupa modal kerja dan kredit investasi. 

Sementara bagi UMKM yang memiliki risiko keuangan tinggi dan dampak keuangannya berat, seharusnya stimulus yang diberikan pemerintah berupa bantuan langsung tunai (BLT) tanpa bantuan modal kerja dan kredit investasi.

"Untuk UMKM yang risiko keuangannya tinggi, namun dampaknya selama pandemi Covid-19 rendah, menurutnya, perlu diberi restrukturisasi kredit." tandasnya. ***