Pembatasan Aktivitas Masyarakat, Omset Pedagang Pasar Baru Bandung Turun 90 Persen

Pembatasan Aktivitas Masyarakat, Omset Pedagang Pasar Baru Bandung Turun 90 Persen
Pasar Baru Bandung

WJtoday, Bandung - Kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat akibat lonjakan kasus Covid-19 mengakibatkan ribuan pedagang Pasar Baru Trade Center Bandung, Jalan Otto Iskandardinata (Ottista), nyaris bangkrut. 

Mirisnya, di tengah situasi tersebut, mereka tetap dibebani uang sewa toko, termasuk tagihan listrik oleh PD Pasar Bermartabat yang merupakan BUMD milik Pemkot Bandung.

"Kami minta tidak muluk-muluk. Pedagang diberikan keringan aja, biaya pelayanan (service charge). Kami mau ngadu-ngadu ke siapa? Setan? Kan ini pasar dikelola pemerintah, masak pemerintahan berbisnis dengan rakyat," kata Ketua Himpunan Pedahang Pasar Baru Bandung (HP2B) Iwan Suhermawan, Sabtu (26/6/2021).

Kondisi tersebut, ujar Iwan, juga diperparah dengan adanya kebijakan buka tutup Jalan Otto Iskandardinata yang merupakan akses utama menuju pasar terbesar di Asia Tenggara itu. 

Iwan mengemukakan, kebijakan buka tutup jalan yang diberlakukan setiap hari libur dan akhir pekan mengakibatkan Pasar Baru semakin sepi pengunjung. Tanpa ada penutupan jalan pun, kata Iwan, Pasar Baru sudah sepi. 

"Serba salah, kami minta dibuka jalan, nanti opini publik pedagang tidak mendukung upaya penangan Covid, tapi kalau kami gak bicara kami kesulitan. Kami juga harus bayar karyawan dan operasional lainnya," ujarnya. 

Iwan menuturkan, kondisi Pasar Baru kini sudah sangat mengenaskan. Hampir seluruh pedagang Pasar Baru kini nyaris bangkrut. Bahkan, tidak sedikit pula pedagang yang sudah gulung tikar. 

"Omset anjlok 90 persen lebih, bahkan ada pedagang yang tidak laku hampir satu minggu. Pedagang yang menutup usahanya bertambah, dari 50 persen, sekarang 60 persen," tutur Iwan. 

Oleh karena itu, kata Iwan, Pemkot Bandung segera turun tangan memberikan bantuan yang sifatnya meringankan beban pedagang. Pasalnya, sejak pembatasan aktivitas masyarakat, Pemkot Bandung dinilainya tidak berempati kepada para pedagang. 

"Dari PD Pasar Bermartabat juga tidak ada keringanan. Aturan sangat kaku dan tetap harus bayar jongko. Pokoknya mau buka atau tidak harus bayar," ucap Ketua HP2B.***