Pasca Pemadaman Total, Dalam 15 menit PLTA Saguling Pulihkan Pasokan Listrik

Pasca Pemadaman Total, Dalam 15 menit PLTA Saguling Pulihkan Pasokan Listrik
PLTA Saguling Beroperasi sejak 1985, dikelola dan dioperasikan oleh Indonesia Power sebagai anak usaha PT PLN (Persero). (Instagram)

WJtoday, Jakarta  - PT Indonesia Power mengklaim sistem blackstart PLTA Saguling hanya memerlukan waktu 15 menit untuk menyalakan listrik pasca terjadi pemadaman total atau blackout di Jawa-Bali.

"15 menit cukup untuk menormalisasikan ketika terjadi blackout," kata Direktur Utama Indonesia Power Ahsin Sakho di Bandung, Jumat (12/11/21).

Sistem blackstart pada pembangkit berfungsi untuk menjaga keberlangsungan sistem tenaga listrik saat terjadi pemadaman listrik total.

Pembangkit yang bisa melakukan blackstart adalah unit yang bisa dioperasikan dari kondisi berhenti sampai berbeban penuh meski tanpa bantuan pasokan energi dari pembangkit lain.

Apabila terjadi pemadaman listrik total, maka pembangkit yang memiliki fasilitas blackstart dapat membantu pembangkit berdaya besar untuk bisa kembali beroperasi menyalakan listrik di suatu wilayah atau pulau.

Ahsin menjelaskan bawah pengisian daya pertama untuk memulihkan kondisi pasca blackout dilakukan oleh PLTA Saguling, lalu line charging ke PLTU Suralaya yang berkapasitas 3.440 megawatt.

Sistem blackstart cepat yang dimiliki PLTA Saguling menjadikan pembangkit energi terbarukan ini punya peran vital bagi sistem kelistrikan di Jawa-Bali.

Petugas cukup membuka keran pipa untuk mengalirkan air dari Waduk Saguling agar bisa menggerakkan turbin dan membuat listrik menyala, sehingga PLTA Saguling menjadi alat energize karena pengoperasian pembangkit ini sederhana dan daya yang dihasilkan juga besar.

Beroperasi sejak 1985, pembangkit yang dikelola dan dioperasikan oleh Indonesia Power sebagai anak usaha PT PLN (Persero) ini merupakan pembangkit pendukung beban puncak di sistem Jawa-Bali.

PLTA Saguling berkapasitas 700,72 megawatt dan berkontribusi sebesar 2,5 persen dari sistem Jawa-Bali yang memiliki total kapasitas 27,7 gigawatt.

Pembangkit ini mengemban tiga fungsi utama, yaitu baseload, stabiliser, dan mengurangi emisi karena menggunakan energi terbarukan yang bersumber dari air.***