Pandai Menjaga Perasaan Orang Lain, Akhlak Mulia Dicontohkan Rasulullah

Pandai Menjaga Perasaan Orang Lain, Akhlak Mulia Dicontohkan Rasulullah
Ketika berinteraksi dengan orang lain dalam pergaulan sehari-hari, baik dengan keluarga, sahabat, rekan di tempat kerja atau dengan siapa saja kita harus mengedepankan akhlaqul karimah yaitu akhlak mulia sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW. (wjtoday/yoga enggar)

WJtoday, Bandung - Ketika berinteraksi dengan orang lain dalam pergaulan sehari-hari, baik dengan keluarga, sahabat, rekan di tempat kerja atau dengan siapa saja kita harus mengedepankan akhlaqul karimah yaitu akhlak mulia sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Hal tersebut perlu dilakukan agar tali silaturrahmi, hubungan kita dengan sesama dapat terus terjalin dengan baik. Salah satu akhlaq yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah bagaimana seharusnya menjaga perasaan orang lain.

Seperti dikisahkan, pada suatu ketika datanglah seorang miskin untuk bertamu kepada Rasulullah SAW dengan membawa hadiah semangkuk buah anggur. Rasullullah SAW pun menerima hadiah dari si miskin tersebut dan mulai memakannya.

Biasanya, Rasulullah SAW selalu berbagi memberi makanan kepada para sahabat jika ada orang yang memberi sedekah dan Beliau sendiri tidak ikut makan. Sementara jika ada orang yang memberi hadiah, Rasulullah juga berbagi dan memberi kepada para sahabat dan Beliau pun turut makan bersama para sahabatnya.

Namun kali ini berbeda, Beliau memakan dan menghabiskan sendiri hadiah pemberian orang miskin tersebut. Rasulullah pun mulai memakan buah pertama lalu tersenyum kepada orang tersebut. Kemudian Beliau mengambil buah kedua dan memakannya lalu tersenyum kembali kepada si miskin tersebut.

Orang yang memberi anggur itu terlihat sangat senang, serasa terbang bahagia karena melihat Rasulullah menyukai hadiahnya. Sementara para sahabat melihat Beliau dengan penuh rasa heran. Tak biasanya Rasulullah SAW makan sendirian tanpa berbagi dengan para sahabatnya.

Satu per satu anggur itu diambil oleh Rasulullah dengan selalu tersenyum, hingga semangkuk anggur itu habis tak bersisa. Para sahabat semakin heran dan orang miskin itu pulang dengan hati penuh bahagia karena Rasulullah SAW sangat menyukai hadiahnya.

Lalu seorang sahabat dengan penuh keheranan bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak mengajak kami ikut makan bersamamu?”

Rasullullah pun tersenyum dan menjawab: “Kalian telah melihat bagaimana wajah bahagia orang itu dengan memberiku semangkuk anggur. Dan ketika aku memakan anggur itu, kutemukan rasanya masam. Dan aku takut jika mengajak kalian ikut makan denganku, akan ada yang menunjukkan sesuatu yang tidak enak hingga merusak kebahagiaan orang itu.”

Demikianlah kebesaran dan kelembutan hati Rasulullah SAW dalam menjaga perasaan orang lain. Apalagi yang mampu kita ucapkan ketika melihat akhlak dan budi pekerti beliau, sungguh benar Firman Allah SWT yang berbunyi: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS Al-Qalam: 4).

Kisah singkat tersebut menggambarkan Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bagaimana menjaga perasaan orang lain, dengan menjaganya dari lidah dan perilaku kita.

Banyak orang ketika berbicara, karena tidak pandainya memilih kata dan kalimat yang baik, maka yang keluar adalah kalimat yang menyakitkan, membuat orang tersinggung, antipati bahkan mungkin marah. 

Agar kita terhindar dari beberapa malapetaka atau karma karena menyakiti perasaan orang lain, berikut ini beberapa kiat atau cara untuk menjaga perasaan orang lain dalam pergaulan, diantaranya adalah;

1. Jangan Mengolok-olok (‘Adamus sukriyah)
2. Jangan mencela (Adamul Lamz)
3. Meninggalkan panggilan buruk (Tarkut Tanabutz)
4. Berbaik sangka (Husnudzon)
5. Tidak mencari-cari kesalahan (‘Adamut Tajasus)
6. Meninggalkan gunjingan (Ijtinalul ghibah)

Semoga kita termasuk orang yang pandai menjaga perasaan orang lain, dengan jalan menjaga perkataan dan perilaku kita sendiri. Wallahu a’lam bishshowab.  ***
(Pam: sumber: imamhanafie.com)