Ombudsman Investigasi Dugaan Pengambilalihan Tanah Warga untuk Proyek Pipa Bandung-Cilacap

Ombudsman Investigasi Dugaan Pengambilalihan Tanah Warga untuk Proyek Pipa Bandung-Cilacap
Ilustrasi pembangunan pipa Pertamnina Bandung-Cilacap. (suara.com)

WJtoday, Jakarta - Ombudsman Republik Indonesia (ORI) melakukan investigasi dugaan pengambilalihan tanah warga untuk proyek pipa PT Pertamina Bandung-Cilacap III (BC III) di Desa Cintaratu, Kecamatan Lakbok, Ciamis, Jawa Barat pada Senin (11/10). 

Tim Ombudsman meninjau langsung lokasi pemasangan pipa yang masih berlangsung. Juga meminta informasi pada beberapa pihak terkait, seperti Kapolsek dan Danramil Lakbok. 

Anggota Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika mengatakan, kedatangan timnya untuk mendengarkan keluhan warga sebagai pelapor dan mendapatkan informasi untuk bahan pemeriksaan. Tim Ombudsman juga akan meminta keterangan dari PT Pertamina pada Rabu pekan ini. 

"Ombudsman akan melihat masalah ini secara jernih. Maka kami mohon agar  semua pihak menciptakan suasana kondusif. Kita cari titik temu bersama, tidak perlu semua menggunakan proses hukum," jelas Yeka dalam keterangan tertulis, Selasa (12/10/2021). 

Sementara itu, Plt Keasistenan Utama Substansi IV yang menangani pertanahan  Dahlena membenarkan, Ombudsman akan mendengarkan semua pihak.

"Ada proses konfirmasi, membutuhkan banyak komunikasi ke depan. Kami mohon kerja sama agar dapat memeriksa informasi secara proporsional," ucapnya. 

Investigasi ini bermula dari laporan dari kelompok Paguyuban Warga Berdampak Pertamina (PWBP) yang merasa dirugikan atas proyek pipa Pertamina Bandung Cilacap. 

PWBP meminta kompensasi atas kerugian akibat proyek pipa tersebut. Termasuk pula terkait air yang tercemar akibat adanya ledakan pipa pada 2019. 

Menurut Ketua PWBP Suyono, PT Pertamina telah mengambil alih tanah milik warga. PT Pertamina tidak pernah melibatkan warga dalam mekanisme perizinan maupun pembuatan SHGB baik secara formal maupun informal.

"Dari dulu hanya dijanjikan saja akan diberikan kompensasi, namun sampai tinggal 600 meter lagi pemasangan tidak kunjung direalisasikan," sebut Suyono.   ***