Nilai Budaya Sunda: 'Akur jeung Dulur, Sauyunan jeung Batur'

Nilai Budaya Sunda: 'Akur jeung Dulur, Sauyunan jeung Batur'
ilustrasi Kebersamaan dalam Mengokohkan Kehidupan Berbangsa, Bernegara dan Bermasyarakat

WJtoday, Bandung - "Akur jeung dulur, sauyunan jeung batur" berasal dari bahasa Sunda yang maknanya "seia sekata dengan saudara, satu pendapat dengan orang lain".

"Akur" sendiri artinya seia-sekata; tidak pernah bertengkar. Sedangkan "sauyunan" artinya satu pendapat, satu aliran atau satu paham.

Inilah suasana kebatinan yang harus dibangun dalam mengokohkan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Hal ini akan menjadi semakin lengkap manakala dikaitkan dengan nilai adiluhung budaya Sunda yakni "silih asah, silih asih dan silih asuh" yang muaranya menjadi "silih wawangi".

Nilai budaya Sunda semacam ini, tentu bukan hanya berlaku di Tatar Sunda, namun bila diselami lebih dalam, falsafahnya juga berlaku universal.

"Akur jeung dulur" atau seia sekata dengan saudara, sudah seharus nya melekat kuat dalam sanubari setiap anak bangsa. Kita ini bersaudara. Itulah ungkapan selamat datang sekira nya kita berkunjung ke Sulawesi Utara. Sebagai saudara, kita tidak boleh gontok-gontokan.

Dilarang pula untuk merasa yang paling hebat. Hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, kita harus selalu bertenggang rasa dan menghormati orang lain. 

Oleh karena nya, kita akan merasa sedih bila dihadapan publik terjadi perbedaan sikap antar pejabat negara dengan para pemangku kepentingan dalam menyikapi sebuah kebijakan yang sifatnya strategis.

Fenomena rencana impor beras 1 juta ton adalah bentuk ketidak harmonisan diantara para pengambilan keputusan yang berujung pada terjadinya perdebatan yang cukup banyak menyita waktu. Polemik terus berlanjut. Masing-masing pihak menyampaikan argumen. 

Untungnya, Presiden Jokowi segera angkat bicara dan meminta kepada semua pihak untuk menghentikan perdebatan tersebut. Presiden menegaskan Indonesia tidak akan impor beras hingga bulan Juni 2021. Pertanyaan berikutnya adalah apakah setelah Juni 2021 Pemerintah akan meneruskan rencananya untuk impor beras ? Jawabannya jelas : terntata tidak. Sampai tutup tahun 2021 kita tidak impor beras.

"Sauyunan jeung batur" atau satu pendapat dengan orang lain, pada hakekatnya menunjukan ada nya kebersamaan dalam melakoni kehidupan. Dalam iklim demokrasi, kita tidak diharamkan untuk berbeda pandangan dalam menuju pada satu titik kesimpulan. Disitulah proses saling berbagi pikir dan bersambung rasa perlu ditumbuh-kembangkan.

Berbeda pandangan menuju satu pemahaman bersama adalah hikmah yang perlu disyukuri. Kita boleh memiliki gagasan yang nyeleneh, namun bila sudah dibahas bersama, lalu gagasan itu dianggap tidak senafas dengan hasil kesepakatan, maka dengan legawa kita harus dapat menerima keputusan tersebut. Itulah indahnya hidup di alam demokrasi.

Namun begitu, kita juga tidak bisa memungkiri, bila dalam kehidupan nyata, ada orang-orang yang tidak dapat menerima pandangan atau pemikiran orang lain. Bila orang seperti ini ditakdirkan menjadi pejabat publik, biasanya akan sulit membangun suasana saling berbagi pemikiran. Sekalinya dikritik, boleh jadi yang bersangkutan akan marah dan melakukan sikap yang kurang terpuji.

"Akur jeung dulur, sauyunan jeung batur" adalah ungkapan yang penuh makna dan substansi. Dalam mengarungi kehidupan, kita dituntut untuk selalu mengedepankan persatuan dan kesatuan. Kita tidak boleh hanya mendahulukan kepentingan pribadi dan mengesampingkan kepentingan orang lain. Itu sebab nya mengapa kepentingan bersama harus diutamakan.

Prinsip dan nilai budaya adiluhung warga Jawa Barat, selalu mengedepankan penting nya "sabilulungan". Sebagai sifat dari gotong royong, sabilulungan perlu dijadikan dasar berpijak dalam melakoni kiprah kehidupan. Ini penting diresapkan, karena sabilulungan juga memeliki makna
hidup rukun dalam kebersamaan. 

Kebersamaan dalam konteks ini mengandung arti gotong royong, kerjasama atau saling membantu, saling mendukung, dan guyub untuk kebaikan bersama. Hal ini jelas meminta kepada kita untuk bermartabat bersama. Semua hasrat semacam ini bakal terwujud, sekira nya kita mampu "akur" dan "sauyunan".

Akur, sauyunan dan sabilulungan pada dasar nya merupakan kata-kata yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, kekompakan, keharmonisan, keserempakan juga keguyuban dalam mengarungi kehidupan. Pemahaman yang mendalam terhadap nilai falsafah semacam ini menjadi penting. 

Sebab, dalam era milenial sekarang, generasi yang ada di dalamnya cenderung mengembangkan gaya hidup yang setidaknya memiliki 10 ciri, yakni gampang bosan atas barang yang dibeli, no gadge no life, hobi melakukan pembayaran non cash, suka dengan yang serba cepat dan instan, memilih pengalaman dari pada aset, berbeda perilaku dalam satu grup dan yang lain, jago multytasking, kritis terhadap fenomena sosial, dikit-dikit posting dan bagi milenial "sharing is cool".

Andaikan ciri-ciri generasi milenial ini diisi oleh falsafah nilai-nilai budaya adiluhung diatas, mestinya bangsa ini memiliki generasi yang unggul. Kita bukan lagi dikenal sebagai bangsa pengutang atau bangsa pengimpor pangan, namun dengan potensi dan kapasitas nya, kita pun dapat tampil menjadi bangsa yang berpribadi, mandiri dan bermartabat.

Yang jadi persoalan berikutnya adalah langkah nyata apa yang sebaiknya kita tempuh agar nilai-nilai budaya adiluhung ini dapat merasuk ke dalam sanubari para pengambil kebijakan di negeri ini. Pertanyaan ini jelas harus dijawab. Sayang, jawabannya masih harus dicari dan membutuhkan pengkajian yang lebih utuh, komprehensif dan holistik. ***

Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat
Entang Sastraatmadja