Nakes di Singapura Mundur karena Lelah Fisik dan Mental, Ini Kata Satgas IDI

Nakes di Singapura Mundur karena Lelah Fisik dan Mental, Ini Kata Satgas IDI
ilustrasi./twitter

WJtoday, Jakarta - Tenaga kesehatan (nakes) di Singapura mulai 'rontok'. Jumlah yang mengundurkan diri di tengah lonjakan corona makin banyak, bahkan menyentuh 1.500-an orang hanya dalam 6 bulan.

Hal ini tentu harus menjadi perhatian Indonesia. Saat ini memang kasus di sini sedang melandai, tapi ancaman lonjakan selalu ada.

"Singapura krisis pekerja kesehatan. 1500 pekerja mundur, termasuk dokter dan perawat asing (2021). Sebagian besar mereka tidak bisa ambil cuti," kata Ketua Satgas IDI Prof Zubairi Djoerban dalam akun Twitternya, dikutip Rabu (3/11/2021).

Zubairi mengatakan, dalam situasi lonjakan corona nakes pasti kewalahan. Bahkan untuk negara seperti Singapura yang sistem kesehatannya sudah baik.

"Perawat bekerja 175 jam per bulan (September). Peningkatan faskes menjadi beban berat pekerja," jelasnya.

"Lelah fisik, mental, dan emosional," tutup dia.

Baca Juga : Krisis Gelombang Kedua Covid-19 di Singapura, Ribuan Nakes Pilih Mundur

Menteri Kesehatan Singapura Janil Putchueary menggambarkan, kondisi nakes di Singapura seperti menghadapi maraton yang tidak berujung. Mereka lelah dan waktu bekerja mereka semakin tidak masuk akal.

“Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tingkat pengunduran diri meningkat tahun ini,” kata Dr Puthucheary.***