Musuh tak Terlihat saat Penanganan Covid-19: Disinformasi dan Hoaks

Musuh tak Terlihat saat Penanganan Covid-19: Disinformasi dan Hoaks
Buky Wibawa Karya Guna. (dok pribadi)

WJtoday, Bandung - PERKEMBANGAN media sosial (medsos) sudah mengalir dan mendarah daging ke segala lini kehidupan masyarakat sehingga memunculkan dampak permasalahan sosial baru, yaitu hoaks dan disinformasi. 

Banyak beredar di medsos terkait pandemi Covid-19 berita yang tak jelas asal-usulnya dan belum tentu kebenarannya cepat beredar, langsung dibagikan. 

Banyak pula testimoni soal pengobatan ampuh melawan virus corona yang tidak berdasarkan penelitian ilmiah. Sebagian masyarakat mudah percaya dengan hal-hal seperti itu.

Atau yang masih hangat terjadi beberapa waktu lalu soal dr Lois Owien yang harus berurusan dengan polisi. Dia ditangkap karena diduga telah menyebarkan informasi palsu atau hoaks terkait penanganan Covid-19 di tiga platform medsos.

Dokter Lois membuat heboh masyarakat soal pernyataannya terkait dengan ketidakpercayaannya terhadap virus corona. Ia juga melontarkan pernyataan korban yang meninggal dunia bukan karena virus corona melainkan terjadinya interaksi obat-obatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.

Kondisi seperti disebut di atas pada akhirnya akan membuat polemik di tengah masyarakat dan menimbulkan kebingungan. Masyarakat tidak menjadi semakin cerdas, pandemi dengan kasus meningkat pun terus berlangsung.

Ciri utama hoaks adalah menohok sentimen paling sensitif dalam diri masyarakat, rasa takut akan yang lain, yang di luar kita, ketika kita sedang diterpa oleh krisis yang tak kunjung usai. 

Sedangkan, beberapa ciri-ciri disinformasi adalah adanya kesengajaan untuk menyebarkan informasi palsu, membingungkan dan menipu orang lain. Berita hoaks dan disinformasi akan terus menyebar tanpa mengenal waktu dan kondisi ketika pandemi Covid-19 saat ini.

Apa perbedaan antara hoaks dan disinformasi? Hoaks merupakan suatu konten informasi tidak benar yang seakan-akan informasi itu benar menurut asumsi penerimanya. 

Sedangkan, disinformasi adalah penyimpangan informasi  yang sama sekali tidak ada fakta/kebenaran yang dilakukan secara sengaja oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Hoaks dan disinformasi tidak hanya menjadi musuh pada level masyarakat tetapi juga pada level negara. Pada level masyarakat, hoaks dapat membuat perselisihan antar individu atas perbedaan asumsi baik di dunia online dan nyata. 

Sedangkan pada level negara, hoaks akan menimbulkan kekacauan stabilitas sosial-politik dan ketertiban sosial, serta merusak wibawa pemerintah.

Tidak hanya virus corona saja yang terus menyebar ancaman tetapi juga hoaks dan disinformasi melalui berbagai aplikasi gawai. Mengapa hoaks dan disinformasi selalu ada di tengah masyarakat? Jawabannya adalah lemahnya kemampuan masyarakat dalam menyaring dan menelaah informasi. 

Setiap informasi tersebut akan membentuk konstruksi individu dalam memaknai berbagai informasi sehingga berkembang menjadi asumsi-asumsi sosial. Bahayanya adalah jika asumsi tersebut tidak valid dan menyebar kemana-mana. 

Terlebih lagi hoaks dan disinformasi memuat narasi-narasi yang membuat perpecahan dan kebingungan dalam masyarakat terkait virus corona.

Untuk menangkal pusaran hoaks dan disinformasi tidak hanya berpangku pada kemampuan masyarakat saja, tetapi juga kemampuan negara untuk mengelola informasi publik melalui institusi-institusi pemerintah yang ditunjuk. 

Kehadiran negara sangat dibutuhkan ketika kondisi genting saat ini. Pandemi Covid-19  telah menimbulkan dampak sosial secara psikologis dan sosiologis pada setiap individu. 

Maka diperlukan suatu strategi penguatan dan pengelolaan kelembagaan secara desentralisasi yang efektif dan efisien untuk melawan hoaks dan disinformasi terkait pandemi Covid-19 melalui pelayanan pengelolaan pelayanan publik.

Selama berlangsung pandemi Covid-19 saat ini masyarakat membutuhkan suatu kepastian informasi yang valid. Ini merupakan salah satu yang perlu terus diperkuat melalui perbaikan tata kelola pelayanan informasi di berbagai situs milik Dinas Komunikasi dan Informatika di daerah. 

Sebagai pengelola informasi dan komunikasi publik, serta verifikator informasi-informasi yang sah berdasarkan tugas dan wewenangnya, maka peran mereka sangat penting menjaga stabilitas sosial-politik dan ketertiban sosial di berbagai pelosok daerah seluruh Indonesia.

Gencarnya arus disinformasi atau hoaks di tengah situasi pandemi covid-19, tanpa disadari menjadi musuh yang tak terlihat sebagai  salah satu penyebab terhambatnya upaya penanganan pandemi yang masih berlangsung. 

Sudah saatnya semua pihak untuk lebih berhati-hati dan mencerdaskan dalam berpendapat di medsos dan harus memilki dasar pendapat yang kuat sehingga tidak dituduh sebagai berita hoaks yang dapat merugikan kita semua.  ***


(Buky Wibawa Karya Guna: Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat)