Menkes Terkejut, 9.855 Orang Daftar Hitam Berkeliaran di Fasilitas Publik

Menkes Terkejut, 9.855 Orang Daftar Hitam Berkeliaran di Fasilitas Publik
Ilustrasi (pam)

WJtoday, Jakarta  - Berdasarkan hasil scan aplikasi PeduliLindungi untuk evaluasi dan memastikan keamanan area, teridentifikasi 9.855 pengunjung tidak sehat beraktivitas di fasilitas publik. 

Padahal, ribuan orang tersebut masuk daftar hitam atau istilah bagi mereka yang dinyatakan positif Covid-19 maupun memiliki kontak erat dengan pasien Covid-19.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengaku terkejut dengan masih banyak warga yang masuk daftar hitam tetap nekat berkunjung ke pusat perbelanjaan hingga kawasan industri.

“Kita sudah memonitor dengan bantuan IT, kita lihat dong untuk setiap aktivitasnya. Yang aktivitas itu berapa sih, yang ternyata itu kita kaget juga, ternyata masih ada yang sakit, tetapi masih nyelonong-nyelonong masuk mal, masuk toko, masih masuk kerja, pabrik, industri, pergudangan 1.000 orang,” ujar Budi dalam diskusi virtual, Rabu (6/10/2021).

Merujuk data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), per 5 Oktober 2021, ada 9.855 orang teridentifikasi daftar hitam oleh PeduliLindungi yang masih berkunjung ke tempat publik.

Baca juga: Waspada: Pedulilindungiq.com Situs Palsu, Daftar Vaksin Harus Bayar

Dari jumlah tersebut, terbanyak beraktivitas di mal atau 6.380 orang. Disusul kawasan industri (pergudangan/pabrik) sebanyak 1.068 orang. Lalu outlet 490 orang; transportasi darat 399 orang; transportasi darat 12 orang; transportasi udara 109 orang; tempat pariwisata dan museum seni 38 orang; hotel dan akomodasi 127 orang.

Kemudian, restoran dan rumah makan 257 orang; bar dan cafe 29 orang; bioskop 253 orang; ballroom 1 orang; gedung/perkantoran/perpustakaan/aula 573 orang; fasilitas pelayanan kesehatan 3 orang; tempat ibadah 4 orang; sekolah 7; serta tempat olahraga 105 orang.

Terkait temuan tersebut, kata dia, pemerintah akan memperbaiki sistem skrining di ruang publik. 

"Terkhusus, di enam aktivitas, yaitu perdagangan, pariwisata, transportasi, pendidikan, perkantoran, dan keagamaan. Itu nanti dengan demikian bisa lebih diperbaiki,” sebut Budi.  ***