Mengenal Badai Sitokin, Kondisi Berbahaya Setelah Negatif Covid-19

Mengenal Badai Sitokin, Kondisi Berbahaya Setelah Negatif Covid-19
Suami dari artis peran Joanna Alexandra, Raditya Oloan meninggal dunia pada (06/05/2021), setelah sempat berjuang melawan COVID-19

Wjtoday, Bandung - Pertengahan 2020, para peneliti mengungkap satu misteri terbesar virus corona, kenapa COVID-19 berdampak ringan pada seseorang, namun juga bisa sangat mematikan bagi lainnya. Salah satu jawabannya disebut badai sitokin atau cytocine storm.

Raditya Oloan Panggabean, suami aktris Joanna Alexandra mengalaminya sebelum meninggal.

Merangkum hasil penelitian ahli virolohi dan imunologi dari Georgia State University di Atlanta, Mukesh Kumar, badai sitokin dipicu oleh infeksi virus dalam tubuh. Sitokin adalah protein sistem kekebalan tubuh tingkat tinggi. Sitokin ditemukan para peneliti di dalam darah para pasien COVID-19 dengan gejala paling gawat. Kematian akibat COVID-19 mungkin banyak terjadi karena reaksi kekebalan tubuh yang kacau ketimbang karena infeksi virus itu sendiri.

Ketika respons kekebalan tubuh meningkat tak terkendali, mereka akan mulai menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri daripada melawan virus yang merupakan musuh sebenarnya. Badai sitokin bukan persoalan kesehatan baru. Ia diketahui terjadi pada penyakit autoimun, seperti artritis remaja.

Badai sitokin dapat dipicu oleh sejumlah infeksi, termasuk influenza, pneumonia, dan sepsis. Respons imun yang meningkat ini tidak terjadi pada semua pasien dengan infeksi parah, tetapi para ahli tidak tahu apa yang membuat beberapa orang lebih rentan daripada yang lain.Badai sitokin juga terjadi dalam beberapa pengobatan kanker.

Terkhusus pada orang dengan corona. Sejauh ini beberapa pasien menjadi sangat sakit dengan cepat karena badai sitokin. Sebagian besar pasien Covid-19 dengan badai sitokin mengalami demam dan sesak napas, kemudian menjadi sulit bernapas sehingga akhirnya membutuhkan ventilator. Kondisi ini biasanya terjadi sekitar enam atau tujuh hari setelah timbulnya penyakit

Jenis sitokin tertentu memicu kematian sel. Banyak jaringan bisa mati ketika seseorang mengalami terlalu banyak kematian sel. Pada COVID-19, jaringan itu sebagian besar berada di paru-paru. Saat jaringan rusak, dinding kantung udara kecil paru-paru akan bocor dan terisi cairan.

Kondisi inilah yang menyebabkan pneumonia dan memicu kekurangan oksigen dalam darah. Kerusakan paru-paru dalam tingkat yang parah akan menyebabkan sindrom gangguan pernapasan. Dari sana, organ-organ lain akan mulai gagal berfungsi.

Tidak ada cara untuk menguji apakah seseorang mengalami badai sitokin atau tidak, meskipun pemeriksaan darah dapat memberikan petunjuk kepada dokter bahwa respons hiper-inflamasi sedang terjadi. 

Tes darah bisa saja dilakukan untuk deteksi badai sitokin tetapi belum cukup valid. Sejauh ini gejala yang sudah akurat adalah ketika seorang pasien terus mengalami kesulitan bernapas meskipun menerima oksigen. Hal itu mungkin berarti tubuh mereka sedang mengalami badai sitokin.

“Pada dasarnya, sebagian besar sel Anda akan mati karena badai sitokin. Itu menggerogoti paru-paru. Mereka tidak bisa pulih...Tampaknya berperan dalam kematian dalam banyak kasus,” Mukesh Kumar.

Dalam penelitiannya, Kumar juga menemukan bagaimana virus SARS-CoV-2 memicu lebih banyak produksi sitokin hingga lima puluh kali lipat. Tingkat produksi ini jauh lebih tinggi dari bagaimana tubuh bereaksi terhadap infeksi virus zika atau west nile.

Catatan kondisi medis Raditya Oloan

Suami dari artis peran Joanna Alexandra, Raditya Oloan meninggal dunia pada (06/05/2021), setelah sempat berjuang melawan COVID-19, bahkan dari dalam ruang ICU RSUP Persahabatan.

Sang istri, Joanna Alexandra berkali-kali mengabarkan kondisi Raditya lewat unggahan-unggahan media sosial. Joanna juga meminta doa kepada para pengikutnya di media sosial.

Pada 14 April, Raditya terkonfirmasi positif COVID-19. Joanna sempat mengunggah fotonya bersama Raditya ketika menjalani perawatan di RSDC Wisma Atlet.

"Sekarang suamiku lagi di IMCU (intermediate care unit) and he’s on high flow oxygen ... Lagi berharap supaya saturasi dan angka-angka lainnya cepat membaik supaya bisa balik ke kamar sama aku lagi," tulis Joanna.

Tiga hari kemudian, Raditya dirujuk ke RSUP Persahabatan. Sementara, Joanna dan sejumlah anggota keluarganya yang lain tetap di RSDC Wisma Atlet.

Saat itu Joanna menyatakan Radit harus dirawat di ICU. Tapi, Radit mengabarkan juga lewat unggahan media sosial bahwa dirujuknya dia bukan karena COVID-19, melainkan efek dari COVID-19 yang menyebabkan peradangan.

"Btw tadi pagi gue sudah di-swab dan hasilnya negatif. Tapi si COVID itu sempat bikin serangan sampai badan gue terjadi peradangan," tulis Raditya.

Kabar lanjutan, Joanna menulis tentang kondisi Raditya yang mengalami post-COVID dengan komorbid asma. Komorbid merupakan kondisi ketika seseorang mengalami dua atau lebih penyakit yang muncul bersamaan.

Istilah ini belakangan sering muncul dalam kasus COVID-19. Komorbid juga kerap disebut sebagai peningkat risiko kematian seorang pasien COVID-19.

Selain itu, dalam unggahannya di Instagram, Joanna mengatakan bahwa penyebab utama kondisi Radit menurun adalah hiperinflamasi yang disebabkan oleh penyakit tersebut.

“Kondisi post-covid dengan komorbid asma, and he’s going through a cytokine storm yang menyebabkan hyper-inflammation in his whole body,” terangnya.

Ditambah lagi ada infeksi bakteri yang lumayan kuat," tulis Joanna.***