Masih Dibayangi Kekhawatiran Pasokan yang Ketat, Harga Minyak Naik 1,5 Persen

Masih Dibayangi Kekhawatiran Pasokan yang Ketat, Harga Minyak Naik 1,5 Persen
Pekerja berjalan saat pompa minyak terlihat di latar belakang ladang minyak dan gas Uzen di Wilayah Mangistau, Kazakhstan, 13 November 2021. (Reuters)

WJtoday, Bandung - Harga minyak naik hampir 1,5 persen pada akhir perdagangan Jumat atau (Sabtu 7/5/22) pagi WIB, membukukan kenaikan mingguan kedua berturut-turut.

Penguatan harga tersebut dipicu oleh  karena sanksi Uni Eropa yang akan datang terhadap minyak Rusia meningkatkan prospek pasokan yang lebih ketat dan membuat para pedagang mengabaikan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli menguat 1,49 dolar AS atau 1,3 persen, menjadi menetap di 112,39 dolar AS per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni naik 1,51 dolar AS atau 1,4 persen, menjadi ditutup di 109,77 dolar AS per barel.

"Dalam waktu dekat, fundamental untuk minyak adalah bullish dan hanya kekhawatiran perlambatan ekonomi di masa depan yang menahan kami," kata Analis Price Futures Group, Phil Flynn.

Untuk minggu ini, harga minyak WTI naik sekitar 5,0 persen, sementara harga minyak Brent naik hampir 4,0 persen setelah Uni Eropa menetapkan embargo terhadap minyak Rusia sebagai bagian dari paket sanksi terberatnya atas konflik di Ukraina.

Uni Eropa sedang mengubah rencana sanksinya, berharap untuk memenangkan negara-negara yang enggan dan mengamankan dukungan suara bulat yang dibutuhkan dari 27 negara anggota, tiga sumber Uni Eropa mengatakan kepada Reuters. Proposal awal menyerukan diakhirinya impor Uni Eropa atas produk minyak mentah dan minyak Rusia pada akhir tahun ini.

"Embargo Uni Eropa yang membayangi minyak Rusia memiliki kemampuan untuk menekan pasokan secara akut. Bagaimanapun, OPEC+ tidak berminat untuk membantu, bahkan ketika reli harga energi memacu tingkat inflasi yang berbahaya," kata Analis PVM, Stephen Brennock.

Mengabaikan seruan dari negara-negara Barat untuk menaikkan produksi lebih banyak, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak, Rusia dan produsen sekutu (OPEC+), tetap dengan rencananya untuk menaikkan target produksi Juni sebesar 432.000 barel per hari.

Namun analis memperkirakan kenaikan produksi aktual grup akan jauh lebih kecil karena kendala kapasitas.

"Tidak ada kemungkinan anggota tertentu memenuhi kuota itu karena tantangan produksi berdampak pada Nigeria dan anggota Afrika lainnya," kata Analis Pasar Senior Asia Pasifik OANDA, Jeffrey Halley.

Pada Kamis (5/5/2022), panel Senat AS mengajukan RUU yang dapat mengekspos OPEC+ ke tuntutan hukum untuk kolusi dalam meningkatkan harga minyak.

Di sisi pasokan, jumlah rig minyak AS, indikator awal produksi masa depan, naik lima rig menjadi 557 minggu ini, tertinggi sejak April 2020.

Investor memperkirakan permintaan yang lebih tinggi dari Amerika Serikat di musim gugur ini karena Washington mengumumkan rencana untuk membeli 60 juta barel minyak mentah guna mengisi kembali persediaan darurat. Namun tanda-tanda melemahnya ekonomi global memicu kekhawatiran permintaan, membatasi kenaikan harga minyak.

Pada Kamis (5/5/22), bank sentral Inggris memperingatkan Inggris mendapat risiko ganda dari resesi dan inflasi di atas 10 persen. Bank sentral menaikkan suku bunga seperempat poin persentase menjadi 1,0 persen, tertinggi sejak 2009.

Pembatasan ketat Covid-19 di China menciptakan hambatan bagi ekonomi terbesar kedua di dunia dan importir minyak terkemuka.

Pihak berwenang Beijing mengatakan semua layanan yang tidak penting akan ditutup di distrik terbesarnya Chaoyang, rumah bagi kedutaan besar dan kantor-kantor besar.***