Masalah Bengkaknya Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Ini Instruksi dari Menko Marves Luhut

Masalah Bengkaknya Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Ini Instruksi dari Menko Marves Luhut
Menko Marves, Luhut B. Pandjaitan saat meninjau pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta, Senin, 12 April 2021/Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

WJtoday, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan sudah memberikan instruksi menyusul bengkaknya biaya (cost overrun) proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). 

Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Jodi Mahardi.

Jodi mengatakan, PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) sudah diminta untuk melakukan berbagai langkah.

"Pemerintah telah meminta KCIC untuk melakukan efisiensi-efisiensi yang bisa dilakukan agar biaya pembangunan bisa dihemat. Range cost overrun nanti masih subject dari audit BPKP supaya angkanya bisa lebih akurat," ujarnya, Jumat (3/9/2021).

"Mengenai pemenuhan dana untuk cost overrun saat ini masih dalam pembahasan pemerintah Indonesia dan BUMN sponsor. Pendanaan kenaikan biaya proyek direncanakan untuk diperoleh dari pinjaman bank," sambung Jodi.

Baca Juga : Banyak Dirundung Masalah, KAI Sepakat Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Diaudit Investigasi

Lebih lanjut kata dia, berdasarkan instruksi Menko Luhut, semua perusahaan BUMN terkait terutama KAI diminta fokus menyelesaikan persoalan KCIC.

"Diharapkan semua yang dari awal ikut terlibat proyek, terutama saat menegosiasikan struktur proyek, feasibility study, pendanaan, dan aspek legalitas tetap fokus pada solusi," kata dia.

Persoalan kenaikan biaya saat ini, kata Jodi, sedang dalam tahap verifikasi. Namun kenaikan biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung diperkirakan akibat naiknya biaya pembebasan lahan dan bahan konstruksi.

Perlu diketahui, biaya proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung membengkak atau mengalami cost overrun menjadi 8 miliar dolar AS atau setara Rp 114,24 triliun.

Dengan estimasi tersebut, terdapat kenaikan sebesar 1,9 miliar dolar AS atau setara Rp 27,09 triliun dari rencana awal pembangunan KCJB sebesar Rp 6,07 miliar dolar AS ekuivalen Rp 86,5 triliun.***