Mahfud MD: Demokrasi Kita Nggak Sehat, Demokrasi Jual Beli

Mahfud MD: Demokrasi Kita Nggak Sehat, Demokrasi Jual Beli
Menko Polhukam yang juga Ketua Dewan Pakar KAHMI Mahfud MD menilai kondisi demokrasi di Indonesia saat ini sedang tak sehat dan tak dalam kondisi yang baik. (setkab ri)

WJtoday, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) yang juga Ketua Dewan Pakar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Mahfud MD menilai kondisi demokrasi di Indonesia saat ini sedang tak sehat dan tak dalam kondisi yang baik.

"Bagaimana keadaan demokrasi kita sekarang? Demokrasi kita sekarang tidak sehat, tak sedang baik-baik saja," sebut Mahfud dalam acara puncak HUT ke-56 KAHMI di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Sabtu (17/9/2022) malam.

Lalu dia mengutip pernyataan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia yang mengatakan untuk maju sebagai calon kepala daerah tak sekadar butuh modal pintar, tapi butuh uang yang fantastis. Bila tak punya uang, katanya, maka sulit untuk terpilih.

"Kata Pak Bahlil tadi coba kamu pintar tapi enggak punya uang, enggak bisa kepilih. Itu kata pak Bahlil tadi," ujarnya.

Melihat itu, Mahfud mengklaim hampir 92 persen calon kepala daerah yang tersebar di seluruh Indonesia dibiayai oleh cukong untuk maju di Pilkada. 

Akibatnya, setelah terpilih para calon kepala daerah ini akan memberi imbalan balik kepada cukong yang membiayainya tersebut.

"Itu hasil simulasi saya dengan anak-anak LSM. Kalau hitung-hitungan KPK, 84 persen kepala daerah terpilih karena cukong. Itu angka dari KPK," jelas Mahfud.

"Demokrasi kita enggak sehat, demokrasi jual beli," dia menambahkan.

Selain itu, dia juga mengklaim tak pernah mengeluarkan uang saat menjabat sebagai menteri sebanyak tiga kali, sekaligus Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).

Mahfus menyatakan dia tak berniat untuk memperkaya diri sendiri. Padahal, Ia mengatakan potensi untuk memperkaya diri sendiri sangat besar ketika masih menjabat sebagai Ketua MK.

"Kalau saya mau, pak, jadi Ketua MK adili 390 kasus Pilkada. Kalau saya satu orang Rp1 miliar dia gampang, orang mau menang Pilkada, kalah saya menangkan bisa. Atau orang udah menang di telepon dimintai uang," tegasnya.

Dia lantas berefleksi uang hasil tindakan haram tak akan membuat hidup manusia menjadi tenang. Terlebih lagi, uang itu diperolehdengan cara yang tak benar.

"Kalau kamu peroleh sesuatu secara tak benar, tidurnya enggak nyenyak. Kalau sudah pensiun nyari pengawal. Sesudah tak punya 'beking' jadi tak aman, dikorbankan temannya sendiri. Itulah permainan," tutup Mahfud.  ***