Kuasa Hukum Korban Pelecehan di KPI: Rencana Pelaporan Balik Menaklukkan Semangat MS

Kuasa Hukum Korban Pelecehan di KPI: Rencana Pelaporan Balik Menaklukkan Semangat MS
ilustrasi./instagram

WJtoday, Jakarta - Kuasa hukum MS, korban pelecehan seksual dan perundungan di Komisi Penyiaran Indonesia, Rony Hutahaean, menyebut semangat kliennya dalam menghadapi proses hukum kini merosot akibat rencana pelaporan balik oleh terduga pelaku.

"Wacana pelaporan balik telah berhasil mencapai tujuannya meskipun tidak pernah terjadi. Rencana pelaporan korban telah berhasil menaklukkan semangat korban padahal proses hukum terhadap terduga pelaku masih terus bergulir," kata Rony dalam keterangan tertulis, Kamis (9/9/2021).

Rony pun menduga ada rencana pihak tertentu agar terjadi perdamaian antara 5 terduga pelaku dan korban. Hal ini salah satunya terlihat dari langkah KPI yang memanggil MS sendirian tanpa didampingi kuasa hukum.

"Alergi terhadap kuasa hukum MS menimbulkan pertanyaan ada apa. Jangan jangan ada sesuatu yang belum terendus yang nantinya terungkap sendirinya," katanya.

Ia menyatakan, tim kuasa hukum MS memang tidak anti dengan upaya restorative justice. Namun ia menyesalkan jika upaya perdamaian ini dilakukan tanpa melibatkan tim kuasa hukum.

"Kami sangat menyayangkan cara cara yang tidak etis menyampingkan kuasa hukum masih digunakan untuk mencapai sesuatu yang dia harapkan, sekalipun tujuannya baik," kata Rony.

Rony menambahkan, hari ini tim kuasa hukum MS telah melengkapi berkas dan bukti yang kurang atas pengaduan kepada LPSK dan Komnas HAM. Ia berharap kedua lembaga itu segera memanggil pihak-pihak terkait, terutama pimpinan MS di KPI.

"Perundungan dan pelecehan seksual yang dibungkus dengan perdamaian tidak dapat ditolerir dan untuk itu Komnas HAM harus memanggil pimpinan MS sesegera mungkin agar mempunyai kejelasan secara terang," kata Rony.

Kuasa hukum MS juga telah berkoordinasi dengan pihak penyidik Polres Jakarta Pusat terkait hasil dari penyelidikan.

"Semoga dalam berjalanya proses penyelidikan di Polres Jakarta Pusat menemui titik terang hingga korban MS mendapatkan keadilan yang selama ini diperjuangkan," katanya.

Kasus pelecehan seksual dan perundungan yang menimpa MS ini mencuat setelah ia menulis surat terbuka yang kemudian viral di media sosial Rabu pekan lalu.

Dalam surat terbuka itu, MS mengaku sudah menjadi korban perundungan oleh rekan-rekan di kantor sejak ia bekerja di KPI pada 2012. Bahkan ia juga sempat mengalami pelecehan seksual oleh sejumlah rekan kerjanya pada 2015. Pelecehan seksual itu dilakukan di ruang kerja di Kantor KPI Pusat secara beramai-ramai oleh 5 orang rekan kerjanya.

MS sempat mencoba melaporkan perundungan dan pelecehan seksual yang ia alami ke atasan hingga polisi, tetapi tidak ditanggapi.

Namun setelah berita ini viral, KPI dan kepolisian langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan.

KPI kini telah menonaktifkan 8 terduga pelaku pelecehan seksual dan perundungan terhadap MS untuk mempermudah investigasi internal yang tengah dilakukan.

Sementara itu, Polres Jakpus juga telah memeriksa 5 terlapor yang disebut telah melakukan pelecehan seksual terhadap MS pada 2015 lalu.

Meski demikian, sejumlah terlapor membantah telah melakukan pelecehan seksual terhadap MS.

Mereka justru merasa nama baik mereka telah dicemarkan dan berencana melaporkan balik korban ke polisi.

Tegar Putuhena, kuasa hukum dari terduga pelaku RT dan EO menegaskan, tuduhan yang dilontarkan MS dalam rilisnya yang viral telah membuat kliennya menjadi korban perundungan oleh masyarakat luas.

"Akibat rilis itu, dan identitas pribadi klien kami ikut tersebar, yang terjadi cyber bullying," kata Tegar saat mendampingi kliennya menjalani pemeriksaan di Polres Metro Jakarta Pusat, Senin (6/9/2021) kemarin.

Bahkan Tegar menyebut, perundungan di dunia Maya tak hanya terjadi pada kliennya, namun juga pada keluarga mulai dari istri dan anak. 

Tegar juga menegaskan sampai saat ini tidak ada bukti bahwa kliennya telah melakukan pelecehan seksual seperti yang dituduhkan.

Sementara terkait perundungan yang diceritakan MS di rilisnya, Tegar menyebut bahwa hal itu dilakukan masih dalam batas wajar selayaknya antar rekan di dilakukan di dunia kerja.***