Krisis di Ukraina Bukan Tentang Ukraina, Tapi soal Jerman

Krisis di Ukraina Bukan Tentang Ukraina, Tapi soal Jerman
Krisis Ukraina tidak ada hubungannya dengan Ukraina. Ini tentang Jerman dan, khususnya, sebuah pipa gas alam baru yang menghubungkan Jerman dengan Rusia yang disebut Nord Stream 2. (foto ilustrasi dw.com)

WJtoday, Bandung - Kepentingan primordial Amerika Serikat, di mana selama berabad-abad kita telah melakukan peperangan; Perang Dunia Pertama, Perang Dunia Kedua dan Perang Dingin, adalah hubungan di antara Jerman dan Rusia, disebabkan persatuan di sana, mereka adalah satu-satunya kekuatan yang dapat dianggap dapat mengancam AS.

Krisis Ukraina tidak ada hubungannya dengan Ukraina. Ini tentang Jerman dan, khususnya, sebuah pipa gas alam baru yang menghubungkan Jerman dengan Rusia yang disebut Nord Stream 2. 

Washington melihat pipa gas itu sebagai ancaman terhadap superioritasnya di Eropa dan telah berupaya menyabot proyek itu pada setiap kesempatan. Meski begitu, Nord Stream 2 terus berlangsung dan kini sudah jadi dan siap digunakan. 

Begitu otoritas Jerman memberikan sertifikasi akhir, pengiriman gas akan dimulai. Rumah tangga dan industri Jerman akan memiliki sumber energi bersih dan murah yang dapat diandalkan. 

Sementara Rusia akan menyaksikan peningkatan yang signifikan ke atas pendapatan gas alam mereka. Ini adalah situasi sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Kalangan penentu Kebijakan Luar Negeri AS tidak senang dengan perkembangan ini. Mereka tidak ingin Jerman menjadi lebih tergantung pada gas Rusia karena perdagangan membangun kepercayaan dan kepercayaan membawa pada perluasan perdagangan. 

Ketika hubungan menjadi lebih hangat, lebih banyak hambatan perdagangan akan dihilangkan, peraturan dilonggarkan, perjalanan dan pariwisata meningkat, dan arsitektur keamanan baru berkembang.

Pada dunia di mana Jerman dan Rusia adalah teman dan mitra dagang, tidak diperlukan pangkalan militer AS, tidak perlu senjata dan sistem rudal buatan AS yang mahal, dan tidak diperlukan NATO. 

Juga tidak perlu melakukan transaksi energi dalam Dolar AS ataupun menimbun Surat Utang (Treasury bonds atau T-bonds) AS untuk keperluan menyelesaikan pembayaran transaksi. Transaksi di antara mitra bisnis dapat dilakukan dalam mata uang mereka sendiri yang akan mengakibatkan penurunan tajam nilai dolar dan pergeseran dramatis dalam kekuatan perekonomian.

Inilah sebabnya mengapa pemerintahan Biden menentang adanya pipa gas Nord Stream 2. Ini bukan hanya sekadar pipa gas alam, ini adalah penghubung ke masa depan; sebuah masa depan di mana Eropa dan Asia menjadi lebih dekat satu sama lain di dalam zona perdagangan bebas skala masif yang meningkatkan kekuatan dan kemakmuran bersama mereka sementara meninggalkan AS di luar menyaksikan ke dalam. 

Baca juga: Presiden Ukraina Merasa Diabaikan AS-Nato Hadapi Invasi Rusia

Hubungan yang lebih hangat antara Jerman dan Rusia menandakan berakhirnya tatanan dunia “unipolar” yang telah dikontrol AS selama 75 tahun terakhir. Aliansi Jerman-Rusia mengancam untuk mempercepat kemerosotan Negara Adidaya yang saat ini semakin mendekati tepi jurang. 

Inilah sebabnya mengapa Washington bertekad untuk melakukan segala cara untuk menyabotase Nord Stream 2 dan mempertahankan Jerman tetap berada di dalam orbitnya. Ini masalah keberlangsungan hidup.

Di situlah peran Ukraina muncul. Ukraina adalah 'senjata pilihan' Washington untuk torpedo Nord Stream 2 dan menempatkan pengganjal di antara Jerman dan Rusia. Strategi tersebut diambil dari halaman satu Buku Pegangan Kebijakan Luar Negeri AS di bawah rubrik: Memecah Belah dan Menguasai (Divide and Rule). Washington perlu menciptakan persepsi Rusia merupakan ancaman keamanan bagi Eropa. Itulah tujuannya.

Mereka perlu menunjukkan Vladimir Putin adalah seorang agresor yang haus darah dengan karakter yang mudah jadi pemarah yang tidak bisa dipercaya. Untuk itu, media telah ditugasi untuk mengulang berkali-kali dan terus menerus, Rusia berencana untuk menyerang Ukraina.

”Apa yang tidak dikatakan adalah Rusia tidak menginvasi negara mana pun sejak pembubaran Uni Soviet, dan bahwa AS telah menginvasi ataupun menggulingkan pemerintahan di lebih dari 50 negara dalam periode yang sama, dan bahwa AS mempertahankan lebih dari 800 pangkalan militer di seluruh dunia."

Tak satu pun dari kenyataan ini dilaporkan oleh media tersebut, sebaliknya fokusnya adalah pada "Putin yang jahat" yang telah menghimpun sekitar 100.000 tentara di sepanjang garis perbatasan dengan Ukraina [namun tetap di dalam wilayah Rusia sendiri] yang mengancam akan menjerumuskan Eropa ke dalam sebuah perang lainnya yang banyak memakan korban jiwa.

Semua propaganda perang histeris dibuat dengan tujuan untuk menciptakan krisis (manufacturing a crisis) yang dapat digunakan untuk mengisolasi, menjelekkan (demonize), dan pada akhirnya, memecah-mecah negeri Rusia menjadi unit-unit yang lebih kecil. Namun, target sesungguhnya bukanlah Rusia, namun Jerman. 

Baca juga: Pasukan Rusia Semakin Dekat ke Ibu Kota Kiev, Pemerintahan Ukraina Bisa Terguling

Hitam di atas putihnya seperti ini. Tim Biden ingin “mendorong (goad) Rusia melakukan aksi militer” untuk menyabotase Nord Stream 2. Hal itu menyiratkan akan ada semacam provokasi yang dirancang [bahkan operasi kotor intel berupa “false flag”] untuk mendorong Putin mengirimkan pasukannya melintasi perbatasan untuk membela etnis Rusia di wilayah timur Ukraina.

Daerah yang subur dan memiliki banyak tambang batu bara dan kekayaan alam lainnya [yakni utamanya wilayah Donetsk dan Luhansk yang penduduknya mayoritas keturunan Rusia dan/atau berbahasa Rusia yang menuntut otonomi yang luas dari Kiev]. 

Jika Putin memakan umpan itu, responsnya NATO akan cepat dan keras. Media akan mengecam tindakan tersebut sebagai ancaman bagi seluruh Eropa sementara para pemimpin di seluruh dunia akan mencela Putin sebagai “Hitler baru”. 

Ini adalah strategi Washington pada intinya, dan seluruh upaya sedang diorkestrakan dengan satu tujuan dalam pikiran; untuk memepet secara politis sehingga mustahil bagi Kanselir Jerman Olaf Scholz untuk meloloskan persetujuan / sertifikasi akhir ke atas pipa gas Nord Stream 2 untuk bisa dioperasikan.

Berdasarkan apa yang kita ketahui tentang penentangan Washington terhadap Nord Stream 2, pembaca mungkin bertanya-tanya mengapa di awal tahun 2021 pemerintahan Biden melobi Kongres untuk TIDAK menjatuhkan sanksi lebih lanjut pada proyek tersebut. 

Jawaban atas pertanyaan itu gampang: Politik dalam negeri. Jerman saat ini sedang menyetop pembangkit listrik tenaga nuklirnya [secara permanen] dan membutuhkan gas alam untuk menutupi kekurangan energi. Selain itu, ancaman sanksi ekonomi adalah "lonceng kematian" bagi orang Jerman yang melihatnya sebagai tanda campur tangan asing. 

“Mengapa Amerika Serikat ikut campur dalam keputusan energi kami,” tanya kebanyakan orang Jerman. "Washington semestinya mengurus urusannya sendiri dan tidak turut campur urusan kami." Inilah tepatnya tanggapan yang bisa diharapkan dari setiap orang yang berakal.

Lalu, ada tulisan berikut ini di Al Jazeera: Mayoritas orang Jerman mendukung proyek pipa gas tersebut, hanya sebagian dari kelompok elite dan media yang menentang pipa gas Nord Stream 2. Semakin banyak AS berbicara tentang sanksi atau mengkritik proyek tersebut, semakin populer pipa gas itu di masyarakat Jerman," kata Stefan Meister, pakar Rusia dan Eropa Timur di lembaga Council on Foreign Relations cabang Jerman. 

Jadi, opini publik Jerman kokoh berada di belakang proyek pipa gas Nord Stream 2 yang membantu menjelaskan mengapa Washington memilih pendekatan baru. Sanksi tidak akan berhasil, jadi Paman Sam telah beralih ke Rencana B: Ciptakan ancaman eksternal yang cukup besar sehingga Jerman akan dipaksa untuk memblokir pengoperasian pipa gas tersebut. 

Terus terang, strateginya terkesan putus asa, namun Anda mesti terkesan dengan keuletan Washington. Mereka mungkin tertinggal langkahnya di dalam upaya mereka dibandingkan dengan kesiapan pipa gas Nord Stream 2 untuk beroperasi, akan tetapi AS belum menyerah. AS masih akan mencoba kesempatan terakhir dan melihat apakah mereka bisa membuat kemajuan.

Pada hari Senin (7/2), Presiden Biden mengadakan konferensi pers bersama pertamanya dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz di Gedung Putih. Kehebohan seputar acara itu tiada presedennya. 

Baca juga: Pakar Militer Prediksikan Perang Rusia-Ukraina Bakal Berlangsung Lama

Semuanya diorkestrakan untuk menciptakan “suasana krisis” yang digunakan Biden untuk menekan kanselir ke arah kebijakan AS. Awal pekan ini, juru bicara Gedung Putih Jen Psaki berulang kali mengatakan bahwa “invasi Rusia sudah dekat.” 

Komentarnya diikuti oleh juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price [yang merupakan mantan analis CIA semasa jabatan Trump] yang beropini badan intel AS telah memberikan rincian kepadanya tentang dugaan operasi “FALSE FLAG” [yakni singkatnya operasi kotor intel yang bersifat menipu publik, menciptakan sebuah insiden lalu menuding pihak lawan yang melakukannya] yang didukung Rusia yang mereka harapkan akan terjadi dalam waktu dekat di wilayah Ukraina bagian timur. 

Peringatan Ned Price diikuti pada Minggu pagi oleh penasihat keamanan nasional Jake Sullivan yang mengklaim bahwa invasi Rusia dapat terjadi kapan saja, mungkin "bahkan besok." Ini hanya beberapa hari setelah kantor berita Bloomberg menerbitkan kepala berita yang sensasional dan sama sekali tidak betul bahwa “Rusia Telah Menginvasi Ukraina”.

Bisakah Anda lihat polanya di sini? Dapatkah Anda melihat bagaimana semua klaim tak berdasar ini digunakan untuk menekan kanselir Jerman yang tidak curiga yang tampaknya tidak menyadari kampanye yang ditujukan padanya?

Seperti yang diharapkan, pukulan terakhir disampaikan oleh presiden Amerika sendiri. Selama konferensi pers Biden menyatakan dengan tegas: “Jika Rusia menyerang … tidak akan ada lagi Nord Stream 2. Kami akan mengakhirinya.”

Jadi, kini Washington yang menetapkan kebijakan buat Jerman? Sungguh sebuah arogansi yang tak tertahankan!

Kanselir Jerman terkejut dengan komentar Biden yang jelas-jelas bukan bagian dari naskah aslinya. Meski begitu, Scholz tidak pernah setuju untuk membatalkan pipa gas Nord Stream 2 dan bahkan menolak untuk menyinggung pipa gas itu dengan menyebutkan namanya. 

Jika Biden mengira dia bisa memperlakukan pemimpin dari perekonomian terbesar keempat di dunia dengan memojokkannya di forum publik, dia salah perkiraan. Jerman tetap berkomitmen untuk mengoperasikan pipa gas Nord Stream 2 terlepas dari potensi gejolak di wilayah Ukraina yang letaknya jauh. 

Tapi itu bisa berubah sewaktu-waktu. Lagi pula, siapa yang tahu hasutan macam apa yang mungkin direncanakan Washington dalam waktu dekat? 

Siapa yang tahu berapa banyak nyawa yang siap mereka korbankan untuk menempatkan pengganjal di antara Jerman dan Rusia? 

Siapa yang tahu seberapa besar risiko yang bersedia diambil Biden untuk memperlambat kemerosotan Amerika dan mencegah munculnya tatanan dunia "polisentris" baru? Apapun bisa terjadi dalam beberapa pekan ke depan. Apapun itu.  ***

(Mike Whitney: UNZ Review/ 11 Februari 2022)