Korban Diminta Akui Kasus Pelecehan Seksual adalah Hoaks, Ini Kata Pengacara

Korban Diminta Akui Kasus Pelecehan Seksual adalah Hoaks, Ini Kata Pengacara
ilustrasi Korban Pelecehan Seksual./facebook

WJtoday, Jakarta - Sejumlah oknum Komisi Penyiaran Indonesia melibatkan komisioner KPI disebut melakukan perencanaan jahat membuat kesepakatan damai dengan korban pelecehan seksual berinisial MS dalam sebuah pertemuan di kantor KPI, belum lama ini. 

Dalam poin perdamaiannya, mereka meminta MS mengaku bahwa pelecehan seksual itu tidak pernah ada.

MS diminta membuat klarifikasi ke publik kalau pernyataan yang telah diungkapkannya ke publik adalah kabar hoaks. Mehbob, pengacara MS memastikan tidak ada kata damai dalam kasus yang dialami kliennya.

Dia akan memastikan semua prosesnya berjalan dan kasus ini bisa sampai ke ruang pengadilan. “Kami akan lawan sampai ke meja hijau,” ujar Mehbob kepada wartawan, dikutip Sabtu (11/9/2021).

Dia dan MS tidak gentar menghadapi kasus yang sangat berat ini. Meskipun yang dilawan adalah orang yang lebih senior dari korban di instansi KPI.

“MS sudah diperiksa Komnas HAM dan LPSK. Sekarang Komnas HAM dan LPSK sedang memantau. Kami akan mengawal proses ini sampai ke meja hijau,” ungkap Mehbob.

Ketika permohonan perlindungan dari LPSK dikabulkan, Mehbob mengatakan sesuai dengan UU No 31 Tahun 2014 dan Pasal 10, MS secara hukum tidak dapat dituntut balik karena termasuk saksi korban. 

Upaya perdamaian yang sempat ditawarkan sejumlah oknum KPI kepada MS berawal undangan dari komisioner KPI kepada MS untuk datang ke kantor tanpa didampingi kuasa hukum.

Ketika datang ke sana, MS diminta masuk ke sebuah ruangan dan diminta menandatangani kesepakatan damai. Sayangnya poin perdamaian itu malah merugikan MS.

Sebab dia yang merupakan korban diminta membuat klarifikasi ke publik seolah tidak pernah terjadi pelecehan seksual. MS diminta mengaku bahwa kabar itu adalah hoax. MS pun menolak untuk menanda tangani perdamaian itu.

Agung Suprio selaku Ketua KPI Pusat ketika dikonfirmasi terkait hal tersebut mengaku belum tahu apa-apa. Dia juga mengklaim belum baca berita.

“Saya baru bangun ini entar saya telepon deh,” ungkapnya.

Baca Juga : Kuasa Hukum Korban Pelecehan di KPI: Rencana Pelaporan Balik Menaklukkan Semangat MS

Diketahui, dugaan pelecehan seksual dan perundungan terjadi di kantor KPI Pusat, Jakarta, terhadap korban berinisial MS. MS mengaku kejadian itu membayangi dirinya selama bertahun-tahun selama bekerja di KPI.Dia menjadi korban perundungan sejak 2012 hingga 2014.

Menurutnya, sejak awal terdapat rekan kerja senior yang mengintimidasi dan memaksa dirinya untuk membeli makan selama bekerja. MS merasa diperlakukan secara rendah dan ditindas oleh rekan-rekan kerjanya seperti budak.

Ia bercerita, pada 2015 para pelaku perundungan itu mulai melakukan pelecehan seksual. Mereka memegangi kepala, tangan, kaki hingga menelanjangi korban. Bahkan, para pelaku mencoret-coret kelaminnya menggunakan spidol.

Perbuatan itu membuat dirinya merasa trauma dan rendah diri. Ia tak bisa melawan aksi perundungan yang dilakukan secara ramai-ramai itu. Setahun berlalu, ia masih merasa stres akibat perlakuan para seniornya di kantor. Ia mengatakan sering berteriak tanpa sebab dan mengingat masa-masa pelecehan tersebut.

MS juga bercerita bahwa ia pernah dilempar ke kolam renang saat sedang mengikuti kegiatan di Resort Prima Cipayung, Bogor. Kala itu, ia sedang tertidur dan dirundung oleh para pelaku. Sekitar pukul 01.30 WIB, ia dilempar dan dijadikan sebagai ‘hiburan’.***