Kontroversi Cak Imin Sebut Suara PBNU Tak Pengaruh Bagi PKB

Kontroversi Cak Imin Sebut Suara PBNU Tak Pengaruh Bagi PKB
Cak Imin menyebut bahwa ucapan Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf tidak berpengaruh terhadap loyalitas 13 juta suara PKB tersebut.

WJtoday, Jakarta  - Ketum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengungkapkan soal 13 juta pemilih loyal PKB pada wawancara sebuah acara Televisi Indonesia yang ditayangkan pada Senin, 9 Mei 2022

Cak Imin menilai, 13 juta suara itu bisa menjadi modal dirinya maju Pilpres 2024.

"Planning PKB memang dengan konstituen yang sangat solid pasti fix kita punya modal suara 13 juta sangat loyal," ungkap Cak Imin.

"Di survei semua lembaga survei pemilih PKB adalah loyal. Solid sekali. Sampai ke bawah," imbuhnya. 

Saking solidnya, Cak Imin menyebut bahwa ucapan Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf tidak berpengaruh terhadap loyalitas 13 juta suara PKB tersebut.

"Bahkan Yahya Cholil Ketua Umum PBNU ngomong apa aja terhadap PKB nggak ngaruh sama sekali, coba di survei, survei terakhir. Itu menunjukkan bahwa kesolidan ini modal dan saya lihat modal ini semakin besar kalau saya nyapres," kata Cak Imin.

Terkait hal tersebut Ketua DPP PKB Daniel Johan, menanggapi pernyataan ketua umumnya, Muhaimin Iskandar, yang menyebut omongan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf tak berpengaruh bagi terhadap soliditas 13 juta suara PKB. 

Daniel mengatakan, pernyataan Cak Imin tak bermaksud menyinggung PBNU, namun hanya sebagai penyemangat bagi kader PKB. 

"Itu lebih menyemangati kader untuk terus bersama dan memperkuat grassroot di bawah. Tidak ada yang khusus," ujar Daniel Johan kepada wartawan, Selasa, (10/5/22)

Menurutnya, peran PBNU tetap penting bagi PKB dalam pemilihan suara di Pemilu 2024 bahkan untuk bangsa dan negara.

"NU bukan hanya penting untuk PKB, bahkan ikut menentukan negara dan bangsa ini," kata anggota DPR dapil Kalimantan Barat itu. 

Daniel juga membantah adanya ketegangan antara PKB dan PBNU sebagai buntut ucapan Cak Imin. PKB dan PBNU, kata dia, akan terus beriringan karena kader PKB mengalir darah NU. 

"Seperti biasa baik-baik saja, kader PKB begitu melek mata yang dipikirkan juga NU. PKB akan terus bergandengan tangan dengan NU, karena NU itu sudah menjadi darah dan daging kader PKB," kata Daniel. 

"Bahkan guyonan yang populer di PKB itu bahwa 'sebelum lahir sudah NU'," imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Ishfah Abidal Aziz menilai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai sosok arogan.

Ishfah menyatakan hal tersebut merespons pernyataan Cak Imin yang menyebut Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf tidak memiliki pengaruh di partainya.

“Saya merasa heran, kaget dengan Ketum PKB tiba-tiba kehilangan akhlak komunikasi,” ujar Ishfah seperti diberitakan cnnIndonesia. Com, Senin (2/5/2022).

“Kita melihat ada arogansi Muhaimin sebagai Ketum PKB dalam pernyataan tersebut,” tambah Stafsus Menteri Agama itu.

Karenanya, Ishfah menilai ucapan Imin mengabaikan peran PBNU dalam perkembangan politik PKB. Padahal, selama ini lumbung suara terbesar PKB adalah warga NU. 

Diketahui Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan NU harus mengedepankan kepentingan nasional. Gus Yahya tidak ingin NU menjadi pihak dalam sebuah kompetisi politik dan hanya dimonopoli satu warna yakni PKB.

"Yang kita inginkan adalah NU tidak menjadi pihak dalam kompetisi politik, NU secara institusional, secara kelembagaan tidak menjadi pihak dalam kompetisi politik. Itu adalah keputusan muktamar 1984 lalu," ujar Gus Yahya dalam wawancara dengan salah satu TV Indonesia.

Menurut Gus Yahya memang akan sulit untuk benar-benar mensterilkan NU dari berbagai pengaruh politik.

Gus Yahya kemudian berbicara soal relasi PKB dan NU. Meski kuat, ia tidak ingin NU jadi alat PKB dan dikooptasi.

"Relasi NU dan PKB alami sekali. Dulu PKB sendiri diinisiasi bahkan dideklarasikan oleh pengurus-pengurus PBNU. Tetapi sekali lagi memang tidak boleh NU ini menjadi alat dari PKB, misalnya, atau dikooptasi oleh PKB. Itu kan nggak boleh. Ini kan yang harus kita jaga," ucap Gus Yahya.***