Kisah 26 Botol Wine Dikirim ke Rumah Dinas Edhy Prabowo

Kisah 26 Botol Wine Dikirim ke Rumah Dinas Edhy Prabowo
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo

WJtoday, Jakarta - Ada keterangan menarik dalam sidang lanjutan kasus korupsi ekspor benih lobster yang menyeret mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo sebagai terdakwa. Tanpa menyebut waktu persis, tenaga ahli Partai Gerindra Ery Cahyaningrum mengaku mengirimkan 26 botol wine atau anggur ke dua rumah dinas Edhy, entah saat proses korupsi terjadi atau tidak.

“Saya diminta mencarikan dan kebetulan saya ada kenalan importir wine, jadi saya hanya perantara saja,” ujar Ery dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk enam terdakwa kasus itu, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu 19 Mei 2021, seperti dilansir dari Antara.

Dia menyebut nama sekretaris pribadi Edhy Prabowo, Amiril Mukminin sebagai orang yang memintanya untuk mengirimkan anggur.

Kepada majelis hakim, dia menyebut mendapat imbalan Rp99,4 juta untuk pembayaran dari setiap anggur yang dikirim. Uang didapat dari staf Edhy, pertama dari Achmad Bahtiar sebanyak Rp50 juta dan Amri sebesar Rp49 juta.

Dua jenis wine yang dikirimkan Ery adalah Chateau Pontet-canet Pauillac Grand Cru dan Australian Red Wines. Amiril, disebutnya, menyukai minum anggur.

Hakim lantas bertanya-tanya mengapa Ery justru memberikan kesaksian ihwal perintah mengirim anggur itu dalam persidangan. Padahal, majelis hakim ingin mendapat informasi lebih terkait korupsi yang terjadi.

“Ini saudara kan tenaga ahli Partai Gerindra kok keterangannya malah terkait dengan wine,” kata ketua majelis hakim Albertus Usada.

Adapun Ery menjadi saksi untuk enam terdakwa yaitu Edhy Prabowo, Andreau Misanta Pribadi dan Safri (staf khusus Edhy Prabowo), Amiril Mukminin (sekretaris pribadi Edhy), Ainul Faqih (sespri Iis) dan Siswadhi Pranoto Loe (pemilik PT Aero Cipta Kargo) yang didakwa bersama-sama menerima 77 ribu dolar AS dan Rp24,625 miliar sehingga totalnya mencapai sekitar Rp25,75 miliar dari para pengusaha pengekspor benih benih lobster (BBL) terkait pemberian izin budidaya dan ekspor.

Dalam dakwaan disebutkan Edhy Prabowo meminjam nama PT Aero Citra Kargo (ACK) milik Siswadhi Pranoto Lee demi bisa mengekspor benih lobster. Padahal, pengiriman sebenarnya dilakukan oleh PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) yang juga milik Siswadhi.

Kesepakatan pembagian pembayaran dari hasil ekspor adalah PT ACK mendapat Rp1.450 sedangkan PT PLI Rp350 per ekor sehingga biaya keseluruhan untuk ekspor BBL adalah sebesar Rp1.800 per ekor BBL.

Dari hasil itu, Amiril Mukminin dan Achmad Bachtiar sebagai representasi Edhy Prabowo lantas meminta jatah sama senilai Rp12,312 miliar. Kemudian, Yudi Surya Atmaja yang menjadi representasi Siswadhi diganjar uang sebesar Rp5,047 miliar. Jumlah uang itu hasil operasi PT ACK sejak Juni hingga November 2020, dengan keuntungan bersih Rp38.518.300.187.

Masing-masing juga mendapat jatah saham PT ACK, Achmad Bahtiar (41,65 persen), Amiril (41,65 persen), dan Yudi Surya Atmaja (16,7 persen).***(agn)