Kenali Bank Emok: Bunga Tinggi dan Ancaman Teror

Kenali Bank Emok: Bunga Tinggi dan Ancaman Teror
Ilustrasi bank emok (pikiran rakyat)

WJtoday, Bandung - PROFESI rentenir biasanya identik dengan seorang laki-laki. Namun di wilayah selatan Jawa Barat, rentenir didominasi oleh kalangan emak-emak alias ibu-ibu. Mereka biasa disebut sebagai bank emok yang dikenal kejam dan memaksa saat menagih pinjaman kepada masyarakat.

Biasa disebut bank emok karena dalam praktiknya saat bertransaksi biasanya mereka duduk secara sila menyamping, atau dalam bahasa Sunda disebut emok.

Bank emok biasanya memberikan pinjaman kepada masyarakat dengan bunga yang sangat tinggi. Sasaran utama mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang sedang berkumpul di wilayah pedesaan. Bank emok akan memberikan pinjaman kepada ibu-ibu di desa dengan besaran dana Rp1 juta hingga Rp 5 juta.

Dari informasi, biasanya  bank emok tidak akan meminjamkan uang kepada perseorangan melainkan hanya kepada kelompok ibu-ibu. Ketika terjadi penumpukan bunga yang harus dibayarkan maka kelompok tersebut yang akan menanggungnya secara bersama.

Begitupula ketika ada salah seorang anggota dari kelompok tersebut mengalami kendala finansial untuk membayar bunga, maka kelompok tersebut juga akan berpatungan membayarnya.

Syarat untuk meminjam atau bertransaksi dengan emak-emak bank berjalan tersebut cukup mudah. Setiap kelompok ibu-ibu di desa tersebut hanya diwajibkan menyerahkan fotocopy KTP per orang, setelah itu bank emok akan langsung mencairkan uangnya sesuai pinjaman dan dalam jangka tertentu.

Meski memudahkan masyarakat untuk mendapatkan uang, keberadaaan bank emok perlu diwaspadai karena bunganya yang tinggi menjerat, serta sistem penarikan uangnya yang terkesan memaksa dan meneror di waktu-waktu yang tidak tepat.

Tak hanya peminjam, warga desa sekitar pernah merasakan  teror bank emok. Warha yang tidak pernah meminjam uang, namun seringkali bank emok datang ke rumahnya dengan mengetuk pintu pada tengah malam untuk menanyakan data dan meminta diantar ke alamat warga yang meminjam uang ke bank emok tersebut.

Tidak kurang pula banyak dari warga desa nasabah bank emok kerap bersembunyi di sawah, ladang hingga ke luar desa agar bisa terhindar dari teror bank emok yang dianggap meresahkan warga.

Tidak mudah memberangus aksi rentenir emak-emak ini. Apalagi saat kondisi pandemi Covid-19 masih berlangsung. Ketika perekonomian lesu, memperoleh penghasilan pun tak tentu, ketika koperasi mati suri terimbas pandemi, godaan bank emok makin berbahaya dan makin berpeluang tetap eksis.  ***

* (Thoriqoh Nasrullah Fitriyah: Anggota Komisi III DPRD Provinsi Jawa Barat)