WHO Desak Indonesia Lakukan Penguncian Lebih Luas dan Ketat

WHO Desak Indonesia Lakukan Penguncian Lebih Luas dan Ketat

WJtoday, Jakarta - Gelombang infeksi virus corona di dunia belum berakhir, ditandai dengan masih adanya pelaporan kasus-kasus baru dari berbagai negara.

Melansir Worldometers pada Jumat (23/7/2021) pukul 09.11 WIB, virus penyebab Covid-19 telah menginfeksi 193.370.183 orang secara global.

Dari jumlah tersebut, 175.711.418 kasus telah dinyatakan sembuh dan virus menewaskan 4.150.859 orang di seluruh dunia.

Berikut lima negara dengan kasus infeksi terbanyak:

1. Amerika Serikat

Amerika Serikat masih menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di dunia.

Kasus infeksi virus corona di negara ini dilaporkan sebanyak 35.213.594 kasus, dengan 29.478.173 di antaranya telah sembuh.

Adapun kematian akibat virus corona di AS juga menduduki peringkat pertama secara global, sebanyak 626.172 kasus.

2. India

Terdapat 34.865 kasus baru yang dilaporkan di India selama satu hari terakhir.

Secara keseluruhan virus telah menginfeksi 31.291.704 orang di negara ini, membuat India berada di posisi kedua negara dengan kasus infeksi terbanyak di dunia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 30.460.304 kasus telah dinyatakan sembuh dan virus SARS-CoV-2 telah menewaskan 419.502 orang di India.

3. Brasil

Brasil berada di posisi ketiga negara dengan kasus infeksi Covid-19 terbanyak di seluruh dunia.

Berdasarkan data yang dilaporkan, virus corona telah menginfeksi sebanyak 19.524.092 orang di Brasil.

Dari total kasus tersebut, sebanyak 18.259.711 orang telah dinyatakan pulih dan virus corona telah menewaskan 547.134 orang di negara ini.

4. Rusia

Rusia berada di posisi keempat negara dengan kasus infeksi terbanyak.

Sejauh ini telah dilaporkan adanya 6.054.711 kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Dari jumlah tersebut, 5.427.457 orang yang terpapar virus telah sembuh.

Adapun 151.501 orang di negara ini, dinyatakan meninggal dunia akibat Covid-19.

5. Perancis

Perancis menjadi negara kelima dengan kasus Covid-19 terbanyak di dunia.

Sejauh ini, Perancis melaporkan 5.933.510 kasus positif infeksi corona, sedangkan virus telah menewaskan 111.565 orang di negara ini.

WHO desak Indonesia terapkan penguncian ketat dan luas

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak Indonesia menerapkan penguncian lebih ketat dan luas.

Hal ini dilakukan demi menekan lonjakan kasus dan angka kematian akibat Covid-19.

Sebagaimana disampaikan pada Kamis (22/7/2021), beberapa hari setelah Presiden Joko Widodo menyebut akan adanya pelonggaran pembatasan atau relaksasi.

Beberapa pekan terakhir, Indonesia telah menjadi salah satu episentrum pandemi global, dengan kasus positif Covid-19 melonjak lima kali lipat dalam lima minggu terakhir.

Dituliskan CNA, minggu ini kematian harian mencapai rekor tertinggi melebihi 1.400 orang, di antara jumlah korban tertinggi di dunia.

Dalam laporan situasi terbarunya, WHO menuturkan bahwa penerapan kesehatan masyarakat yang ketat dan pembatasan sosial sangat penting.

Selain itu, WHO menyerukan agar mengambil tindakan mendesak untuk mengatasi peningkatan tajam dalam infeksi di 13 dari 34 provinsi di Indonesia.

“Indonesia saat ini menghadapi tingkat penularan yang sangat tinggi, dan ini menunjukkan pentingnya penerapan kesehatan masyarakat dan langkah-langkah sosial yang ketat, terutama pembatasan pergerakan di seluruh negeri,” ujar WHO.

Sebagai informasi, tingkat positif harian Indonesia, proporsi orang yang dites yang terinfeksi, rata-rata 30 persen selama seminggu terakhir bahkan ketika jumlah kasus telah turun.

“Tingkat di atas 20 persen berarti penularan sangat tinggi,” kata WHO.

WHO menjabarkan bahwa seluruh provinsi di Indonesia, kecuali Aceh, memiliki tingkat positif di atas 20 persen (dengan outlier), sedangkan Aceh pada 19 persen.

Dampak pandemi pada kesehatan mental

WHO sendiri memperingatkan dampak kesehatan mental dari pandemi yang terjadi akan berjangka panjang dan luas.

Tak dipungkiri, pandemi memang telah membuat banyak orang merasa cemas dan stres.

Kecemasan seputar penularan virus, dampak psikologis dari penguncian dan isolasi diri, telah berkontribusi pada krisis kesehatan mental, bersama tekanan terkait pengangguran, masalah keuangan, dan keterasingan sosial.

“Dampak kesehatan mental dari pandemi ini akan berjangka panjang dan berjangkauan luas,” tulis WHO seperti dikutip dari CNA, Jumat (23/7/2021).

Direktur Regional WHO untuk Eropa Hans Kluge menyampaikan, kesehatan mental harus dianggap sebagai hak asasi manusia yang mendasarkan.

Ia menegaskan, pandemi memang telah menghancurkan kehidupan.

“Pandemi telah mengguncang dunia,” ujar Kluge.

Seperti diketahui, lebih dari 4 juta melayang akibat infeksi corona, mata pencaharian hancur, keluarga dan komunitas terpisah, hingga bisnis-bisnis bangkrut selama pandemi berlangsung.

WHO menyerukan adanya penguatan layanan kesehatan mental secara umum dan peningkatan akses ke perawatan tersebut melalui teknologi.

Selain itu, didesak diberikannya layanan dukungan psikologis yang lebih baik di sekolah, universitas, tempat kerja, dan orang-orang garda depan melawan Covid-19.***