Kasus Covid-19 di Indonesia Sebenarnya Bisa Mencapai 16 Juta

Kasus Covid-19 di Indonesia Sebenarnya Bisa Mencapai 16 Juta
Ilustrasi (antara)

WJtoday, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprediksi, jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 16 juta dan sekitar 12 juta di antaranya tidak terlaporkan dalam sistem. 

Analisis ini merujuk hasil survei seroprevalensi Covid-19 di Jakarta sebesar 91,9% warga Ibu Kota yang terinfeksi tak tercatat dalam sistem per 31 Maret 2021.

"Jumlah orang yang terinfeksi bisa tiga sampai empat kali lipat yang dilaporkan," ucap Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, dalam Alinea Forum bertajuk "Bersiaga Gelombang Ketiga", Selasa (23/11/2021).

Siti Nadia melanjutkan, Indonesia sampai sekarang belum mencapai kekebalan kelompok (herd immunity). Alasannya, capaian vaksinasi masih di bawah 70% dari total penduduk.

“Tetapi dari terinfeksi alamiah itu tidak menjadi faktor target vaksinasi untuk bisa mengendalikan atau menurunkan laju penularan, walaupun itu memang berkontribusi, masih memungkinkan,” tuturnya.

Baca juga: Pandemi Global Kembali Naik, Masyarakat Diminta Waspada Hadapi Libur Nataru

Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, menambahkan, imunitas orang yang telah terinfeksi Covid-19 tidak terbangun konsisten dan kuat. 

"Makanya, penyintas ini tetap harus divaksin." tegas Dicky.

Berdasarkan hasil survei seroprevalensi Covid-19 di Jakarta, hanya 4,7 juta (44,5%) dari total 10,6 juta warga yang pernah terinfeksi Covid-19. Di sisi lain, kumulatif kasus terlaporkan per 31 Maret sebanyak 382.005. Karenanya, deteksi kasus di Ibu Kota dinilai masih rendah lantaran proporsi yang terdeteksi hanya 8,1%.

"Ini harus memiliki konsekuensi nasional pada daerah-daerah yang angka testing-nya jauh lebih rendah dari target yang seharusnya, bahwa dengan menurunkan testing itu tidak menyelesaikan masalah. Jakarta yang sedemikian tinggi [angka testing] pun ternyata banyak yang tidak terdeteksi dalam sistem. Ini menunjukkan, bahwa banyak yang tidak sadar jika terinfeksi,” tutur epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, beberapa waktu lalu.

Survei seroprevalensi Covid-19 dilaksanakan pada 15-31 Maret 2021, ketika cakupan vaksinasi di Jakarta belum terlalu besar. Riset ini dilakukan untuk mengetahui jumlah orang yang pernah terinfeksi dan sudah memiliki antibodi.  ***