Indonesia Jadi Episentrum Dunia, Apa Langkah Pemerintah ?

Indonesia Jadi Episentrum Dunia, Apa Langkah Pemerintah ?

WJToday,Jakarta,- Pemerintah menyatakan sudah menyiapkan skenario kasus terburuk (worst case scenario) lonjakan kasus dan mengantisipasi apabila kasus penularan harian Covid di Indonesia naik sampai 100.000.

Namun kalangan epidemiolog yakin kasus Covid kini sudah lebih banyak. Seorang epidemiolog bahkan menyebut Indonesia kini jadi episentrum penularan Covid, tidak hanya di Asia namun di dunia.

Mereka menyarankan apabila penularan sudah sebanyak itu maka perlu pengendalian yang lebih ketat, seperti lockdown yang disertai pengetesan (testing) secara masif.

Penularan Covid di Indonesia pun terus mencetak rekor. Pada Sabtu (17/07/2021) terdapat 51.982 kasus baru, sehingga total penularan sebesar 2.832.755, ungkap data Satgas Penanganan Covid-19.

Di sisi lain, warga yang menderita Covid pun hingga kini masih kesulitan mendapat perawatan yang layak. Banyak sekali kasus warga dalam satu keluarga yang semua anggotanya mengidap Covid selama dua pekan namun tidak bisa dirawat di rumah sakit dan terpaksa isolasi mandiri di rumah.

Padahal seorang dari mereka sudah bergejala sedang dengan saturasi oksigen di bawah normal.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan, mengungkapkan pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk jika kasus penularan terus naik.

"Kalau kita bicara worst case scenario, untuk 60.000 [kasus] atau lebih sedikit kita masih cukup oke. Ya kita tidak berharap mungkin sampai ke 100.000, tapi itu pun kami sudah rancang sekarang kalau pun sampai terjadi di sana," ujar Luhut dalam jumpa pers online, Kamis (15/7).

Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, mengaku tidak kaget bila kenaikan kasus penularan covid di Indonesia bisa menyentuh 100.000. Menurut dia, angka penularannya bisa lebih besar.

"Jadi angka yang dilaporkan sekarang ini jumlah kasusnya kan 2 juta-an. Saya sudah tahu angkanya itu lebih, saya sebutkan saja ya, bahkan 10 kali lipat saja lebih. Jadi angka di Indonesia itu 10 kali lipat dari yang dilaporkan," ujar Miko seperti dikutip dari BBC Indonesia Kamis (15/7/2021)

Dia menyebutkan bahwa prevalensi antibodi positif SARS CoV-2 di DKI Jakarta saja sebanyak 45%. "Survei saya sebelumnya tidak mencapai angka itu. Angka di Jakarta itu dipercepat oleh varian baru, Alpha dan Delta."

Dia mengaku sudah punya hasil survei untuk angka prevalensi di Indonesia, namun belum dapat diungkap alias off the record. "Tapi saya tahu persis angkanya di Indonesia. Artinya kalau kita bicara angka di Indonesia the worst case-nya kayak di Jakarta," ujar Miko.

Sedangkan epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, yakin bahwa angka penularan harian kini sudah menembus 100.000 kasus.

"Bahkan tiga minggu lalu sudah 300.000 lebih," ungkap Dicky, pada Kamis (15/7/2021).

Menurut Dicky, perhitungannya berdasarkan data angka kematian harian yang sudah menembus 1.000 jiwa pada Selasa hingga Rabu pekan lalu (7/7).

Dengan menggunakan rumus bisa dihitung bahwa tiga minggu sebelumnya terdapat sekitar 120.000 kasus infeksi yang berkontribusi pada kematian sekitar 1.000 jiwa. Padahal, ketika itu jumlah kasus yang dilaporkan pemerintah sebanyak 5.000-an kasus.

Perhitungan seperti itu, menurutnya masih tergolong rendah karena memakai angka yang minimal.

"Laporan kasus 54.000-an ini [per Rabu 14/7] dalam realita di lapangan lebih dari 100.000 ya," ujar Dicky.

"Ini juga kita harus tahu rezim testing kita ini pasif, lebih banyak orang itu ke faskes baru dites. Sedangkan di masyarakat kan tes sendiri, bayar sendiri. Jadi sekarang jauh lebih banyak. Makanya kita jadi episenter bukan hanya Asia sebetulnya, tapi dunia," tambah Dicky.***