Imbas Covid-19 : Rupiah Bisa Anjlok Rp.20.000

Imbas Covid-19 : Rupiah Bisa Anjlok Rp.20.000
WJtoday,Jakarta - Rupiah Indonesia anjlok hingga mencapai rekor terendah pada 1998 baru-baru ini sebelum bantuan dari pemerintah. Pasar opsi menunjukkan jeda akan berlangsung singkat. Bahkan, Sri Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia menyebut, kurs rupiah bisa ambles jadi Rp20 ribu.

Pada opsi menentukan harga peluang hampir 80 persen mata uang rupiah akan turun melampaui level terendah 16.950 per dolar Amerika Serikat dalam tiga bulan. Rabobank memperkirakan rupiah jatuh ke tingkat 17.922 per dolar pada kuartal kedua 2020.

Sementara, menurut catatan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi mengalami pelemahan hingga Rp20 ribu per dolar AS. Ini adalah skenario terburuk dari nol pertumbuhan ekonomi jika pandemi COVID-19 berlangsung selama tiga hingga enam bulan lagi, sehingga tekanan pada rupiah bisa terus meningkat.

Menurut penuturan Sri pada Antara, itu menjadi bagian dari salah satu skenario asumsi makro 2020 yang seluruhnya mengalami perubahan, seperti pertumbuhan ekonomi diperkirakan 2,3 persen hingga -0,4 persen. Kemudian inflasi 5,1 persen serta harga minyak mentah Indonesia anjlok menjadi 31 dolar AS per barel.

“Kurs yang saya sampaikan ini supaya menahan diri, karena kita sedang jaga kondisi. Bagian tadi yang tabel asumsi makro itu prediksi ke depan kita untuk mencegah agar tidak terjadi, Kita sekarang sedang benar-benar jaga pergerakan ekonomi kita,” tutur Sri saat telekonferensi, Rabu (1/4), dilansir dari sumber serupa.

Sementara, menurut catatan The Gulf Times, taruhan pada rupiah, yang seringkali dilihat sebagai tolok ukur untuk selera risiko, menunjukkan rupiah masih jauh dari mencapai titik terendah. Kekalahan untuk aset pasar berkembang tampaknya akan berlangsung lebih lama lagi ketika seluruh dunia tengah bergulat untuk menahan pandemi COVID-19. Bahkan dengan dolar Amerika dan yen China yang lebih murah, perdagangan carry mata uang populer dapat terus melonggar.

“Saya kira situasinya belum membaik sama sekali dan saya masih percaya ada lebih banyak rasa sakit untuk rupiah, terlepas dari stimulus AS,” kata Raphie Hayat, ekonom senior di Rabobank. “Likuiditas dolar belum tentu mengarah ke pasar negara berkembang, sehingga permintaan untuk dolar kemungkinan akan tetap kuat.”


 
Nilai tukar rupiah anjlok 15 persen pada kuartal ini, bersiap untuk kinerja terburuknya sejak September 1999. Rupiah turun untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa (31/3) ketika negara ini bersiap untuk melakukan penguncian wilayah atas ibu kota DKI Jakarta demi mengekang penyebaran virus corona baru. Mata uang naik sekitar 2,5 persen dalam tiga sesi sebelumnya pada janji pembelian obligasi tak terbatas Federal Reserve dan paket stimulus Amerika Serikat.

Bank Indonesia telah melakukan sejumlah langkah untuk memperlambat penurunan mata uang dengan membeli obligasi senilai 168,2 triliun rupiah serta melakukan intervensi dalam mata uang spot dan melakukan forward pasar. Pada 26 Maret 2020, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan tekanan tengah mereda karena arus keluar asing melambat.

Pendanaan global telah menjual US$8,3 miliar dari utang negara pada 27 Maret 2020, penjualan triwulanan paling banyak sejak Bloomberg mulai melacak data pada 2009. Kepemilikan mereka telah turun dari tertinggi 39 persen pada Januari 2020 menjadi 33 persen pada 26 Maret.


 
Hal itu membuat obligasi Indonesia menunjukkan kinerja terburuk pada Maret 2020 setelah Afrika Selatan di antara 47 pasar sovereign yang dilacak oleh Bloomberg. Utang Indonesia telah kehilangan 5,5 persen sejak akhir Februari 2020, sementara Treasury AS naik 2,8 persen.

Baca Juga: Ironi Ekonomi Indonesia: Pertumbuhan Meningkat tapi Rakyat Menderita

“Langkah-langkah intervensi membantu memuluskan volatilitas. Namun, untuk menghentikan arus keluar kita perlu melihat stabilisasi berbasis luas dalam sentimen pasar,” tutur Winson Phoon, kepala penelitian pendapatan tetap di Maybank Kim Eng Securities di Singapura.

The Gulf Times melaporkan, kemerosotan terus menerus dalam rupiah dan arus keluar akan membebani defisit neraca berjalan Indonesia, yang melebar ke 2,84 persen dari PDB pada kuartal keempat 2019, yang terburuk di Asia. Cadangan devisa bank sentral turun pada Februari 2020 menjadi US$130,44 miliar.

“Mata uang pasar negara berkembang akan terus menjadi korban akibat sentimen yang berubah,” tegas Nicholas Mapa, ekonom senior di ING Bank di Manila, Filipina.

“Kita tidak akan keluar dari krisis sampai kita melihat ekonomi kembali bekerja dan ketika menjaga jarak (social distancing) tidak lagi menjadi norma yang diharuskan.”