Hisablah Diri Sendiri Sebelum Datang Waktunya Dihisab

Hisablah Diri Sendiri Sebelum Datang Waktunya Dihisab
Ilustrasi (wjtoday/yoga enggar)

WJtoday, Bandung - Allah menegaskan kita jangan merasa dan mengklaim diri suci, karena Allah sajalah yang paling mengetahui siapa yang bertaqwa dan yang tidak. 

Sementara Allah juga tahu siapa diri kita sejak dari awal penciptaan, ketika masih berupa janin di rahim ibu kita, hingga kita dewasa. Namun, Ia juga mengingatkan kita tentang ampunan-Nya yang luas.

Muhasabah berasal dari kata hasyib yahsabu hisab, yang artinya perhitungan. Sedangkan pengertian muhasabah yakni upaya dalam melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap diri sendiri dalam melihat aspek kebaikan dan keburukan.

Dalam Islam, muhasabah ini bertujuan untuk memperbaiki hubungan kepada Allah (habluminallah), hubungan kepada sesama manusia (habluminannas), serta hubungan dengan diri sendiri (habluminannafsi).

Bagi seorang muslim, muhasabah adalah hal penting dan sebisa mungkin tak boleh dilewatkan. Sebab hidup di dunia itu sangat singkat. Jauh berbeda dengan kehidupan akhirat yang kekal.

Kehidupan yang kita jalani saat ini pun akan menentukan bagaimana kehidupan di akhirat kelak. Apakah berakhir baik dan masuk surga, atau berakhir buruk dan masuk neraka.

Muhasabah atau menghisab, menghitung atau mengkalkulasi diri adalah satu upaya bersiapsiaga menghadapi dan mengantisipasi yaumal hisab (hari perhitungan) yang sangat dahsyat di akhirat kelak. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat). Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. 59:18).

Kemudian di surat yang lain Allah berfirman:

(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu masih berupa janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa”.(QS. 53:32)

Ayat Allah SWT di atas menyadarkan kita akan kelemahan dan kenistaan kita sebagai manusia yang sering kali berbuat kekhilafan. Bahwa seandainya pun terhindar dari dosa-dosa besar, kita pasti tak akan luput dari dosa-dosa kecil.

Persiapan yang dimaksud tentu saja membekali diri dengan takwa, karena itulah bekal manusia yang paling baik di sisi Allah. Umar ra pernah mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal: “Haasibu anfusakum qabla antuhasabu” (Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab). 

Begitu pentingnya kita melakukan muhasabah secara berkala, karena segala perkataan dan perbuatan kita dicatat dengan cermat oleh malaikat Raqib dan Atid dan akan dimintakan pertanggung jawabannya kelak di hadapan Allah ( QS. 50:17-18). 

Setiap kebaikan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi ganjaran dan keburukan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi balasan berupa azab-Nya (QS. 99:7-8).

Bila mengingat dahsyatnya hari penghisaban, perhitungan dan pembalasan, wajar sajalah jika kita harus mengantisipasi dan mempersiapkan diri sesegera, sedini dan sebaik mungkin. 

Dalam QS. 80:34-37, tergambar kedahsyatan hari itu ketika semua orang berlarian dari saudara, kerabat, sahabat, ibu dan bapaknya serta sibuk memikirkan nasibnya sendiri. Hari di mana semua manusia pandangannya membelalak ketakutan, bulan meredup cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan, manusia berkata: 

Ke mana tempat lari? Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu saja pada hari itu tempat kembali”. (QS. 75:7-12).

Di sebuah riwayat dikisahkan orang-orang miskin bergerombol di depan pintu surga. Ketika dikatakan kepada mereka agar antre dihisab dulu, orang-orang miskin yang shaleh ini berkata, “Tak ada sesuatu apapun pada kami yang perlu dihisab”.

Dan memang ada tiga harta yang tak akan kena hisab, yakni satu rumah yang hanya berupa satu kamar untuk bernaung, pakaian selembar untuk dipakai dan satu porsi makanan setiap hari yang sekadar cukup untuk dirinya. Maka orang-orang miskin itupun dipersilakan masuk ke surga dengan bergerombol seperti kawanan burung.

Yaumul Hisab itu bahkan juga terasa berat bagi para Nabi seperti Nabi Nuh yang ditanya apakah ia sudah menyampaikan risalah-Nya atau Nabi Isa yang ditanya apakah ia menyuruh umatnya menuhankan ia dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah. 

Pertanyaan yang datang bertubi-tubi itu terlihat menekan dan meresahkan para Nabi. Jika Nabi-nabi saja demikian keadaannya, bagaimana pula kita?

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang bangkrut di hari penghisaban, hari ketika dalih-dalih ditolak dan hal sekecil apapun dimintakan pertanggung jawabannya. 

Mengapa disebut bangkrut? Karena, ternyata amal saleh yang dilakukan terlalu sedikit untuk menebus dosa-dosa kita yang banyak sehingga kita harus menebusnya di neraka. Naudzubillahmindzalik.  ***

(Pam: dari berbagai sumber)