Hari Pembunuhan Munir 7 September Jadi Peringatan Perlindungan Pembela HAM

Hari Pembunuhan Munir 7 September Jadi Peringatan Perlindungan Pembela HAM
ilustrasi./twitter

WJtoday, Jakarta - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menetapkan 7 September sebagai Hari Perlindungan Pembela HAM. Penetapan itu berdasarkan hari pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada 2004.

"Saudara Munir hari kematiannya kita jadikan Hari Perlindungan Pembela HAM dengan pertimbangan saudara Munir seorang pejuang yang sangat teguh dengan pendiriannya memperjuangkan HAM dari semua aspek," kata Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dalam konferensi pers, Jakarta, Selasa (7/9/2021).

Komnas HAM menilai pembunuhan Munir 7 September sebagai peristiwa penting bagi perjuangan HAM dan demokrasi Indonesia. Penetapan itu diambil Komnas HAM melalui rapat paripurna anggota. Seluruh komisioner sepakat hari pembunuhan Munir 17 tahun lalu itu ditetapkan sebagai Hari Perlindungan Pembela HAM.

Ahmad Taufan mengatakan sosok Munir merepresentasikan hampir seluruh dimensi HAM yang diperjuangkannya semasa hidup. Mulai dari kebebasan berekspresi dan berpendapat hingga persoalan kekerasan di Papua serta Aceh. Munir juga dianggap sebagai pejuang HAM yang terbukti teguh dan konsisten.

"Dia (Munir) seorang pejuang yang mewakili hampir seluruh dimensi HAM tanpa mengurangi penghormatan kita kepada pejuang-pejuang HAM lain. Seperti Marsinah (aktivis buruh), Udin (jurnalis) aktivis lingkungan di Kalimantan, ada Jafar Siddiq Hamzah seorang tokoh pejuang HAM dari Aceh, ada juga dari Papua beberapa nama. Seluruhnya kita hormati," ujar dia.

Komnas HAM juga menerbitkan Standar Norma Pengaturan (SNP) tentang perlindungan pembela HAM. SNP dikeluarkan sebagai petunjuk bagi semua pihak, terutama penegak hukum, agar dalam setiap kebijakan dan tindakan berlandaskan prinsip-prinsip HAM.

SNP disusun agar semua pihak memiliki pemahaman dan standar yang sama mengenai perlindungan HAM. Dengan adanya SNP, Komnas berharap orang-orang yang membela HAM terlindungi dan tidak mendapat perlakuan diskriminasi.

"Kami melihat selama ini tindakan terhadap para pembela HAM sedemikian masif serangan yang terjadi, sehingga ini menjadi catatan penting kita untuk mengingatkan," kata Komisioner Komnas HAM Hairansyah.***