Habib Rizieq Kembali Jalani Sidang, Saksi Ahli UGM: Seseorang Tidak Bisa Dipidana Jika sudah Disanksi Denda

Habib Rizieq Kembali Jalani Sidang, Saksi Ahli UGM: Seseorang Tidak Bisa Dipidana Jika sudah Disanksi Denda

Wjtoday, Jakarta - Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) menggelar kembali sidang lanjutan Habib Rizieq Shihab (HRS) terkait perkara kerumunan di Petamburan, Jakarta Pusat dan Megamendung, Kabupaten Bogor hari ini Senin (17/5/2021).

Dalam sidang lanjutan tersebut, tiga saksi ahli dihadirkan pihak Habib Rizieq dari mulai ahli hukum kesehatan, ahli bahasa hingga ahli epidemiologi. 

"Ini kita ada saksi ahli, tiga saksi, ahli bahasa ahli epidemologi satunya lagi ahli kesehatan," kata salah satu kuasa hukum HRS, Sugito Atmo saat ditemui sebelum persidangan dimulai, Senin (17/5/2021). 

Nama-nama saksi ahli yang dihadirkan pihak kuasa hukum Rizieq Shihab, yakni Dokter Tonang Dwi, Ahli Epidemiologi; M. Luthfi merupakan Ahli Bahasa dari UI; kemudian terakhir Frans Ahli Hukum Kesehatan. 

Ahli Hukum Kesehatan dari Universitas Gajah Mada (UGM), M Luthfi Hakim, menilai bahwa seseorang tidak bisa dipidana lagi atau dikenai sanksi double bila dalam kasus kerumunan atau pelanggaran protokol kesehatan sudah dikenai saksi denda.

Hal itu disampaikan Luthfi ketika dihadirkan sebagai saksi ahli dalam sidang lanjutan Habib Rizieq Shihab kasus kerumunan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (17/5/2021).


Saat salah satu kuasa hukum Rizieq dalam persidangan bertanya kepada Luthfi sebagai saksi ahli terkait dengan adanya seseorang yang menggelar acara halal bi halal namun justru menimbulkan kerumunan.

Kemudian orang yang ciptakan kerumunan itu didatangi otoritas pemerintah setempat untuk memberikan hukuman sanksi denda.


"Apakah menurut ahli penyelesaian pembayaran sanksi administrasi itu masih bisa kena pidana lagi?," tanya kuasa hukum Rizieq.

Luthfi kemudian memberikan jawaban. Ia menilai seseorang yang sudah dikenakan sanksi denda administrasi tidak bisa dikenakan lagi sanksi pidana. Menurutnya, sanksi denda sudah lebih dari cukup.

"Tidak bisa, karena apa? Karena sanksi (administrasi) itu merupakan sudah hukuman yang sudah memulihkan jadi sudah memulihkan suatu situasi masyarakat pada kondisi semula," jawab Luthfi.

Untuk diketahui, dalam kasus kerumunan Petamburan, Rizieq didakwa telah melakukan penghasutan hingga menciptakan kerumunan di Petamburan dalam acara pernikahan putrinya dan maulid nabi Muhammad SAW. Akibatnya, ia terjerat kasus pelanggaran protokol kesehatan Covid-19.Rizieq sendiri sudah membayar denda terkait pelanggaran itu sebanyak Rp 50 juta. 

Sementara dalam kasus kerumunan Megamendung, Rizieq didakwa telah melanggar aturan kekarantinaan kesehatan dengan menghadiri acara di Pondok Pesantren Agrokultural Markaz Syariah, Megamendung, Puncak, Kabupaten Bogor 13 November 2020 lalu.***