Fee Paket Bansos yang diterima Anak Buah Eks Mensos Juliari Senilai Rp1,28 Miliar

Fee Paket Bansos yang diterima Anak Buah Eks Mensos Juliari Senilai Rp1,28 Miliar
Harry Van Sidabukke terdakwa kasus suap dana bansos Covid-19 di Kementerian Sosial

Wjtoday, Jakarta  - Konsultan hukum sekaligus terdakwa kasus korupsi bantuan sosial (bansos) penanganan Covid-19, Harry Van Sidabukke, mengungkapkan permintaan fee Rp2.000 per paket bansos sembako dari Matheus Joko Santoso selaku anak buah mantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara.

Harry menyatakan secara keseluruhan ia memberi uang fee senilai Rp1,28 miliar dari 1,59 juta paket yang dikerjakan oleh PT Pertani dan PT Mandala Hamonangan Sude kepada Matheus Joko Santoso.

"Rp1,28 miliar dari 1,59 juta paket yang dikerjakan oleh Pertani dan Mandala," ujar Harry di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Senin (24/5/2021). 

Harry juga mengungkapkan, awal mulanya dirinya ditawari untuk membayar fee Rp 2000 per paket bansos. Namun dirinya menolak, dan hanya menyanggupi membayar Rp 1500 per paket.

"Permintaannya Rp2000 pak, namun tidak saya sanggupi. Lalu disepakati itu, kurang lebih Rp1.500," kata Harry.

Joko sebelumnya menjabat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek pengadaan Bansos Covid-19 yang juga termasuk anak buah dari Mantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara.

Majelis Hakim pun kembali mengorek keterangan Harry terkait untuk digunakan sebagai apa uang fee tersebut.

"Informasi dari pak Matheus Joko untuk operasional fee," kata Harry.

"Saudara sendiri sebagai pembawa Pertani dan Mandala, uang sejumlah Rp1,28 saudara ambil dari mana?," tanya Hakim lagi 

"Dari fee saya," jawab Harry.

Harry juga menyebut bahwa fee yang diberikan tidak memengaruhi kualitas maupun kuantitas sembako yang menjadi hak penerima manfaat. 

"Apa indikatornya enggak mengurangi kualitas dan kuantitas?" tanya hakim. 

"Sebelum kami beli barang dan menyalurkan barang, barang tersebut sudah dikomunikasikan di Kementerian Sosial, jadi harus di-approval di Kementerian Sosial. Barang-barangnya, keuntungannya, bagaimana cara mendistribusikannya itu harus di-approval dari Kementerian Sosial," jawab Harry.

Mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara didakwa menerima suap Rp32.482.000.000 (Rp32 miliar) dari para pengusaha yang menggarap proyek pengadaan Bantuan Sosial (Bansos) untuk penanganan Covid-19.

Puluhan miliar uang dugaan suap untuk Juliari Batubara itu berkaitan dengan penunjukan sejumlah perusahaan penggarap proyek bansos Covid-19. Perusahaan itu di antaranya PT Pertani, PT Mandala Hamonganan Sude, dan PT Tigapilar Agro Utama.

Uang Rp32 miliar itu diduga diterima Juliari Batubara melalui Plt Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Kemensos, Adi Wahyono, yang juga Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek pengadaan Bansos Covid-19, Matheus Joko Santoso.

Rincian uang yang diterima Juliari melalui Adi Wahyono dan Matheus Joko yakni berasal dari Konsultan Hukum, Harry Van Sidabukke senilai Rp1,28 miliar; dari Presiden Direktur PT Tigapilar Agro Utama, Ardian Iskandar Maddanatja, sejumlah Rp1,95 miliar, serta Rp29 miliar berasal dari para pengusaha penyedia barang lainnya. ***