Ekowisata Kebo Burangrang, Kesejukan Hutan Pinus di Purwakarta

Ekowisata Kebo Burangrang, Kesejukan Hutan Pinus di Purwakarta
Kebo Burangrang, ekowisata di kawasan hutan pinus Purwakarta. (pr)

WJtoday, Bandung - Kabupaten Purwakarta memiliki luas wilayah 825,74 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 992,86 ribu jiwa (sumber BPS Kabupaten Purwakarta) dan terbagi menjadi 17 kecamatan. Meskipun wilayahnya kecil namun Purwakarta memiliki keindahan alam yang tidak kalah cantik dengan daerah lainnya.

Daerah Purwakarta termasuk yang daerah yang beriklim panas namun tidak semua wilayah di Purwakarta beriklim panas. Salah satu wilayah di Purwakarta yang udaranya sejuk bahkan dingin ketika di malam hari adalah Kecamatan Wanayasa.

Kecamatan Wanayasa memiliki banyak potensi wisata yang sangat indah yang terdiri dari air terjun, danau, gunung, perkebunan teh, maupun hutan pinus. Dan salah satu objek wisata yang layak dikunjungi adalah kawasan hutan pinus Kebo Burangrang.

Kebo Burangrang merupakan area kawasan Hutan Pinus yang meskipun berada di daerah Wanayasa Purwakarta namun pengelola hutan tersebut beda di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Wanayasa, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Cisalak, KPH Bandung Utara.

Ekowisata Kebo Burangrang terletak di daerah Kampung Pari Desa Sumurugul Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta. Ekowisata ini sebetulnya sudah dibuka di bulan Desember 2020 dan karena situasi pandemi yang semakin meningkat jumlahnya dan berpengaruh pada sektor pariwisata maka semua tempat wisata saat itu tutup. 

Dan semenjak September 2021 kemarin, area wisata di Purwakarta sudah dibuka kembali termasuk Kebo Burangrang.

Kawasan ekowisata ini dikelola atas inisatif warga setempat yang tergabung di LMDH Desa Sumurugul, mereka ingin mengembangkan potensi wisata berupa kawasan hutan pinus di daerahnya sekaligus untuk membantu perekonomian warga. 

Menurut Pak Rahmat Amin salah satu pengelola Kebo Burangrang mengatakan KPH Bandung Utara mendukung sangat dibukanya Kebo Burangrang sebagai kawasan Ekowisata apalagi pengelolaan ini tanpa merusak keasrian hutan pinus tersebut.

Dia menyebutkan area ekowisata hutan pinus tersebut dinamakan Kebo Burangrang karena sebelumnya area tersebut dijadikan warga setempat sebagai tempat memberi makan sapi yang dalam Bahasa Sunda sering disebut kebo dan Burangrang sendiri adalah nama gunung yang terletak di daerah tersebut.

Kawasan Kebo Burangrang sangat asri, sangat sejuk dan membuat betah padahal pembangunan areanya belum 100 persen mengingat kawasan ini sempat ditutup lama pada saat PSBB maupun PPKM. 

Adapun yang membedakan hutan pinus Kebo Burangrang dengan kawasan hutan pinus lainnya selain untuk area berkemah, juga terdapat beberapa rumah pohon dan bangunan dari bambu hasil rancangan Pak Rahmat yang juga seorang arsitek. 

Kelak nantinya di kawasan ini akan dibangun taman edukasi, area pertunjukkan di hutan pinus, dan akan dibangun jalur menuju kawasan air terjun dan masih banyak lagi. Rumah pohonnya pun nanti akan dibuat lebih banyak lagi sehingga masyarakat bisa menginap di rumah pohon tersebut tentunya dengan biaya yang terjangkau.  ***
(Sumber: Kompasiana)