Doa yang Selalu Ia Langitkan Terkabul, Kuli Bangunan Asal Madiun Bisa Berangkat Haji

Doa yang Selalu Ia Langitkan Terkabul, Kuli Bangunan Asal Madiun Bisa Berangkat Haji
Mohammad Djaelani, jemaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 7 Embarkasi Surabaya. Bapak dari tiga orang putra asal Saradan Madiun ini tak menyangka doa yang selalu ia langitkan selama ini akhirnya berwujud nyata. (dok kemenag)

WJtoday, Bandung - Pria berperawakan kecil di koridor Asrama Haji Embarkasi Surabaya siang itu beberapa waktu lalu. Terlihat begitu gesit dan bersemangat bersama jemaah haji lainnya. Aura bahagia terpancar jelas dari wajah keriputnya.

Dialah Mohammad Djaelani, jemaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 7 Embarkasi Surabaya. Bapak dari tiga orang putra asal Saradan Madiun ini tak menyangka doa yang selalu ia langitkan selama ini akhirnya berwujud nyata.

Djaelani bukanlah pekerja kantoran yang mendapatkan penghasilan tetap setiap bulan. Ia harus mengumpulkan rupiah demi rupiah melalui tetesan keringatnya sebagai seorang kuli bangunan demi mewujudkan harapannya menunaikan rukun Islam kelima.

"Saya ini orang miskin, tidak ada bayangan saat itu untuk bisa naik haji. Wong buat makan aja saya mesti susah payah jadi kuli bangunan," tutur Djaelani mengawali kisahnya, dikutip dari rilis Kemenag, Senin (20/6/2022).

Tahun 1980, Djaelani mulai mengais rejeki di perantauan sebagai kuli bangunan. Meski tak tentu penghasilan yang bisa ia dapatkan, Djaelani tak lupa menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk ditabung.  

"Tahun 2007, uang tabungannya saya terkumpul 5 juta rupiah. Uang itu saya gunakan beli sapi," kenang pria yang kini berusia 62 tahun ini.

Dua tahun berlalu, Djaelani menjual sapinya seharga 8 juta rupiah. Uang tersebut lantas ia belikan tanah seharga 10 juta rupiah, dengan mencari pinjaman bank untuk menutupi kekurangannya.

Di saat itu, keinginannya pergi haji pun makin membuncah. Ia bernadzar dalam hati, bila ada yang mau membeli tanahnya, maka uangnya akan ia gunakan untuk daftar haji.

Ternyata keinginan kuat Djaelani untuk berhaji didengar dan dikabulkan oleh Sang Maha Pengasih. Ketika Allah sudah berkehendak, maka jadilah.. Seorang dermawan mau membeli tanah Djaelani seharga 25 juta rupiah.

"Tanah saya, yang harganya 10 juta, tidak pake ditawar langsung dibeli seharga 25 juta. Alhamdulillah, uangnya pas buat daftar haji," ungkap Djaelani terharu.

Setelah itu, keberuntungan pun berpihak padanya. Seorang nadzir desa menawarinya untuk membantu tugas modin desa dalam mengurus jenazah. Ia lakoni tugas tersebut dengan tetap menjalani pekerjaannya sebagai kuli bangunan. 

"Jadi modin ngurus jenazah, ya kerja seikhlasnya, bayaran seikhlasnya dari Gusti Allah. Saya juga masih tetap kerja bangunan," tuturnya.

Djaelani pun tak menutup mata untuk biaya pelunasan hajinya. Ia pun kembali menabung untuk membeli sapi lagi.

"Alhamdulillah, saya bisa melunasi biaya haji saya dari jualan sapi lagi. Sekarang sapi saya sudah habis," ujar Djaelani sumringah.

Di akhir perbincangan, lelaki beruban penuh ini  menuturkan hal yang paling utama dalam mendaftar ibadah haji adalah memiliki keinginan yang sangat kuat. 

"Insya Allah kalau niat kita sudah bulat, Allah akan bukakan jalan dari pintu mana saja, bahkan yang tidak terduga sekalipun," pungkasnya.  ***