Dinasti Politik di Jawa Barat Tak Pernah Berakhir Baik

Dinasti Politik di Jawa Barat Tak Pernah Berakhir Baik
istri Bupati Bandung Dadang Naser, Kurnia Agustina yang berlaga di Pemilihan Bupati Kabupaten Bandun
Westjavatoday, Bandung - Dinasti politik tak pernah berakhir baik. Selain menyuburkan praktik nepotisme, itu juga rentan melahirkan perkara rasuah. 

Dinasti politik yang telak eksis di Indonesia sejak bertahun-tahun silam menghasilkan konsekuensi yang berbahaya bagi kualitas demokrasi kita. Apalagi jika terindikasi ada pembiaran dari para pejabat yang anak, kerabat, atau saudaranya mencalonkan diri di pemilu dengan memanfaatkan coattail effect dirinya. 

Di Jawa Barat sendiri dalam Pilkada serentak 2020, ada 2 orang yang maju dari dinasti politik yang ada. Yakni Daniel Muttaqien Calon Bupati Indramayu, serta istri Bupati Bandung Dadang Naser, Kurnia Agustina yang berlaga di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bandung.

Kurnia Agustina adalah anak mantan Bupati Bandung periode 2000-2010 Obar Sobarna. Sementara Dadang Naser yang kini masih menjabat adalah menantu dari Obar Sobarna. Ini artinya, selama 20 tahun Kabupaten Bandung dipimpin oleh Dinasti Obar Sobarna.

Menurut Ketua Komite Nasional Pemuda Demokrat (KNPD) Kabupaten Bandung Wilopo Satrio Prakoso, majunya Kurnia Agustina menjadi salah satu contoh konkret praktik dinasti politik. 

Sebagai generasi muda, Wilopo merasa prihatin dengan sikap abai Bupati Bandung Dadang Naser terhadap berkembangnya praktik politik dinasti di Kabupaten Bandung. 

Menurutnya, praktik ini sangat berbahaya bagi masa depan demokrasi, lantaran secara tidak langsung bakal menghambat proses kaderisasi partai politik dan regenerasi kepemimpinan secara terbuka.


Ketua Komite Nasional Pemuda Demokrat (KNPD) Kabupaten Bandung Wilopo Satrio Prakoso

“Pandangan saya, politik yang modern mestinya berbasis sistem merit, sehingga kita dapat memaksimalkan unsur-unsur kebaikan dalam masyarakat, termasuk menjaga keberlangsungan sistem kaderisasi partai dan kaderisasi kepemimpinan,” ungkap Wilopo, Rabu (02/12/2020).

Mestinya, imbuh Wilopo, Bupati Bandung memberi teladan yang baik kepada masyarakat dalam melaksanakan nilai-nilai demokrasi, alih-alih memanfaatkan celah hukum untuk menyuburkan praktik dinasti politik.

"Dinasti politik ini berakibat sangat buruk pada monopoli kekuasaan, macetnya demokratisasi dalam kepemimpinan di Kabupaten Bandung. Dan ini akan menimbulkan dugaan korupsi dan saling melindungi dan menimbulkan macetnya pembangunan," jelasnya.

Para sesepuh dan Tokoh Jawa Barat sendiri,  tambah Wilopo, telah bersuara dan berteriak keras agar di Kabupaten Bandung segera diakhiri Dinasti Obar Subarna. Tentu saja ini bukan tanpa alasan.

Dalam catatan Wilopo, dinasti politik di Jawa Barat tak pernah berakhir baik. Selain menyuburkan praktik nepotisme, juga rentan melahirkan perkara rasuah. Berikut catatannya :

1. Istri Dada Rosada maju di Pilwalkot Bandung kalah, kemudian Dada Rosada bermasalah hukum sekarang masih di LP Sukamiskin.

2. Di Cimahi, Wali Kota Cimahi periode 2012-2017 Atty Suharti bersama suaminya, Itoc Tochija, menjadi terpidana kasus penerimaan suap terkait proyek pembangunan pasar di Cimahi, dengan nilai total proyek mencapai Rp57 miliar. Atty dan suaminya diringkus petugas KPK setelah diduga menerima suap dari dua pengusaha. Itoc sendiri adalah Wali Kota Cimahi dalam dua periode sebelumnya. Posisinya kemudian digantikan oleh istrinya, Atty Suharti.Itoc kemudian meninggal dunia masih dalam tahanan.

3. Di Kabupaten Bandung Bandung, Istri Bupati Abu Bakar, Elin Suharliah maju sebagai calon Buapti. Elin kalah karena saat berlangsung Pilkada, Abu Bakar kena OTT Kasus Suap oleh KPK. Abu Bakar kemudian meninggal.

4. Di Kabupaten Indramayu, istri Bupati Yance, Ana Sophiana menang di Pilkada Indramayu tapi di pertengahan mengundurkan diri karena harus mengurus suami yang sakit. Usai menjalani tahanan dalam kasus suap, Yance kemudian berurusan dengan masalah lain. Yance kemudian meninggal dunia.

5. Di Kota Banjar istri Walikota Herman Sutrisno menang di pilkada Kota Banjar, tetapi sekarang sedang menjalani pemeriksaan di KPK.

6. Istri Bupati Aang Hamid gantikan posisi suaminya di Kabupaten Kuningan. Utje Ch Hamid Suganda dilantik menjadi Bupati Kuningan periode 2013-2018, namun hanya 3 bulan setelah pelantikan meninggal karena sakit.

7. Di Kabupaten Cirebon, Istri Bupati Cirebon Dedy Supardi, Rd Sri Heviyana Supardi juga mencalonkan diri sebagai Bupati Cirebon periode 2013-2018 meskipun akhirnya kalah.

"Yang menang dan masih menjalankan roda pemerintahan sampai sekarang hanya Istri Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta," jelas Wilopo.

"Rakyat Kabupaten Bandung akan menanggung biaya besar dan politik dinasti yang langgengkan kekuasaan secara turun temurun. Korupsi akan menggerogoti birokrasi kabupaten, akibat politik dinasti yang saling melindungi. Saatnya kita hentikan," pungkas Wilopo.***