Dilaksanakan Setiap 10 Muharram, Berikut Niat hingga Keutamaan Puasa Asyura

Dilaksanakan Setiap 10 Muharram, Berikut Niat hingga Keutamaan Puasa Asyura
Ilustrasi Puasa Tasua dan Asyura. (WJtoday)

WJtoday, Bandung - Puasa Asyura dilakukakn setiap 10 Muharram. Puasa Asyura merupakan salah satu puasa Sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan Muslim. 

Lantas, bagaimana bacaan niat puasa Asyura? 

Puasa Asyura ini dikerjakan tiap tanggal 10 Bulan Muharram. Tahun ini, puasa asyura jatuh pada hari Senin, 8 Agustus 2022. 

Keutamaan Puasa Asyura 

Adapun keutamaan puasa Asyura tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abu Qatadah, bahwa shaum tersebut bisa menghapus dosa-dosa kita selama setahun yang telah lalu (HR Muslim 2/819). 

Imam An Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas beliau berkata: “Yang dimaksud dengan kaffarat (penebus) dosa adalah dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di sisi-Nya.” 
Keutamaan puasa asyura lainnya merupakan sebaik-baik puasa (sunnah) setelah Ramadhan. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu anhu.

 أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم 

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim). 

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An Nawawi menyebutkan bahwa, “Hadits ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.” 

Hukum Puasa Asyura

Asyura berasal dari kata asyara, artinya bilangan sepuluh.  

Hukum puasa Asyura adalah sunnah; maksudnya dianjurkan dan berpahala bagi yang mengerjakannya namun tidak berdosa bagi yang tidak mengerjakannya.

Niat Puasa Asyura 

Niat puasa sunnah seperti halnya puasa Asyura sebaiknya dilakukan malam hari berbarengan dengan makan sahur karena mengandung keberkahan. Namun, boleh juga membaca niat puasa di pagi hari jika terlupa atau terlewat hingga pagi hari selagi belum menyantap makanan maupun minum.

Niat puasa Asyura harus ditanamkan dalam hati dan boleh dilafalkan untuk memantapkan amal ibadah yang akan dilakukan dan menyelaraskan lisan dengan hati. 

Ustadz Isnan Anshory MA dari Rumah Fiqih Indonesia menjelaskan, dalam fiqih niat itu harus sudah terpasang sejak semalam, batas paling akhirnya ketika fajar shubuh hampir terbit. 
Namun para ulama sepakat bahwa ketentuan untuk berniat sejak sebelum terbitnya fajar hanya berlaku untuk puasa yang hukumnya fardhu, seperti puasa Ramadan, puasa qadha’ Ramadan, puasa nadzar dan puasa kaffarah. 

Sedangkan untuk puasa yang bukan fardhu atau puasa sunnah, para ulama sepakat tidak mensyaratkan niat sebelum terbit fajar. Jadi boleh berniat puasa meski telah siang hari asal belum makan, minum atau mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa. 

Hal tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika masuk ke rumah istrinya dan berniat untuk makan, namun ternyata tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Maka kemudian Rasulullah SAW spontan berniat untuk melakukan puasa.

 دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ ذَاتَ يَوْمٍ فقال: هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاء؟ فقُالْنَا: لاَ. قَالَ: فَإِنيِّ إِذاً صَائِم 

"Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah SAW datang kepadaku pada suatu hari dan bertanya, “Apakah kamu punya makanan?”. Aku menjawab, ”Tidak”. Beliau lalu berkata, ”Kalau begitu aku berpuasa”. (HR. Muslim) 

Para ulama menyimpulkan bahwa puasa ini adalah puasa sunnah dan bukan puasa wajib. Sebab kalau seandainya puasa ini puasa wajib, tentunya Rasulullah SAW tidak mungkin siang-siang datang ke rumah istri Nabi SAW sambil berniat untuk makan di siang hari. 
Terkait melafadzkan niat, Ustadz Isnan Anshory mengatakan, para ulama sepakat menyatakan bahwa melafazkan niat di setiap ibadah hukumnya sunnah dengan menserasikan antara lafaz niat dengan niat yang ada di hati. 

Berikut Bacaan Niat Puasa Asyura:

 نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati asyura lillahi ta‘ala. Bacaan niat puasa Asyura lainnya:

 نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُوْرَاءَ سُنَّةً لِلهِ تَعَالى 
Nawaitu Shouma 'Aasyuuro Sunnatan Lillahi Ta'ala. 
"Aku niat berpuasa 'Asyuro (hari kesepuluh Muharam) sunnah karena Allah Ta'ala". Bacaan Niat Puasa Asyura setelah Fajar atau Pagi Hari

 نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى 

“Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnati asyura lillahi ta‘ala.” 
Artinya, “Aku berniat puasa sunah Asyura pada hari ini karena Allah SWT.” 

Bolehkah Puasa Asyura Dilakukan Tanpa Didahului Tasua?

Di bulan Muharram, ada berbagai amalan yang bisa mendatangkan pahala jika dikerjakan. Salah satu amalan yang dianjurkan yakni melaksanakan puasa Tasua dan Asyura atau puasa di tanggal 9 dan 10 Muharram.

Meskipun tampak seperti satu kesatuan, kenyataannya kedua puasa ini berbeda. Pahala yang didapatkan pun tentu akan berbeda. 

Lalu bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua atau keduanya harus dikerjakan bersama-sama?

Puasa 10 Muharram atau yang dikenal dengan nama puasa Asyura memang sangat dianjurkan untuk dikerjakan dalam agama Islam. Puasa ini juga memiliki ladang amalan yang luar biasa. Barang siapa yang berpuasa di hari tersebut Allah SWT akan mengampuni dosa satu tahun lalu dari orang tersebut.

Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, keutamaan puasa Asyura atau puasa 10 Muharram juga dijelaskan dalam Fathul Mu'in karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari.

و) يوم (عاشوراء) وهو عاشر المحرم لأنه يكفر السنة الماضية كما في مسلم (وتاسوعاء) وهو تاسعه لخبر مسلم لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع فمات قبله والحكمة مخالفة اليهود ومن ثم سن لمن لم يصمه صوم الحادي عشر بل إن صامه لخبر فيه

Artinya, "[Disunahkan] puasa hari Asyura, yaitu hari 10 Muharram karena dapat menutup dosa setahun lalu sebagai hadits riwayat Imam Muslim. [Disunahkan] juga puasa Tasua, yaitu hari 9 Muharram sebagai hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, 'Kalau saja aku hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa Tasua."

Tetapi Rasulullah SAW wafat sebelum Muharram tahun depan setelah itu. Hikmah puasa Tasua adalah menyalahi amaliyah Yahudi. Dari sini kemudian muncul anjuran puasa hari 11 Muharram bagi mereka yang tidak berpuasa Tasua. Tetapi juga puasa 11 Muharam tetap dianjurkan meski mereka sudah berpuasa Tasua sesuai hadits Rasulullah SAW.

Jadi bolehkan bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua?

Puasa di tanggal 9 dan 11 Muharram yang kemudian dikenal dengan sebutan puasa Tasua memang dianjurkan. Ini dilakukan agar puasa pada 10 Muharram atau puasa Asyura berbeda dengan kegiatan yang dilakukan kaum Yahudi.***