Dijagokan Jadi Capres 2024 Mewakili Tokoh Jabar, Begini Respon Ridwan Kamil

Dijagokan Jadi Capres 2024 Mewakili Tokoh Jabar, Begini Respon Ridwan Kamil
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil

WJtoday, Bandung - Meski Pemilu 2024 masih tiga tahun lagi, beberapa lembaga survei sudah merilis perhitungan elektabilitas para tokoh politik

Nama Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat selalu muncul dalam bursa calon Presiden atau wakil Presiden di gelaran pemilihan presiden (Pilpres) Pilpres 2024 mendatang. Kadar popularitas dan elektabilitas Ridwan Kamil hampir selalu masuk dalam survei sebagai peringkat lima besar.

Sejumlah elemen masyarakat diketahui juga turut mendukung Ridwan Kamil  maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024.

Dorongan juga muncul dari organisasi masyarakat Angkatan Muda Siliwangi (AMS) saat merayakan ulang tahun, AMS mengharapkan agar tokoh politik asal Jawa Barat bisa manggung di kancah politik level nasional.

Ketua Umum AMS Noeri Firman mengatakan, selama ini masih sedikit orang dari suku Sunda yang masuk jajaran pemerintahan. Apalagi duduk sebagai orang nomor satu  di Indonesia sampai sekarang belum ada.

"Geus wayah mapag ku Sunda Mimpin Nagara. (Sudah saatnya orang Jawa Barat menjadi Pemimpin Negara)," ujar Noeri ditemui saat peringatan AMS di Kampus Widyatama.

Noeri belum menyebutkan secara spesifik siapa tokoh Jawa Barat yang akan didukung AMS dalam pemilihan Presiden nantinya. Namun beberapa nama termasuk Ridwan Kamil masuk radar dukungan AMS.

"Yang penting harus dari Jawa Barat, saya kira banyak orang Jawa Barat ada Pak Ridwan Kamil, Pak Airlangga, Pak Anis Baswedan yang katanya berdarah Kuningan, ada Pak Andhika Perkasa, calon Panglima, kita belum tahu," katanya.

"Saya kira banyak orang Jawa Barat ada Pak Ridwan Kamil, Pak Airlangga, Pak Anis Baswedan yang katanya berdarah Kuningan, ada Pak Andhika Perkasa. Kita akan dukung," kata dia di Universitas Widyatama, Kota Bandung, Rabu (10/11).

Salah satu alasan kenapa orang Jawa Barat harus memimpin negara, kata dia, karena orang Jawa Barat memiliki karakter kesundaan seperti suka damai dan menjunjung tinggi kebersamaan.

"Kami menginginkan orang Sunda (Jawq Barat) memimpin Negara. Negeri ini saya lihat sudah porak poranda oleh perilaku politisi yang kurang pada tempatnya dan orang Jawa Barat tidak punya perilaku seperti itu," ucapnya.

Menurut Noeri, Ridwan Kamil dan Airlangga sendiri merupakan dua tokoh yang representatif untuk didorong menjadi Presiden 2024.

"Pak Airlangga ketua partai dan Pak Emil Gubernur Jabar, mari kita dorong agar tokoh-tokoh ini menjadi tuan di Jawa Barat," katanya.

Di tempat terpisah, Ridwan Kamil mengapresiasi dukungan dari berbagai elemen berkaitan dengan Pilpres 2024. Ia menyadari, isu mengenai hal ini sudah menghangat. Pria yang akrab disapa Emil itu mengaku keterkaitannya sebagai kontestan Pilpres tak bisa dihindari. Sebab, tafsir politik kerap mengiringi setiap aktivitasnya.

“Hari-hari ini, semua kalau sudah ngomongin politik tidak bisa dihindari urusannya 2024, kemana saya pergi pertanyaannya selalu itu. Tadi juga ada Dubes Uni Eropa menyentil juga isu politik (pilpres). Jadi tidak bisa dihindari,” ucap dia di Gedung Sate.

“Tiap elemen masyarakat punya cita-cita, keinginan. Kalau AMS tadi menyatakan begitu dan menyebut saya, ya saya bersyukur, berterimakasih. Sambil tetap saya, tolong dicatat, fokus memberikan komitmen-komitmen di Jabar yang sempat terkendala oleh Covid-19. Kemudian juga melihat bahwa elektoral juga berhubungan dengan kinerja. Kalau kinerja baik, ya pasti elektoral baik,” ia melanjutkan.

Berkaitan dengan elektoral, Ridwan Kamil menilai bahwa survei yang saat ini sudah dikeluarkan berbagai lembaga belum bisa dijadikan patokan. Ia berkeyakinan, berdasarkan pengalamannya dua kali mengikuti kontestasi politik, survei individu belum bisa menjadi rujukan.

Semua elektabilitas elektoral menjadi acuan dan lebih akurat saat ada sosok calon yang sudah berpasangan.

“Tapi kan saya punya politik tau diri. Harus mengukur. Mampu atau tidak, yang elektabilitasnya memadai atau tidak, walaupun tidak jaminan yah mengukur dua tahun mendatang dari perhitungan sekarang,” jelas dia.

“Saya ini alumni dua kali pilkada. Waktu jadi walikota startnya jelek akhirnya menang. Mengukur takdir itu di era sekarang masih jauh. Bahkan sering saya sampaikan bahwa namanya survei baru individual, padahal yang sebenarnya survei itu setelah berpasangan,” kata Ridwan Kamil.

“Bisa aja yang survei hari ini ranking satu berpasangan dengan ranking lima, yang survei ranking dua dipasangkan dengan tiga. Baru disurvei elektabilitas sebagai pasangan menurut saya lebih akurat,” pungkasnya.***