Dicibir Usai Disebut Bela Taliban, Pengamat: Peluang JK jadi Presiden di 2024 Semakin Menipis

Dicibir Usai Disebut Bela Taliban, Pengamat: Peluang JK jadi Presiden di 2024 Semakin Menipis
Mantan Wapres RI, Jusuf Kalla./twitter

WJtoday, Jakarta - Sosok Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI, Jusuf Kalla atau JK belakangan tampil dan kembali jadi perbincangan publik lantaran kerap memberikan tanggapan terkait kemenangan Taliban di Afghanistan. 

Lantas bagaimana peluang JK dalam Pemilhan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang?

Pengamat komunikasi politik sekaligus Dewan Pakar Asosiasi Pembicara Profesional Indonesia, Emrus Sihombing mengomentari peluang JK dalam kompetisi Pemilihan Umum 2024 mendatang.

Emrus menilai, JK tak memiliki kesempatan yang menjanjikan apabila maju jadi Calon Presiden (Capres) di 2024.

Posisi JK sendiri saat ini tidak terlalu kuat seperti pada ajang Pemilu sebelumnya.

“Jika maju menjadi calon presiden, JK tidak begitu kuat lagi,” kata Emrus dikutip dari Genpi pada Rabu (25/8/2021).

Emrus menjelaskan, sejauh ini belum ada partai politik yang tertarik atau berminat untuk mengusung JK menjadi capres.

Di samping itu, kata Emrus, Partai Golkar yang pernah dipimpin JK juga sudah mempunyai pilihan capres potensial lainnya.

Makanya sangat kecil kemungkinan partai yang pernah mengusung dirinya itu untuk kembali mendorong JK.

Partai kuning berlogo pohon beringin ini sendiri belakangan sudah memastikan bahwa tiket capres sudah dipegang oleh Ketua Umumnya, Airlangga Hartarto.

“Sebab, mereka sudah memutuskan bahwa Airlangga Hartarto akan diusung menjadi capres,” ujarnya.

Meski begitu, Emrus memandang bahwa JK masih mempunyai pengaruh yang cukup jika menjadi aktor di belakang panggung pada Pilpres 2024.

Hal itu terbukti beberapa waktu lalu ketika Pilkada DKI Jakarta digelar, JK mengaku sempat meminta ke sejumlah partai untuk mau ikut bergabung mengusung Anies Baswedan.

“Jusuf Kalla punya pengaruh yang kuat untuk bisa berperan siapa calon presiden pada Pilpres 2024,” imbuhnya.

Sebagimana diketahui, JK pernah menjabat sebagai wakil presiden selama dua periode, mulai dari periode 2004-2009 dan 2014-2019. Pada periode 2004-2009, JK mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kemudian yang terakhir, dia kembali menjadi wakil presiden bersama Presiden Jokowi pada periode 2014-2019.

JK disebut dukung kelompok kudeta pemerintah

Mantan Wapres RI, Jusuf Kalla, membeberkan pengalamannya empat kali bertemu dengan para petinggi Taliban untuk membicarakan upaya damai di Afghanistan.

Pengamat politik dari Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie menanggapi pernyataan dari mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) yang sempat membahas soal keberhasilan kelompok Taliban melancarkan kudeta pemerintah Afghanistan.

Jerry menilai, pernyataan Jusuf Kalla sebenarnya sangat berbahaya terkait pernuataannya soal tidak akan ada lagi perang saudara di Afghanistan karena Kabul sudah jatuh ke tangan Taliban.

Hal itu lantaran, kata Jerry, bagaimanapun Taliban merupakan kelompok sayap kiri yang perlu diwaspadai.

Apalagi Taliban merupakan kelompok yang melakukan kudeta kekuasaan dan berusaha menggulingkan pemerinyahan Afghanistan.

“Waduh gawat, Jusuf Kalla mendukung yang mengkudeta kekuasaan dan menggulingkan pemerintah,” kata Jerry, dikutip Rabu (25/8/2021).

Dia juga mengimbau bahwa kejatuhan Afghanistan ke tangan Taliban hanya membuat terorisme menjadi ancaman nyata. Oleh karenanya, ia mengaku bingung dengan pernyataan JK yang mendukung adanya gerakan Taliban tersebut.

Di samping itu, padahal kemenangan kelompok Taliban juga bisa memicu kekhawatiran tumbuhnya Al Qaeda di Afghanistan.

“Para pejabat intelijen khawatir Afghanistan bisa menjadi magnet bagi para ekstremis,” ujarnya.***