Curhatkan Keluh-Kesahmu Hanya kepada Allah SWT

Curhatkan Keluh-Kesahmu Hanya kepada Allah SWT
ilustrasi. (WJtoday)

WJtoday, Bandung - Siapakah orangnya di dunia ini yang tidak mengalami kesulitan dan kesedihan? Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Allah ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, ada kebahagiaan, ada kesedihan, ada kesulitan, ada kemudahan dan demikian seterusnya. 

Dunia yang fana ini adalah tempat kita diuji dengan segala keadaan yang ada, untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesabaran kita kepada Allah.

Ukuran tingginya tauhid seseorang adalah selalu bersandar secara utuh kepada Allah. Seorang hamba hendaknya mengutamakan Allah dalam segala urusan karena Allah adalah Rabbnya yang telah menciptakan dan memberikan segalanya. 

Ada suatu kalimat yang patut kita renungkan yang diucapkan oleh nabi Ya’qub ‘alahis salam, ketika beliau diuji berpisah dengan salah seorang anaknya yaitu Yusuf alahi salam. Keadaan ini membuat beliau bersedih yang sangat dalam, tetapi beliau bersikap sabar dan mengadukan kesedihanya kepada Rabb semesta alam dengan ucapan sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an;

 إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللهِ 

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q.S.Yusuf 12:86). 

Inilah suatu sikap kepasrahan total kepada Allah Ta’ala dengan mengadu, dan berkeluh-kesah hanya kepada-Nya.

Kita prihatin di zaman sekarang ini, tidak sedikit orang yang mengadukan, menceritakan dan menunjukan kesedihan atas ujian yang meninpa kepada orang lain atau di medsos (medias sosial), dengan tujuan mengharapkan belas kasih dan perhatian dari manusia yang lemah. Tak jarang keluh kesah yang disampaikan kepada manusia atau di medsos justru menambah masalah baru, karena tidak ada jaminan untuk mendapatkan kebahagiaan dan solusi atas masalah yang dialami.

Kalimat ”إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّه“ kita wujudkan hanya untuk berkeluh-kesah, mengiba dan merendahkan diri dihadapan Sang Maha Rahman dan Rahim pada waktu-waktu yang penting, diantaranya pada sepertiga malam terakhir, karena di waktu tersebut sangat mustajab kita berdoa. 

Ketika kita mengadukan doa-doa terhadap berbagai problematika yang kita hadapi, niscaya Allah akan menolong dan menjawab doa-doa kita, karena Allah sangat dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُون

Artinya; “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Q.S Al-Baqarah 2:186).

رُوِىَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِناَهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ.

Mengutip kitab Nashaihul Ibad, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barangsiapa bangun di pagi hari kemudian mengadukan kesulitannya kepada sesama (mahkluk/manusia), maka dianngap mengadukan Tuhannya (tidak rela dengan takdirnya). Dan barangsiapa merasa sedih dengan kondisi duniawinya di waktu pagi, maka dia dianggap telah membenci Allah. Dan barangsiapa merendahkan dirinya di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh telah lenyap dua pertiga agamanya."

Berkeluh-kesahlah hanya kepada Rabb semesta alam yang maha Rahman dan Rahim yang memberi kebahagiaan dalam hati dan maha mendengar lagi mengabulkan segala doa dan permohonan yang dipanjatkan setiap hamba. Waallahu a’lam ***